Mensos Dorong Sarjana UIJ Hadirkan Ilmu untuk Kemanusiaan

Niam Beryl

Dalam sebuah momen akademik yang sakral, Menteri Sosial Saifullah Yusuf tampil di hadapan civitas akademika Universitas Islam Jember (UIJ) untuk menegaskan kembali pentingnya pendidikan sebagai kendaraan utama keluar dari keterbatasan ekonomi.

Pendidikan adalah jalan terpuji dan teruji untuk memutus kemiskinan. Mari kita gunakan ilmu untuk hadir di tengah masyarakat. Semoga ilmu yang diterima nanti akan jadi lentera bagi banyak jiwa. Dari Jember, dari UIJ untuk Indonesia, dan dari kampus ini untuk kemanusiaan,” ujar Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu.

Pernyataan tersebut ia sampaikan saat menghadiri rapat terbuka senat UIJ yang sekaligus menjadi bagian dari rangkaian acara wisuda tahun 2025 untuk jenjang Sarjana (S1) dan Diploma.

Ia menyebut, bisa menempuh pendidikan hingga menyandang gelar sarjana bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Di balik toga dan ijazah, tersimpan perjuangan yang tidak semua orang mampu jalani. Banyak anak bangsa yang harus menghentikan langkahnya lebih awal.

Data menunjukkan bahwa lebih dari 700 ribu anak di Indonesia berhenti sekolah hanya sampai tingkat SD. Lebih memprihatinkan lagi, sekitar 33 persen lulusan SMP tidak dapat melanjutkan ke SMA. Angka ini mencerminkan kenyataan pahit tentang terbatasnya akses pendidikan lanjutan di negeri ini.

Saya berdiri di sini bukan hanya sebagai Menteri Sosial, tapi sebagai bagian dari bangsa yang sedang berjuang keras menghapus kemiskinan, bukan dengan belas kasihan, tapi dengan keberpihakan yang nyata,” tegasnya.

Menurut Gus Ipul, kemiskinan bukan hanya persoalan dompet yang kosong atau kekurangan materi, melainkan perangkap yang membelenggu mimpi, membatasi kesempatan belajar, dan mengaburkan masa depan.

Maka kita harus melawannya bukan hanya dengan bantuan, tetapi dengan kebijakan yang berpihak, data yang akurat, dan semangat yang tak pernah padam,” lanjutnya dengan penuh semangat.

Guna memperkuat pijakan dalam kebijakan sosial, pemerintah kini menjadikan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai basis utama dalam menjalankan program. Ini adalah langkah strategis dalam menindaklanjuti amanat Instruksi Presiden No. 4 Tahun 2025.

Hal ini sebagai sebuah kesadaran bahwa kebijakan tanpa data adalah buta, dan bantuan tanpa kejujuran berpotensi menjadi luka bagi masyarakat,” tuturnya.

Gus Ipul menambahkan bahwa bentuk kehadiran negara tidak cukup hanya dalam bentuk dana bantuan, tetapi juga dengan menciptakan ruang-ruang pemberdayaan yang menyasar akar masalah. Salah satu upaya konkret adalah pendirian Sekolah Rakyat, yang merupakan lembaga pendidikan asrama tanpa biaya khusus untuk anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.

Ia meyakini bahwa pendidikan adalah jembatan yang mampu membawa seseorang dari ketertinggalan menuju kesejahteraan. Seperti obor di tengah kegelapan, ilmu dapat menjadi penerang masa depan.

Kami gerakkan para pendamping sosial untuk tidak hanya menyalurkan bantuan, tapi mengantar 10 keluarga per tahun keluar dari kemiskinan, bukan sekadar keluar dari data penerima, tapi benar-benar naik kelas dalam kehidupan. Karena bansos itu sementara, tapi berdaya itu selamanya. Bantuan hanyalah awal. Tujuan kita adalah kemandirian,” kata Gus Ipul dengan penuh keyakinan.

Kepada para wisudawan UIJ, Gus Ipul menitipkan pesan sarat makna. Ia mengajak mereka agar tidak hanya menjadi penghias podium diskusi, tetapi turut menjadi motor penggerak perubahan di tengah masyarakat.

Gunakan ilmu kalian untuk hadir di tengah masyarakat, bukan sekadar di atas panggung seminar. Bangun UMKM, ajari masyarakat digitalisasi, dampingi anak-anak desa belajar. Jangan hanya mengejar profesi, tapi kejarlah makna dan kontribusi. Yang tak hanya mencari pekerjaan, tapi menciptakan penghidupan bagi banyak orang,” pesannya, menutup dengan harapan besar.

Also Read

Tags