Prabowo Ungkap Warisan Sejarah Panjang RI-China di Depan Pebisnis Tiongkok

Niam Beryl

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa hubungan antara bangsa Indonesia dan Tiongkok memiliki akar sejarah yang jauh lebih dalam ketimbang sekadar jalinan diplomatik resmi yang terjalin di era modern.

Dalam acara Indonesia-China Business Reception yang berlangsung di Jakarta pada hari Sabtu, Prabowo menyampaikan pidato penuh makna yang menyoroti dimensi historis dari interaksi kedua negara.

Ia menyampaikan bahwa koneksi antara Indonesia dan China sudah terbentuk jauh sebelum adanya hubungan kenegaraan yang formal.

Mengawali sambutannya, Presiden mengajak para tamu undangan untuk menyadari betapa pentingnya momen ini sebagai babak bersejarah dalam relasi kedua negara.

“Malam ini saya berdiri di hadapan Anda semua, dengan rasa hormat dan rasa syukur, kita sekarang sedang menyaksikan sebuah momentum penting dalam sejarah hubungan antara Republik Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok,” ujar Presiden dalam sambutannya.

Menurutnya, hubungan timbal balik dalam bentuk perdagangan serta tali persaudaraan antara kedua peradaban besar ini telah berlangsung selama ratusan tahun.

Jejak-jejak hubungan tersebut dapat ditemukan dalam berbagai peninggalan sejarah yang tersebar di berbagai penjuru Nusantara.

“Dua bangsa besar yang telah menjalin persahabatan dan perdagangan selama ratusan tahun,” ujarnya.

Lebih lanjut, Presiden mengangkat kisah pelayaran ikonik Laksamana Cheng Ho ke wilayah kepulauan Indonesia sebagai lambang nyata dari relasi masa lampau yang masih meninggalkan jejak hingga kini.

Sejumlah situs dan prasasti menjadi saksi bisu dari kunjungan bersejarah tersebut.

“Pelayaran Laksamana Cheng Ho ke Nusantara sampai sekarang dikenang dan terdapat banyak monumen terhadap kunjungan tersebut, bahkan juga hubungan antara rakyat kita sangat erat,” katanya.

Presiden Prabowo pun memperluas pemahaman mengenai hubungan antarkedua bangsa ini, dengan menyinggung aspek yang lebih mendalam dari sekadar budaya dan sejarah yaitu keterkaitan biologis.

Dengan nada jenaka namun bermakna, ia menyampaikan bahwa banyak masyarakat Indonesia yang secara genetis memiliki unsur warisan dari leluhur Tiongkok.

“Saya kira di bangsa Indonesia kalau dicek genetiknya, DNA-nya, saya kira banyak DNA kita adalah DNA dari Tiongkok,” ucapnya disambut tepuk tangan hadirin.

Kunjungan Perdana Menteri Tiongkok, Li Qiang, ke Indonesia membawa serta delegasi bisnis yang terdiri atas sekitar 60 pelaku usaha besar.

Beberapa di antaranya telah menjalin kerjasama, sementara yang lainnya tengah menelusuri potensi investasi di Tanah Air.

Menteri Investasi, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa forum bisnis yang mempertemukan para pelaku usaha dari Indonesia dan China menjadi peluang strategis untuk melahirkan kesepakatan konkret yang saling menguntungkan.

Forum tersebut dihadiri oleh lebih dari 100 pebisnis dari kedua negara, menandai keseriusan dalam mempererat sinergi ekonomi lintas sektor.

Momen ini juga bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik antara RI dan China, menjadikannya lebih dari sekadar pertemuan bisnis, tetapi juga simbol perayaan kemitraan jangka panjang.

Also Read

Tags