Baru Debut, ALVA Incar Ekspor ke Asia Tenggara dan Eropa

Niam Beryl

Meski belum genap beberapa tahun meramaikan industri otomotif nasional, merek kendaraan listrik lokal, ALVA, sudah mulai memperluas cakrawala bisnisnya ke luar negeri.

Produsen yang berada di bawah naungan PT Electra Mobilitas Indonesia (EMI) ini tengah menyiapkan langkah strategis untuk memasarkan sepeda motor listrik rakitannya ke mancanegara.

Pabrik perakitan mereka yang berdiri kokoh di kawasan industri Cikarang, Kabupaten Bekasi, menjadi pusat produksi utama.

Dengan kapasitas maksimum yang bisa menelurkan hingga 100 ribu unit dalam setahun, fasilitas ini menjadi lumbung utama untuk memenuhi permintaan domestik maupun potensial ekspor.

Mengomentari rencana ekspansi ke pasar luar negeri, Chief Marketing Officer ALVA, Putu Swaditya Yudha mengungkapkan bahwa proses menuju ekspor masih berada dalam tahap awal, yakni pengurusan berbagai sertifikasi dan persyaratan teknis internasional.

“Kami mau (ekspor), tapi sedang kami jalankanlah ya, proses untuk sertifikasi dan homologasinya,” buka Chief Marketing Officer ALVA, Putu Swaditya Yudha ditemui di Cikarang, Jawa Barat pekan lalu.

Mengenai negara-negara mana yang akan menjadi pelabuhan pertama ekspansi ini, Putu masih enggan membocorkan secara spesifik.

Namun, ia memberi gambaran bahwa kawasan Asia Tenggara menjadi target awal. Tidak menutup kemungkinan, dalam waktu mendatang, Eropa pun akan menjadi sasaran selanjutnya.

Saat ini, ALVA telah memiliki tiga varian produk unggulan yaitu One, Cervo, dan N3. Ketiganya menjadi wajah utama dari merek ini sejak pertama kali diperkenalkan ke publik pada Agustus 2022.

Meski angka penjualan secara presisi belum diumumkan, perusahaan mengklaim telah berhasil mengirimkan ribuan unit ke tangan konsumen.

“Penjualan sebenarnya oke, mungkin karena kami juga ada di segmen harga yang bisa dibilang di atas Rp 30-40 juta. Target tahun ini kami jual sebanyak-banyaknya,” terang Putu.

Pabrik ALVA tak sekadar tempat produksi biasa. Berdiri di atas lahan seluas 17 ribu meter persegi, fasilitas ini mengadopsi prinsip industri 4.0 sebuah pendekatan manufaktur modern yang memadukan teknologi digital, otomatisasi, dan data real-time.

Salah satu contoh nyata penerapannya adalah penggunaan teknologi Automated Guided Vehicle (AGV). AGV adalah kendaraan otonom tanpa awak yang digunakan untuk mendistribusikan suku cadang atau bahan baku di jalur perakitan.

Meski perangkat canggih telah mengambil alih sejumlah peran, keterlibatan tenaga kerja manusia tetap menjadi bagian penting dalam proses produksi.

Dengan kata lain, teknologi dan sumber daya manusia berjalan beriringan layaknya dua sisi mata uang yang saling melengkapi.

Dengan semangat untuk menjadi pemain global, ALVA tampak tidak hanya ingin menjadi jago kandang.

Langkah mereka menuju pasar ekspor menunjukkan ambisi besar untuk membawa bendera Indonesia ke kancah otomotif internasional, terutama di segmen kendaraan listrik yang kini tengah menjadi sorotan dunia.

Also Read

Tags