Samurai Biru di Panggung Dunia: Dominasi Eropa dalam Skuad Jepang untuk 2026

Darus Sinatria

Skuad Tim Nasional Jepang untuk Piala Dunia 2026 telah diumumkan, menampilkan wajah-wajah yang mayoritas berkarir di benua Eropa. Sebuah analisis mendalam terhadap daftar pemain yang dirilis mengungkapkan sebuah tren menarik: hanya segelintir pemain yang saat ini membela klub-klub di liga domestik Jepang, J.League. Fenomena ini mengindikasikan evolusi strategis dalam pembinaan dan seleksi pemain oleh Federasi Sepak Bola Jepang (JFA), yang tampaknya semakin mengutamakan pengalaman kompetisi di kancah internasional yang lebih tinggi.

Kehadiran tiga pemain lokal dalam daftar skuad yang akan berlaga di turnamen akbar empat tahunan ini menjadi sorotan utama. Mereka adalah penjaga gawang Keisuke Osako dari Sanfrecce Hiroshima, gelandang Tomoki Hayakawa yang bermain untuk Kashima Antlers, serta bek veteran Yuto Nagatomo yang membela FC Tokyo. Namun, perannya dalam tim tampaknya akan lebih banyak bersifat sebagai pelapis atau mentor. Osako dan Hayakawa diprediksi akan menjadi opsi kedua di bawah mistar gawang, dengan Zion Suzuki yang bermain di Serie A bersama Parma kemungkinan besar akan menjadi pilihan utama. Sementara itu, Nagatomo, yang usianya telah mencapai 39 tahun, kemungkinan besar akan mengemban peran sebagai pemandu dan pemberi nasihat bagi para pemain yang lebih muda di dalam tim, memanfaatkan pengalaman panjangnya di pentas sepak bola dunia.

Pemandangan dominan dalam skuad Jepang adalah para pemain yang telah menimba ilmu dan pengalaman di berbagai liga Eropa. Belanda menjadi destinasi favorit bagi para penggawa Samurai Biru, dengan lima pemain yang saat ini berkompetisi di Eredivisie. Sementara itu, Liga Primer Inggris menyumbangkan tiga nama yang tidak asing lagi: Wataru Endo dari Liverpool, Daichi Kamada yang kini membela Crystal Palace, dan Ao Tanaka dari Leeds United. Kehadiran mereka di klub-klub papan atas Eropa tentu menjadi jaminan kualitas dan pengalaman bertanding yang sangat berharga.

Pelatih Hajime Moriyasu tampaknya telah meramu tim yang kaya akan variasi taktis dan kedalaman skuad, berkat kolaborasi antara talenta domestik dan pemain yang telah teruji di liga-liga top Eropa. Keputusan untuk tidak menyertakan Kaoru Mitoma, winger Brighton & Hove Albion, akibat cedera paha yang dialaminya, serta Takumi Minamino yang harus absen karena cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL), tentu menjadi pukulan tersendiri. Namun, dengan kedalaman skuad yang dimiliki, Jepang optimis dapat tetap bersaing.

Absennya kedua pemain tersebut membuka ruang bagi pemain lain untuk menunjukkan kapasitasnya. Mitoma, yang dikenal dengan kemampuan dribblingnya yang memukau, merupakan aset berharga bagi serangan Jepang. Demikian pula Minamino, yang memiliki pengalaman luas di Eropa bersama beberapa klub besar, termasuk Liverpool dan AS Monaco, juga akan sangat dirindukan.

Jepang sendiri akan tergabung dalam Grup F bersama tim-tim kuat seperti Belanda, Swedia, dan Tunisia. Panggung Piala Dunia 2026 akan menjadi ujian sesungguhnya bagi racikan skuad Hajime Moriyasu ini. Pertarungan melawan Belanda, yang juga diperkuat oleh banyak pemain yang bermain di liga top Eropa, akan menjadi pertandingan pembuka yang sangat menarik. Kemudian, mereka akan berhadapan dengan Swedia yang selalu dikenal dengan kekuatan fisiknya, sebelum menutup fase grup melawan Tunisia.

Menelisik lebih jauh komposisi tim, lini depan Jepang akan diperkuat oleh Ayase Ueda (Feyenoord), Keito Nakamura (Stade de Reims), Ito Suzuki (SC Freiburg), Kento Shiode (Wolfsburg), dan Keisuke Goto (Sint-Truiden). Sektor tengah akan diisi oleh para pemain berkualitas seperti Wataru Endo (Liverpool), Junya Ito (Genk), Daichi Kamada (Crystal Palace), Koki Ogawa (NEC Nijmegen), Daizen Maeda (Celtic), Ritsu Doan (Eintracht Frankfurt), Ao Tanaka (Leeds United), Kaishu Sano (Mainz 05), dan Takefusa Kubo (Real Sociedad).

Di lini pertahanan, Hajime Moriyasu mengandalkan Yuto Nagatomo (FC Tokyo), Shogo Taniguchi (Sint-Truiden), Ko Itakura (Ajax), Tsuyoshi Watanabe (Feyenoord), Takehiro Tomiyasu (Ajax), Hiroki Ito (Bayern Munich), Ayumu Seko (Le Havre AC), Yukinari Sugawara (Werder Bremen), dan Junosuke Suzuki (FC Copenhagen). Kombinasi pemain berpengalaman dan talenta muda di lini belakang ini diharapkan mampu memberikan stabilitas pertahanan yang solid.

Tiga pemain lokal yang disebutkan, yaitu Osako, Hayakawa, dan Nagatomo, meskipun tampaknya tidak akan menjadi pilihan utama, tetap memiliki peran penting. Keberadaan mereka di dalam tim menunjukkan bahwa JFA tidak sepenuhnya meninggalkan pemain-pemain yang berkompetisi di liga domestik, melainkan memberikan kesempatan bagi mereka untuk merasakan atmosfer turnamen internasional dan belajar dari rekan-rekan setim yang bermain di level tertinggi. Ini bisa menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas J.League itu sendiri, dengan adanya pemain-pemain yang terbiasa bermain di Eropa yang kembali ke liga domestik di masa depan.

Dengan mayoritas pemain yang memiliki pengalaman merumput di Eropa, Timnas Jepang telah menunjukkan ambisinya untuk bersaing di level tertinggi pada Piala Dunia 2026. Pertanyaan besarnya kini adalah, seberapa jauh langkah yang bisa ditempuh oleh pasukan Hajime Moriyasu ini di tengah persaingan ketat di Grup F. Akankah dominasi pemain Eropa dalam skuad ini menjadi kunci kesuksesan, atau justru kedekatan emosional dan pemahaman taktis antara pemain lokal dan Eropa yang akan menjadi penentu? Jawabannya akan terungkap di lapangan hijau nanti.

Secara keseluruhan, skuad Jepang untuk Piala Dunia 2026 mencerminkan sebuah pergeseran strategi pembinaan pemain yang berani, dengan penekanan kuat pada pengembangan talenta yang mampu bersaing di panggung sepak bola global. Keberhasilan mereka di turnamen ini tidak hanya akan menjadi kebanggaan bagi Jepang, tetapi juga bisa menjadi inspirasi bagi negara-negara Asia lainnya dalam mengoptimalkan potensi pemain mereka di kancah internasional.

Also Read

Tags