Pensiun di Puncak: Kisah Baru Viktor Axelsen Setelah Menggenggam Emas Ganda Olimpiade

Darus Sinatria

Jakarta – Perjalanan gemilang Viktor Axelsen di dunia bulu tangkis profesional telah memasuki babak baru. Sang bintang Denmark, yang baru saja memutuskan gantung raket di usianya yang relatif muda, 32 tahun, kini membuka tirai kehidupannya pasca-panggung kompetisi. Keputusan pensiun ini diambilnya setelah menorehkan sejarah dengan dua gelar Olimpiade beruntun, sebuah pencapaian luar biasa yang jarang terukir dalam sejarah olahraga tepok bulu.

Axelsen, yang dikenal dengan postur menjulang 1,94 meter dan pukulan mematikan, tidak hanya bangga akan koleksi medali emas Olimpiadenya di tahun 2020 dan 2024. Ia justru menyoroti konsistensi yang berhasil dipertahankannya sepanjang kariernya. "Memenangkan satu Olimpiade saja sudah merupakan tantangan besar, namun memenangkan dua kali berturut-turut jelas jauh lebih sulit," ujar Axelsen dalam sebuah kesempatan wawancara di Jakarta. Ia menambahkan bahwa kebanggaan terbesarnya bukanlah semata-mata deretan gelar bergengsi, melainkan bagaimana ia mampu menjaga stabilitas performa dan komitmennya dalam berlatih serta menjalani kehidupan sehari-hari. Axelsen merasa performanya justru meningkat setelah meraih medali emas Olimpiade pertamanya, sebuah bukti dari kedisiplinan dan manajemen diri yang luar biasa.

Namun, di balik kilau prestasi, tersembunyi perjuangan melawan rasa sakit. Keputusan pensiun pada 14 April lalu merupakan puncak dari derita panjang akibat cedera punggung kronis. Masalah ini ternyata sudah membayangi Axelsen jauh sebelum kekalahan mengejutkan yang dialaminya dari Li Chun-Yi di ajang All-England 2025. Cedera tersebut memaksanya untuk absen dari arena kompetisi selama kurang lebih lima bulan. Meski sempat melakukan comeback yang disambut hangat di Hong Kong Open 2025, rasa sakit yang tak kunjung mereda membuatnya kembali mundur dari Kumamoto Masters 2025 dan Australia Open 2025.

Kondisi punggungnya yang tak kunjung membaik, bahkan setelah menjalani operasi pada April tahun sebelumnya, menjadi pertimbangan utama dalam keputusannya. Dokter dan spesialis medis pun merekomendasikan agar Axelsen lebih memprioritaskan kesehatan jangka panjangnya. "Saya sempat diliputi kecemasan sebelum Olimpiade di Paris, karena nyeri punggung yang saya rasakan sangat hebat," ungkapnya. Setelah Olimpiade, ia menjalani operasi, namun rasa sakit tersebut kembali muncul bahkan setelah pemulihan. "Ketika rasa sakit itu kembali menyerang setelah operasi, saya menyadari bahwa akan sangat sulit untuk melanjutkan perjuangan. Beban rasa sakit itu terlalu besar untuk saya pikul," jelasnya.

Kini, dengan dunia bulu tangkis profesional yang ditinggalkannya, Axelsen mulai mengarahkan energinya pada berbagai kegiatan di luar lapangan. Salah satunya adalah perannya sebagai duta (ambassador) untuk Monitor ERP. Keterlibatannya dengan perusahaan teknologi ini bukan tanpa alasan. Axelsen menemukan kesamaan nilai-nilai fundamental antara filosofi bisnis Monitor ERP dengan prinsip hidupnya. "Saya rasa, baik dalam menjalani kehidupan profesional maupun di luar ranah bisnis dan performa, kami memiliki kesamaan pandangan. Kami percaya pentingnya memperlakukan orang lain dengan baik dan penuh rasa hormat," papar Axelsen.

Ia meyakini bahwa pendekatan yang mengedepankan kebaikan dan rasa hormat adalah kunci kesuksesan, baik dalam berbisnis maupun dalam kehidupan secara umum. Hubungan baik dengan para mitranya, termasuk Monitor ERP, menjadi sumber kebahagiaan tersendiri baginya di fase baru kehidupannya. Kunjungan dan interaksinya dengan para penggemar di Jakarta menjadi salah satu bukti nyata betapa ia masih memiliki ikatan kuat dengan dunia yang telah membesarkan namanya, meskipun kini ia melihatnya dari perspektif yang berbeda.

Axelsen tidak menutup kemungkinan untuk tetap berkontribusi pada dunia bulu tangkis, meski dalam kapasitas yang berbeda. Pengalamannya sebagai atlet papan atas selama bertahun-tahun tentu menjadi aset berharga yang bisa dibagikan kepada generasi penerus. Keputusannya untuk pensiun di usia 32 tahun, dengan dua medali emas Olimpiade di pundak, menempatkannya dalam jajaran legenda bulu tangkis. Namun, ia memilih untuk tidak larut dalam nostalgia masa lalu, melainkan menatap masa depan dengan optimisme, siap merajut babak baru kehidupannya dengan keseimbangan antara kesehatan, keluarga, dan kesempatan-kesempatan baru yang muncul. Perjalanan Viktor Axelsen mungkin telah berakhir di arena kompetisi, namun kisahnya sebagai individu dan duta nilai-nilai positif baru saja dimulai.

Also Read

Tags