UNESCO Beri Peringatan, DPR Minta Pengelola Segera Berbenah

Niam Beryl

Anggota Komisi VII DPR RI, Bane Raja Manalu, menyuarakan harapan agar status internasional kawasan Danau Toba sebagai Geopark Kaldera yang telah memperoleh pengakuan dari UNESCO tetap dipertahankan.

Menurutnya, status prestisius ini bukan sekadar simbol, tetapi memiliki nilai strategis dalam mendorong pembangunan sektor pariwisata, menjaga kelestarian ekologi, serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap warisan bumi dan pendidikan wisata.

Dalam pandangannya, pengakuan sebagai geopark global sejatinya merupakan bentuk penghargaan terhadap lingkungan hidup dan sistem ekologisnya. Tanpa penjagaan terhadap keharmonisan ekosistem, mustahil gelar tersebut tetap bisa dipertahankan.

“Status global geopark adalah pemuliaan lingkungan, pemuliaan ekosistem, mustahil kita dapat dan pertahankan status global geopark jika ekosistemnya rusak,” kata Bane dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Rabu.

Lebih lanjut, Bane menyampaikan keprihatinannya atas ketidakjelasan posisi kelembagaan Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark saat ini. Di masa pemerintahan sebelumnya, badan tersebut berada di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Namun, pasca perombakan struktur kementerian, lembaga tersebut kini seolah kehilangan rumah induknya.

Menurutnya, ketidakpastian ini berpotensi menimbulkan dampak terhadap pendanaan dan operasionalisasi badan pengelola. Seperti kendaraan tanpa bahan bakar, organisasi ini tidak dapat bergerak jika anggaran tidak tersedia.

“Kami sebagai wakil rakyat akan mendorong kepastian nomenklaturnya, karena kalau nomenklaturnya tidak jelas berinduk ke mana, maka tidak ada kepastian anggaran. Tanpa anggaran, enggak mungkin ini bisa berjalan sesuai yang diinginkan,” kata dia.

Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini UNESCO telah memberikan peringatan kepada pihak pengelola agar segera membenahi sejumlah kekurangan. Meskipun demikian, Bane optimistis bahwa tim pengelola baru mampu menjalankan amanat tersebut dalam waktu yang tersisa.

“Mudah-mudahan mereka bisa mengerjakan apa yang jadi kewajiban yang disampaikan UNESCO di sisa waktu ini,” kata dia.

Salah satu fokus perbaikan yang menjadi perhatian adalah pemasangan unsur visibilitas di 16 titik strategis di sekitar Danau Toba. Dalam konteks geopark, visibilitas berarti tanda-tanda nyata yang menunjukkan nilai geologis dan budaya suatu lokasi—baik berupa gerbang, monumen, maupun panel interpretatif.

“Dan juga ada penemuan site baru di beberapa wilayah yang akan dicek langsung oleh UNESCO. Ini kabar baik, kita harus saling bantu agar ini bisa terwujud,” katanya.

Penemuan lokasi baru yang berpotensi memperkaya narasi geologis kawasan Danau Toba juga menjadi angin segar bagi upaya pelestarian dan promosi kawasan tersebut. Dalam pandangan Bane, kolaborasi antara berbagai pihak menjadi kunci agar predikat geopark kelas dunia ini tidak hanya dipertahankan, tetapi juga mampu mengangkat harkat kawasan Toba ke panggung dunia.

Also Read

Tags