Daihatsu Tetap Stabil di Tengah Gempuran Rupiah Anjlok, Ini Rahasianya

Ricky Bastian

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kerap kali menjadi momok menakutkan bagi industri otomotif, memicu kekhawatiran akan kenaikan harga jual kendaraan. Namun, di tengah gelombang ketidakpastian ekonomi ini, PT Astra Daihatsu Motor (ADM) menunjukkan ketangguhan dengan memilih untuk tidak menaikkan harga jual mobilnya. Keputusan ini disambut baik oleh konsumen yang berencana meminang kendaraan baru dalam waktu dekat.

Sri Agung Handayani, Marketing Director dan Corporate Communication Director PT Astra Daihatsu Motor, menjelaskan bahwa meskipun sebagian komponen kendaraan masih bergantung pada impor yang berdenominasi dolar AS, ADM telah mengambil langkah-langkah strategis untuk meredam dampak fluktuasi kurs. Beliau mengungkapkan bahwa meskipun tingkat lokalisasi komponen di ADM sudah mencapai lebih dari 80%, masih ada segelintir komponen yang harus didatangkan dari luar negeri. Fluktuasi nilai tukar ini secara inheren berpotensi membebani biaya investasi perusahaan.

"Pergerakan nilai tukar yang berfluktuasi ini tentu menuntut adanya penyesuaian. Penyesuaian ini kami lakukan melalui upaya lokalisasi yang kian intensif. Di Daihatsu, di ADM, tingkat lokalisasi sudah melampaui 80%, namun tetap ada beberapa komponen yang masih kami impor. Ini pastinya memerlukan penyesuaian strategis," ujar Sri Agung Handayani dalam sebuah kesempatan saat menghadiri Konferensi Pers Daihatsu Campaign 2026 di AI DSO Astra Biz Centre, BSD Tangerang.

Untuk memastikan kelangsungan bisnis yang sehat dan berkelanjutan di tengah tekanan dari pelemahan nilai tukar, perusahaan telah merancang serangkaian jurus antisipasi. Salah satu jurus utama yang dilancarkan adalah efisiensi internal yang mendalam. Sri Agung menekankan pentingnya keberlanjutan industri otomotif nasional. "Keberlanjutan industri ini harus terus dijaga. Oleh karena itu, kami melakukan restrukturisasi biaya dan meningkatkan efisiensi di lini manufaktur kami," tegasnya.

Langkah kedua yang diambil Daihatsu adalah mempererat kolaborasi dengan para pemasok lokal. Tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan pada komponen-komponen impor. Sri Agung menambahkan bahwa diskusi intensif terus dilakukan dengan seluruh rantai pasok (supply chain) untuk bersama-sama mencari solusi pengembangan lokalisasi berbagai komponen.

Menurut Sri Agung, tekanan akibat depresiasi rupiah ini bukanlah persoalan tunggal yang dihadapi Daihatsu, melainkan sebuah tantangan kolektif yang membebani seluruh sektor manufaktur di Indonesia. "Saya berpandangan bahwa pelemahan nilai tukar ini tidak hanya berdampak pada pabrik Daihatsu. Ini akan dirasakan oleh seluruh industri yang beroperasi di Indonesia. Oleh karena itu, saya yakin akan ada berbagai penyesuaian yang dilakukan oleh semua pihak," tuturnya.

Kabar baik datang bagi para konsumen yang telah merencanakan pembelian mobil baru dalam waktu dekat. Sri Agung dengan tegas memastikan bahwa harga jual mobil Daihatsu hingga saat ini masih berada dalam posisi stabil dan belum mengalami kenaikan sejak awal tahun. "Untuk saat ini, belum ada kenaikan harga pada produk Daihatsu. Dalam empat bulan, bahkan lima bulan terakhir, kami belum melakukan penyesuaian harga jual," ungkapnya.

Sebagai wujud komitmen nyata, ADM kini memfokuskan diri pada pengembangan strategi penguatan komponen lokal. Inisiatif ini akan dijalankan secara bertahap, mencakup periode jangka pendek hingga menengah. "Ada yang masuk dalam kategori jangka pendek (short term), ada pula yang masuk dalam kategori jangka menengah (mid-term). Untuk jangka pendek, kami targetkan dalam enam bulan ke depan, sementara untuk jangka menengah, progresnya akan terlihat dalam kurun waktu satu hingga satu setengah tahun," papar Sri Agung.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, telah menyatakan keyakinannya bahwa nilai tukar rupiah akan kembali menemukan kestabilan dan menunjukkan tren penguatan terhadap dolar AS. Hal ini didukung oleh kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan (BI Rate). Perry memperkirakan penguatan rupiah ini akan mulai terlihat dampaknya pada periode Juli hingga Agustus 2026.

Bank Indonesia sendiri telah mengambil keputusan untuk menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 50 basis poin, menjadikannya 5,25%. Selain itu, suku bunga Deposit Facility juga dinaikkan sebesar 50 basis poin menjadi 4,25%, dan suku bunga Lending Facility mengalami kenaikan sebesar 50 basis poin menjadi 6%.

Perry Warjiyo menjelaskan lebih lanjut bahwa secara fundamental, nilai tukar rupiah saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya atau dalam kondisi undervalue. Beliau mengaitkan tekanan yang terjadi dengan berbagai sentimen global, termasuk kebijakan tarif global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia, serta arah kebijakan suku bunga global yang cenderung ketat, terutama dari Amerika Serikat.

"Dengan tingginya harga minyak, perlambatan pertumbuhan ekonomi global, kenaikan inflasi global, serta kebijakan moneter yang ketat di berbagai negara, termasuk kenaikan Fed Fund Rate, peningkatan imbal hasil US Treasury, dan penguatan dolar, semua faktor ini memberikan tekanan pada pelemahan nilai tukar di hampir seluruh negara, termasuk rupiah," jelas Perry dalam sebuah konferensi pers virtual.

Menurut Perry, kondisi ekonomi domestik Indonesia saat ini seharusnya mampu menjadi penopang penguatan rupiah. Ia menekankan bahwa makroekonomi Indonesia masih menunjukkan performa positif, ditandai dengan defisit transaksi berjalan yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan inflasi yang terkendali.

Di sisi lain, Bank Indonesia juga telah secara intensif melakukan intervensi di pasar valuta asing serta menaikkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Perry menyatakan bahwa kebijakan ini terbukti berhasil membalikkan tren arus modal asing yang sebelumnya mengalami pelarian besar-besaran.

"Mengapa kami yakin bahwa situasi akan stabil pada bulan Juni dan cenderung menguat pada bulan Juli dan Agustus? Jika kita melihat data historis, memang rupiah cenderung mengalami tekanan pada bulan April, Mei, dan Juni. Namun, biasanya akan menguat pada bulan Juli dan Agustus. Kami optimis bahwa rupiah akan stabil dan menunjukkan tren penguatan ke depan," pungkas Perry.

Also Read

Tags