London—Perayaan meriah mewarnai jalanan ibu kota Inggris saat Arsenal menggelar parade juara Premier League, sebuah momen yang telah lama dinantikan oleh para penggemar setia klub berjuluk The Gunners tersebut. Acara ini berlangsung pada Minggu, 31 Mei, sehari setelah kekalahan dramatis yang mereka alami dari Paris Saint-Germain dalam adu penalti di partai puncak Liga Champions. Momen ini tidak hanya menjadi ajang euforia atas raihan gelar domestik, tetapi juga menjadi panggung bagi Declan Rice untuk melayangkan sindiran pedas kepada klub-klub rival yang ia anggap menyimpan rasa iri.
Kekalahan Arsenal di final Liga Champions rupanya tidak luput dari perhatian klub-klub Inggris lainnya. Tak sedikit yang mencoba meredam euforia The Gunners dengan berbagai cara, termasuk melalui unggahan di media sosial. Chelsea, misalnya, tak ragu memamerkan foto trofi Liga Champions yang tersimpan di museum Stamford Bridge, seolah mengingatkan akan pencapaian mereka di kompetisi antarklub paling prestisius di Eropa. Nottingham Forest pun tak ketinggalan, mengenang kejayaan mereka dengan mengunggah foto saat menjuarai Liga Champions pada era 1980-an.
Namun, upaya untuk sedikit merusak perayaan Arsenal tampaknya berbuntut bumerang. Noni Madueke, penyerang sayap Arsenal, dengan sigap membalas serangan-serangan tersebut. Melalui akun media sosial pribadinya, Madueke mengunggah foto dirinya tengah mengangkat trofi Premier League, disertai dengan tulisan yang menyindir balik para rivalnya. Ia menyatakan kebanggaannya sebagai juara, sembari menyindir klub-klub lain yang hanya mampu berkutat dengan aktivitas sekadar mengunggah foto atau mengirimkan pesan singkat di dunia maya.
Tidak berhenti di situ, Declan Rice, gelandang tangguh Arsenal, turut memberikan dukungan dan memperkuat pesan yang disampaikan Madueke. Dalam sebuah komentar yang tertulis di unggahan Madueke, Rice secara gamblang menyatakan bahwa klub-klub lain tersebut merasa iri dengan pencapaian Arsenal. Ia menambahkan sebuah emoji tertawa yang semakin menegaskan nada sarkasme dalam pernyataannya.
Perlu diingat bahwa kemenangan Arsenal di Premier League musim 2025/26 ini mengakhiri penantian panjang selama 22 tahun bagi klub tersebut untuk kembali merasakan manisnya gelar juara liga domestik. Meskipun demikian, perjalanan Arsenal di musim ini tidak sepenuhnya mulus. Mereka sempat mencapai partai final Carabao Cup, namun harus mengakui keunggulan Manchester City dengan skor 0-2. Sementara itu, impian untuk meraih trofi Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub masih tertunda, menyusul kekalahan di partai puncak dari PSG.
Meskipun demikian, raihan gelar Premier League tetap menjadi pencapaian monumental bagi Arsenal dan para pendukungnya. Perayaan parade juara yang diselenggarakan bukan hanya sekadar seremoni, melainkan sebuah pernyataan tegas bahwa The Gunners telah kembali ke puncak sepak bola Inggris. Sindiran dari Declan Rice dan Noni Madueke bisa jadi merupakan ekspresi kegembiraan dan rasa percaya diri yang meluap, sekaligus bentuk pembalasan atas provokasi yang mereka terima dari rival. Momen ini menjadi bukti bahwa persaingan di Premier League tidak hanya terjadi di lapangan hijau, tetapi juga merambah ke ranah psikologis dan media sosial. Perayaan ini juga menegaskan dominasi Arsenal di kancah domestik, sekaligus menjadi motivasi tambahan untuk terus berbenah demi meraih kesuksesan di panggung Eropa di masa mendatang. Para pemain Arsenal menunjukkan bahwa mereka mampu merayakan kemenangan dengan penuh semangat, namun juga tidak gentar dalam menghadapi dan membalas ucapan-ucapan yang bersifat menyindir dari pihak luar. Ini mencerminkan mentalitas juara yang ingin dibangun oleh klub.
This article was rewritten using AI technology based on information from sport.detik.com without altering the facts of the original article.






