Kuala Lumpur – Sebuah pencapaian gemilang berhasil diraih oleh Hakim Danish, pebalap muda Malaysia yang menorehkan sejarah baru dengan merebut podium pertamanya di ajang Moto3. Keberhasilan rider berusia 18 tahun ini tidak hanya menjadi sorotan pribadi, tetapi juga dipandang sebagai buah dari proses panjang dan berliku yang dilalui Malaysia dalam upaya mencetak talenta balap motor kelas dunia.
Hakim Danish, yang berlaga bersama tim Aeon Credit MT Helmets MSi, berhasil mengamankan posisi ketiga dalam seri Moto3 Italia yang diselenggarakan pada Minggu, 31 Mei lalu. Perjalanan impresifnya dimulai sejak sesi kualifikasi di mana ia berhasil meraih posisi terdepan (pole position). Sepanjang balapan, Hakim menunjukkan performa yang konsisten dan mampu bersaing ketat di barisan depan. Meskipun akhirnya harus mengakui keunggulan Brian Uriarte dan Alvaro Carpe yang finis di posisi pertama dan kedua, podium ketiga yang diraihnya menjadi sebuah pencapaian bersejarah.
Podium pertama ini menandai tonggak penting bagi karir Hakim Danish di pentas Moto3, sejak pertama kali berkompetisi di kelas ini tahun lalu. Pencapaiannya ini pun menyamai torehan pebalap Indonesia, Veda Ega Pratama, yang juga berhasil naik podium pada musim balap tahun ini.
Bagi dunia balap motor Malaysia, keberhasilan Hakim Danish membawa angin segar dan kebanggaan setelah penantian panjang. Ini merupakan podium pertama bagi pebalap Malaysia di Moto3 dalam satu dekade terakhir. Prestasi serupa terakhir kali diraih oleh Khairul Idham Pawi pada tahun 2016.
Pencapaian luar biasa Hakim Danish ini mendapat apresiasi tinggi dari Razlan Razali, mantan bos tim balap ternama Sepang Racing Team (SRT). Razlan Razali menganggap keberhasilan Hakim sebagai manifestasi dari strategi pengembangan pebalap yang telah dijalankan Malaysia, yang ia sebut sebagai hasil dari serangkaian upaya "trial and error" atau percobaan dan kegagalan yang akhirnya membuahkan hasil.
Razlan Razali menjelaskan bahwa keberhasilan ini merupakan konsekuensi dari platform yang telah dibangun sebelumnya, khususnya oleh SIC (Sepang International Circuit). Ia menekankan pentingnya program pengembangan yang berjalan efektif, yang memungkinkan para pebalap muda untuk mendapatkan pengalaman bertanding di kancah internasional sejak usia dini.
"Bagi saya, ini adalah tentang platform yang telah diciptakan. Kami kini memiliki program yang berjalan dengan baik bagi kami," ungkap Razlan Razali, sebagaimana dikutip oleh NST. Ia melanjutkan, bahwa strategi mengirimkan pebalap ke Eropa jauh lebih awal untuk berkompetisi di ajang seperti European Talent Cup, Kejuaraan Dunia Junior, dan Red Bull Rookies Cup menjadi krusial. Hal ini mengingat bahwa bibit-bibit pebalap terbaik dunia mayoritas berasal dari negara-negara seperti Spanyol dan Italia.
Lebih lanjut, Razlan Razali menekankan bahwa bakat murni saja tidak cukup untuk mengantarkan seorang pebalap ke puncak kesuksesan. Ia berpendapat bahwa pembinaan yang tepat dan terstruktur adalah kunci utama. "Pembalap, seberapapun berbakatnya, harus dibina dengan benar, jika tidak, itu tidak akan berhasil," tegasnya.
Ia juga menyoroti bahwa kesuksesan yang diraih Hakim Danish saat ini merupakan hasil dari proses evaluasi dan perbaikan yang terus-menerus. "Kesuksesan ini datang setelah banyak percobaan dan kesalahan, dimulai dari tahun pertama bersama Zulfahmi (sebagai pembalap) dan semua pembalap lain yang mengikuti jejaknya. Kali ini kami melakukannya dengan benar," pungkas Razlan Razali, yang pernah menjadi bos bagi pebalap legendaris Valentino Rossi.
Perjalanan panjang yang dilalui oleh pebalap-pebalap muda Malaysia, termasuk Hakim Danish, menunjukkan bahwa pengembangan talenta di dunia balap motor membutuhkan kesabaran, investasi strategis, dan kemauan untuk terus belajar dari setiap pengalaman, baik keberhasilan maupun kegagalan. Keberhasilan Hakim Danish di Moto3 ini menjadi bukti nyata bahwa strategi pengembangan yang matang dan konsisten mampu melahirkan juara-juara baru yang mampu mengharumkan nama bangsa di kancah global.
This article was rewritten using AI technology based on information from sport.detik.com without altering the facts of the original article.






