Sebelum Berpisah, Lima Sahabat MA Annajah Rayakan Kebersamaan di Bogor

Niam Beryl

Ada yang bilang, masa SMA adalah masa paling penuh warna dalam hidup. Di sanalah, benih-benih persahabatan tumbuh tanpa pamrih, dan ikatan emosi terjalin tanpa syarat. Hal itulah yang ingin terus dikenang oleh Najla, Andini, Kaisya, Nanda, dan Farah — lima sahabat dari MA Annajah Jakarta — sebelum mereka menapaki lembaran baru sebagai mahasiswa di perguruan tinggi yang berbeda.

Sebagai bentuk pelepas rindu dan pengikat kebersamaan yang akan diuji oleh waktu dan jarak, kelima sahabat ini memutuskan untuk melakukan perjalanan singkat ke kawasan sejuk di kaki Gunung Salak, Bogor, pada 14 hingga 18 Juni 2025. Liburan ini bukan sekadar jalan-jalan, tetapi merupakan sarana untuk menyimpan kenangan yang tak akan luntur dimakan waktu.

Didampingi oleh ayah Farah, perjalanan ini menjadi saksi bisu bahwa pertemanan mereka tidak rapuh oleh perbedaan arah hidup. Layaknya pohon yang tetap berdiri kokoh meski diterpa musim, persahabatan ini membuktikan kekuatannya melalui berbagai momen sederhana: berjalan di alam terbuka, mengunjungi Curug Nangka, memanggang makanan bersama di bawah langit malam, hingga menikmati gemerlap lampu kota yang seolah membisikkan cerita kenangan masa lalu.

Lebih dari sekadar healing, perjalanan ini juga menjadi sarana berbagi. Farah dan kawan-kawan menyempatkan diri mampir ke TBM Lentera Pustaka, sebuah taman bacaan yang dikelola untuk anak-anak kampung. Mereka tidak hanya hadir, tapi juga memberikan motivasi dan semangat kepada para pembaca cilik agar tetap mencintai ilmu dan tidak lelah belajar. Sebuah bentuk kepedulian yang tumbuh dari kebersamaan yang mereka alami selama ini.

“Aku senang banget di sini, sejuk dan menakjubkan pemandangannya. Lebih fresh dan bikin semangat untuk menempuh kuliah dan semangat dalam belajar,” ujar Nanda saat menikmati senja di Resto Mac99 sore itu.

Kalimat sederhana dari Nanda tersebut seolah mewakili perasaan yang sama dari keempat sahabatnya. Bahwa tempat yang nyaman, ditambah kehadiran teman lama, bisa menjadi bahan bakar emosional untuk melangkah lebih jauh ke dunia yang lebih serius: dunia perkuliahan.

Pengalaman ini tidak hanya akan menjadi cerita yang mereka kenang di masa mendatang, tetapi juga menjadi pengingat bahwa mereka pernah berjalan berdampingan di lorong-lorong sekolah, berbagi cemilan di kantin, bersorak di kegiatan kelas, bahkan mengeluh bersama saat tugas menumpuk. Masa SMA mereka adalah ruang kecil yang penuh makna, tempat mereka tumbuh dan saling mendukung, meski kadang tak disadari.

Healing ini seolah menjadi simbol bahwa mereka pernah mengisi hari-hari satu sama lain. Dan ketika kini hidup membawa mereka ke arah berbeda, bukan berarti persahabatan itu lenyap. Ia hanya berubah bentuk — tidak lagi berupa obrolan harian, tapi menjadi doa diam-diam, menjadi harapan agar sahabatnya tetap kuat dan bahagia di dunia barunya.

Meski intensitas komunikasi menurun dan rutinitas membuat pertemuan menjadi hal langka, ada yang tetap tinggal. Persahabatan sejati, layaknya kompas tersembunyi, tidak terlihat tapi membimbing langkah. Ia mungkin tak selalu hadir dalam bentuk fisik, tapi terasa dalam hati, seperti nyala kecil yang tak padam.

Di tengah healing ini, tersirat kesadaran baru bagi kelima sahabat tersebut. Bahwa suatu hari nanti, mereka mungkin tidak lagi bisa berjalan beriringan. Namun memori pernah berdampingan itulah yang akan menjaga hubungan ini tetap hidup. Kebersamaan yang tersimpan rapi di hati, bukan sekadar rutinitas bertemu.

Inilah momen krusial menjelang fase baru kehidupan. Seperti jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan, healing ini menjadi titik temu antara kenangan dan harapan. Dalam kehangatan pelukan sahabat lama, dalam tawa yang mengisi kabut pegunungan, dan dalam diam yang menyimpan banyak arti, pertemanan ini menemukan maknanya yang paling dalam.

Mereka mungkin bukan lagi remaja sekolah yang setiap pagi saling menyapa tanpa janji. Tapi mereka adalah individu yang tumbuh, dengan impian baru dan jalan yang berbeda, namun tetap saling menyayangi tanpa banyak kata.

Maka healing ini bukan akhir dari segalanya, melainkan tanda bahwa mereka pernah memiliki kisah yang indah. Kisah tentang persahabatan yang bukan hanya hadir saat dekat, tapi juga terasa meski berjauhan. Salam untuk kebersamaan yang tersisa, salam untuk ikatan yang tak tergantikan.

Also Read

Tags