Gigit Jari Pengusaha Hotel AS: Euforia Piala Dunia 2026 Terancam Sepi Wisatawan

Darus Sinatria

Kabar gembira yang digembar-gemborkan akan mendatangkan banjir wisatawan mancanegara ke Amerika Serikat seiring gelaran Piala Dunia 2026 tampaknya berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan. Para pelaku industri perhotelan justru dilanda kekecewaan mendalam akibat tingkat pemesanan kamar yang jauh di bawah ekspektasi, memicu rasa frustrasi di kalangan pengusaha.

Asosiasi Hotel & Akomodasi Amerika (AHLA), sebuah organisasi payung yang mewakili lebih dari 32.000 properti hotel dan mencakup lebih dari 80 persen bisnis perhotelan di seluruh negeri, melaporkan temuan yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data yang mereka kumpulkan, tren pemesanan kamar hotel di berbagai kota penyelenggara di Amerika Serikat menunjukkan grafik yang lesu, bahkan hingga tiga minggu menjelang turnamen akbar sepak bola dunia tersebut dimulai. Situasi ini tentu saja sangat kontras dengan janji-janji dampak ekonomi positif yang digaungkan sebelumnya.

Dalam rincian laporan AHLA, situasi pemesanan kamar di Kansas City, salah satu kota yang diprediksi akan mengalami lonjakan pemesanan tertinggi, pun tidak menggembirakan. Tingkat pemesanan di kota ini baru mencapai angka 88 persen, yang masih menyisakan ruang kosong yang signifikan. Lebih memprihatinkan lagi, dua kota lainnya, Atlanta dan Miami, tercatat memiliki tingkat pemesanan terendah, masing-masing hanya 48 persen dan 53 persen. Angka-angka ini jelas tidak mencerminkan geliat pariwisata yang diharapkan akan menyertai perhelatan olahraga sebesar Piala Dunia.

Kondisi ini dinilai sangat menyimpang dari pernyataan yang pernah dilontarkan oleh Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA). Badan sepak bola dunia tersebut sebelumnya secara optimistis mengklaim bahwa Piala Dunia 2026 akan menjadi katalisator penting bagi pertumbuhan ekonomi, terutama melalui sektor pariwisata. FIFA bahkan mengklaim telah berhasil menjual lebih dari lima juta tiket pertandingan, dan pada saat yang sama, mereka juga telah melakukan pemesanan sejumlah besar kamar hotel. Namun, ironisnya, banyak dari kamar yang telah dipesan tersebut kemudian dibatalkan oleh FIFA.

Fenomena ini, menurut para pengusaha hotel, menciptakan distorsi pasar yang signifikan. Harga tiket pertandingan yang dipatok terlalu tinggi secara artifisial menjadi salah satu faktor utama. Harga yang melambung tinggi tersebut tidak diimbangi dengan permintaan riil dari masyarakat, sehingga menimbulkan kesan adanya kekosongan pasar yang sebenarnya. Kenaikan harga yang tidak proporsional ini, ditambah dengan biaya transportasi lokal yang memberatkan, beban pajak yang tinggi, serta situasi politik yang kurang kondusif, secara kolektif membuat calon pengunjung enggan untuk melakukan perjalanan ke Amerika Serikat demi menonton Piala Dunia. Beberapa pihak bahkan mulai pesimis dan beranggapan bahwa gelaran Piala Dunia 2026 ini berpotensi mengalami kegagalan dalam mencapai target partisipasi internasional.

AHLA secara tegas menyatakan bahwa pemesanan kamar dalam skala besar yang dilakukan oleh FIFA di berbagai kota penyelenggara ternyata berdampak negatif pada perkiraan pendapatan, rencana rekrutmen tenaga kerja, serta persiapan operasional hotel. Asosiasi tersebut berpendapat bahwa kebijakan pemesanan kamar oleh FIFA ini telah menciptakan "permintaan buatan" yang semu, sekaligus menyembunyikan fakta bahwa jumlah wisatawan yang sebenarnya akan datang jauh lebih rendah dari yang diperkirakan. Lebih lanjut diungkapkan oleh AHLA, di beberapa kota seperti Boston, Dallas, Los Angeles, Philadelphia, dan Seattle, hingga 70 persen kamar yang awalnya diblok oleh FIFA telah dibatalkan.

Menanggapi tudingan ini, FIFA melalui juru bicaranya membantah klaim tersebut. FIFA menegaskan bahwa semua proses pelepasan kamar dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah disepakati dalam kontrak dengan mitra perhotelan. Menurut FIFA, praktik ini merupakan prosedur standar yang lazim dilakukan untuk sebuah acara berskala sebesar Piala Dunia. FIFA juga mengklaim bahwa dalam banyak kasus, pelepasan kamar justru dilakukan lebih awal dari tenggat waktu yang ditentukan demi mengakomodasi permintaan dari pihak hotel.

Lebih lanjut, juru bicara FIFA menyatakan bahwa selama proses perencanaan, tim akomodasi FIFA secara terus-menerus melakukan dialog intensif dengan para pemangku kepentingan di industri perhotelan. Komunikasi ini mencakup penyesuaian blok kamar, kesepakatan tarif, konfirmasi tipe kamar, dan pelaporan rutin. Seluruh proses ini didukung oleh pertemuan rutin dan komunikasi berkelanjutan untuk memastikan kelancaran persiapan. Meskipun demikian, pernyataan FIFA ini tampaknya belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran dan kekecewaan yang dirasakan oleh para pengusaha hotel di Amerika Serikat yang kini harus menghadapi kenyataan pahit di tengah euforia olahraga terbesar di dunia. Mereka berharap ada solusi segera agar potensi ekonomi dari gelaran akbar ini tidak terbuang sia-sia.

Also Read

Tags