Dalam buku berjudul The Matchmaker, Erwin Suryadi menyoroti problematika dan rintangan struktural yang menjegal laju Indonesia untuk keluar dari perangkap negara berpenghasilan menengah (middle income trap). Karya ini bukan hanya menyajikan analisis, tetapi juga memberikan tawaran solusi lewat pendekatan lintas sektor yang dinamainya dengan konsep business matchmaking.
“Bonus demografi tidak akan berarti jika kita tidak menciptakan ekosistem yang mampu menyerap dan memberdayakan talenta lokal. Kita memerlukan pendekatan yang lebih dari sekadar mempertemukan supply & demand,” ujar Erwin dalam diskusi untuk membedah buku terbitan Penerbit Buku Kompas tersebut di Jakarta, Sabtu, dikutip dari siaran persnya.
Melalui diskusi tersebut, Erwin yang juga dikenal sebagai analis ekonomi menyampaikan kekhawatirannya terhadap ancaman disrupsi teknologi. Menurutnya, beberapa profesi akan berisiko tergantikan oleh sistem otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI) dalam waktu dekat.
“Pekerjaan seperti teller bank, kasir, entri data, akuntansi hingga staf pembukuan adalah contoh yang mulai tergantikan. Ini akan menjadi persoalan baru bagi ketenagakerjaan jika tidak diantisipasi dengan strategi yang tepat,” katanya.
Gagasan business matchmaking yang diusung Erwin bukan sekadar pertemuan antara pelaku usaha besar dan kecil, melainkan membangun hubungan jangka panjang yang saling menguatkan. Pendekatan ini bertujuan untuk menjahit sinergi antara industri raksasa, produsen lokal, pelaku UMKM, hingga institusi pendidikan.
Ia menjelaskan, dalam proses ini terdapat pendampingan aktif untuk meningkatkan mutu produk (quality), menekan ongkos produksi (price), dan menjamin keakuratan distribusi (delivery). Semua unsur tersebut saling terkait layaknya tiga kaki penyangga dalam struktur kokoh.
Menurut Erwin, inspirasi dari pendekatan ini tidak lepas dari pemikiran ekonom kawakan Prof. Soemitro Djojohadikusumo yang juga ayah Presiden Prabowo Subianto yang menentang sistem pasar bebas sepenuhnya di negara berkembang.
“Dalam pandangan Prof. Soemitro, pasar tidak akan bekerja adil tanpa kehadiran negara sebagai pengatur dan pelindung pelaku ekonomi lokal,” katanya.
Erwin menegaskan bahwa konsep business matchmaking mengandung semangat keberpihakan terhadap pelaku usaha nasional. Besar-kecilnya skala usaha bukan alasan untuk tidak bersaing secara adil jika negara mampu menciptakan sistem yang mendukung pembinaan pelaku usaha lokal.
Konsep tersebut, lanjutnya, telah mulai diimplementasikan di sektor hulu minyak dan gas melalui inisiatif Forum Kapasitas Nasional yang digagas oleh SKK Migas sejak tahun 2021.
“Pengalaman di sektor hulu migas menunjukkan bahwa ketika pelaku industri skala besar bersedia membina dan mempercayai pelaku lokal, hasilnya luar biasa. Banyak pabrikan dalam negeri yang ternyata mampu bersaing di tingkat global,” ucap Erwin.
Salah satu contoh keberhasilan yang nyata ditunjukkan oleh Direktur Utama PT Luas Birus Utama, Harris Susanto. Perusahaannya kini menjadi bagian dari rantai pasok industri migas dengan produk yang telah berhasil menembus pasar ekspor Timur Tengah.
“Kalau bukan kita yang mempercayai produk anak bangsa, siapa lagi? Akan tetapi, kepercayaan itu harus dibarengi standar kualitas dan komitmen. Pendekatan business matchmaking di Forum Kapasitas Nasional memberikan ruang dan arah agar kami bisa tumbuh,” ujarnya.
Senada dengan itu, Fery Sarjana selaku Manajer Project & Sourcing Operation Petronas Carigali Iraq Holding BV menilai bahwa keberhasilan kolaborasi ini sangat bergantung pada partisipasi aktif semua pihak yang terlibat.
Selama ini, kata Fery, UMKM atau pabrikan lokal sering merasa sendirian menghadapi tuntutan industri besar. Dengan pendekatan business matchmaking, mereka tidak hanya diberi peluang, tetapi juga ditunjukkan jalannya.
Lewat The Matchmaker, Erwin tidak semata-mata menyajikan teori ekonomi, melainkan turut menghadirkan gambaran nyata mengenai potensi kerja sama lintas sektor sebagai jalan keluar dari stagnasi ekonomi.
“The Matchmaker juga memaparkan pengalaman dari para pelaku. Harapannya praktik baik ini bisa direplikasi untuk menjadikan Indonesia benar-benar mandiri dan kompetitif secara global,” katanya.






