Pengamat Hubungan Internasional, Anton Aliabbas, mengungkapkan bahwa penunjukan parlemen Indonesia sebagai tuan rumah untuk Konferensi Ke-19 Uni Parlemen Negara Anggota Organisasi Kerja Sama Islam (PUIC) pada tahun 2025 merupakan sebuah peluang strategis untuk memperkuat solidaritas internasional terhadap Palestina. Menurut Anton, dengan Indonesia menjadi tuan rumah, perhelatan ini bukan hanya sekadar memperjelas komitmen negara dalam mendorong peran aktif parlemen dalam diplomasi global, tetapi juga memberi ruang bagi Indonesia untuk mengupayakan dukungan yang lebih luas dalam perjuangan Palestina.
“Melalui peran DPR sebagai tuan rumah PUIC, Indonesia dapat mempertegas komitmennya dalam mendorong partisipasi aktif parlemen dalam diplomasi internasional, serta memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkokoh solidaritas dunia bagi Palestina,” jelas Anton dalam keterangan yang diterima di Jakarta pada Senin.
Lebih lanjut, Anton menilai bahwa diskusi-diskusi yang akan berlangsung dalam PUIC, yang ditargetkan oleh Ketua DPR RI Puan Maharani untuk menghasilkan solusi nyata terkait berbagai krisis yang dihadapi oleh negara-negara OKI, termasuk perjuangan kemerdekaan Palestina, hanya bisa tercapai jika seluruh pihak berkomitmen untuk menjaga semangat kolektif. “Konsolidasi semangat bersama dalam forum ini menjadi kunci untuk mencapai tujuan besar, termasuk mendukung kemerdekaan Palestina,” tambahnya.
Sebagai organisasi yang didirikan pada 17 Juni 1999, PUIC bertujuan mempererat kerja sama antarparlemen negara-negara OKI dalam berbagai aspek, seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Salah satu misinya adalah memperkuat peran parlemen dalam menyelesaikan tantangan-tantangan global. Anton melihat langkah ini semakin relevan, terutama karena dukungan terhadap Palestina memerlukan tindakan konkret yang tidak sekadar berbicara di atas kertas, tetapi harus ada solusi yang dapat menambah kekuatan solidaritas internasional.
Anton, yang juga mengajar di Universitas Paramadina, menegaskan bahwa untuk memperjuangkan Palestina, tindakan nyata adalah sesuatu yang tidak bisa diabaikan. “Penting bagi DPR untuk menyadari bahwa perjuangan untuk Palestina harus didorong oleh langkah-langkah konkret, bukan sekadar wacana,” ujarnya.
Menurut Anton, respons Israel terhadap berbagai seruan internasional yang semakin tidak mengindahkan tekanan global menunjukkan pentingnya memperkuat solidaritas dunia dalam menghadapi situasi yang lebih kompleks. “Di tengah ketegaran Israel, tekanan internasional yang lebih nyata sangat diperlukan, dan di sinilah kontribusi dari Indonesia, lewat DPR, akan sangat berharga.”
Sementara itu, Anton juga memberi apresiasi terhadap langkah DPR yang memperkenalkan isu kesetaraan gender dalam Konferensi Ke-19 PUIC ini. Hal ini, menurutnya, menunjukkan kemajuan Indonesia dalam memberikan ruang bagi perempuan dalam politik dan menanggapi anggapan yang sering kali meremehkan peran perempuan di negara-negara Islam.
“Sikap DPR yang mengedepankan isu partisipasi perempuan di forum internasional ini layak mendapatkan pengakuan. Ini juga sebagai jawaban atas pandangan yang menilai negara-negara Muslim kurang mendukung peran perempuan,” ungkap Anton yang juga menjabat sebagai Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE).
Anton menambahkan bahwa Indonesia, dengan Puan Maharani sebagai perempuan pertama yang memimpin parlemen, dapat berbagi pengalaman mengenai bagaimana perempuan di negara ini telah memainkan peran signifikan dalam kancah politik. “Indonesia bisa menjadi contoh bahwa perempuan dapat memiliki posisi yang setara dengan pria dalam politik, baik di tingkat nasional maupun internasional,” katanya.
Konferensi Ke-19 PUIC ini akan dihelat di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada 12 hingga 15 Mei 2025, dengan tema “Good Governance and Strong Institutions as Pillars of Resilience”. Perhelatan ini juga akan memperingati 25 tahun berdirinya PUIC, yang sejak 1999 telah berperan sebagai wadah bagi negara-negara OKI dalam memperkuat hubungan antarparlemen. Diperkirakan sekitar 500 peserta dari negara-negara OKI, termasuk negara pengamat, akan turut hadir dalam acara yang penting ini.
Melalui konferensi tersebut, Indonesia diharapkan dapat memainkan peran kunci dalam mendorong solidaritas global untuk Palestina dan isu-isu lainnya yang melibatkan negara-negara OKI.






