Kegagalan beruntun tim nasional Italia melangkah ke panggung akbar Piala Dunia tampaknya telah membuka luka lama. Di tengah upaya Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) untuk melakukan revitalisasi pasca-tragedi kegagalan tiga kali berturut-turut di ajang sepak bola terbesar dunia tersebut, sebuah sinyal menarik muncul dari Roberto Mancini. Mantan juru taktik Gli Azzurri ini dikabarkan tidak menutup pintu jika ada tawaran untuk kembali memimpin skuad Garuda Italia.
Keputusan Mancini untuk undur diri dari kursi pelatih timnas Italia pada Agustus 2023 lalu memang menyita perhatian publik. Meskipun di bawah kepemimpinannya, Italia gagal mengamankan tiket ke Piala Dunia 2022, namun tak dapat dipungkiri bahwa ia telah memberikan kontribusi signifikan dalam upaya pembenahan timnas. Puncak kejayaannya adalah ketika ia berhasil mengantarkan Italia merengkuh trofi Euro 2020, sebuah pencapaian gemilang yang membangkitkan kembali euforia sepak bola Italia. Di bawah sentuhannya, Italia bahkan sempat mencatatkan rekor impresif dengan 37 pertandingan tak terkalahkan secara beruntun, sebuah bukti konsistensi dan kualitas permainan yang ditampilkannya.
Hanya berselang dua minggu setelah mengumumkan pengunduran dirinya dari timnas Italia, Mancini membuat keputusan mengejutkan dengan menerima pinangan tim nasional Arab Saudi. Kala itu, ia sempat dituding tergiur oleh iming-iming gaji besar di Timur Tengah. Namun, mantan arsitek Manchester City ini dengan tegas membantah tudingan tersebut, mengklaim bahwa ada faktor-faktor lain yang lebih mendasar mendorong keputusannya. Ia kemudian mengklarifikasi bahwa keretakan dalam hubungan komunikasinya dengan jajaran petinggi FIGC menjadi salah satu alasan utama kepergiannya.
Kini, dengan timnas Italia tengah berada dalam fase transisi dan berupaya membangun kembali kejayaannya, Mancini, yang saat ini menjabat sebagai pelatih di klub Qatar, Al Sadd, menunjukkan sikap yang berbeda. Ia dikabarkan mulai merasakan penyesalan mendalam atas keputusannya meninggalkan timnas Italia. Pernyataan ini diungkapkan langsung oleh putranya, Andrea Mancini, yang dikutip oleh media Football Italia. Andrea menyebutkan bahwa ayahnya kini memiliki keinginan kuat untuk menebus penyesalan tersebut dan menutup siklus kepelatihannya di timnas dengan sebuah mahkota juara Piala Dunia.
"Ayah saya baru-baru ini mengungkapkan bahwa ia menyesal telah meninggalkan tim nasional. Jadi, ia sangat ingin menuntaskan misinya dengan memenangi Piala Dunia," tutur Andrea, mengonfirmasi sentimen sang ayah.
Andrea menambahkan keyakinannya bahwa Roberto Mancini akan dengan sigap menerima tawaran kembali ke kursi kepelatihan timnas Italia jika ada kesempatan yang terbuka. "Saya yakin ia akan dengan senang hati kembali besok pagi ke bangku cadangan Azzurri, jika saja ada kesempatan yang diberikan," imbuhnya.
Kondisi timnas Italia saat ini memang sedang tidak ideal. Pasca-kegagalan mereka yang memalukan di kualifikasi Piala Dunia, Italia tidak hanya kehilangan arah di lapangan hijau, tetapi juga mengalami kekosongan kepemimpinan di federasi. Presiden FIGC saat ini, Gabriele Gravina, dikabarkan telah mengundurkan diri, menciptakan situasi yang semakin kompleks. Selain itu, posisi pelatih timnas pun menjadi kosong setelah Gennaro Gattuso, yang sempat digadang-gadang akan mengisi kursi tersebut, tidak jadi mengambil peran tersebut. Ketidakpastian ini semakin menguatkan spekulasi mengenai kemungkinan kembalinya Mancini untuk menakhodai Gli Azzurri.
Perlu diingat bahwa Roberto Mancini telah memberikan jejak yang tak terhapuskan selama masa baktinya bersama timnas Italia. Di bawah asuhannya, Italia berhasil bangkit dari keterpurukan dan menjelma menjadi kekuatan yang ditakuti di kancah Eropa. Kemenangan di Euro 2020 menjadi bukti nyata kapasitasnya sebagai pelatih. Rekor tak terkalahkan yang dibukukannya juga menjadi catatan emas yang sulit dipecahkan. Pengalaman dan sentuhan magisnya sangat dibutuhkan oleh timnas Italia yang sedang berjuang untuk menemukan kembali jati dirinya.
Namun, tentu saja, kembalinya Mancini tidak akan serta-merta menjadi solusi instan bagi segala permasalahan sepak bola Italia. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh FIGC, mulai dari perbaikan infrastruktur, pembinaan usia muda, hingga menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan sepak bola Italia secara keseluruhan. Akan tetapi, kehadiran sosok berpengalaman dan berkarisma seperti Mancini di pinggir lapangan bisa menjadi suntikan moral yang sangat berarti bagi para pemain.
Perkataan putra Mancini ini bisa menjadi angin segar bagi para pendukung setia timnas Italia yang merindukan era kejayaan. Kembalinya sang arsitek yang pernah membawa mereka berjaya bisa menjadi babak baru yang penuh harapan. Apakah FIGC akan memanfaatkan momen ini dan memberikan kesempatan kedua kepada Roberto Mancini untuk memimpin Italia menggapai mimpi Piala Dunia yang tertunda? Waktu yang akan menjawab. Namun, satu hal yang pasti, penyesalan Mancini dan keterbukaannya untuk kembali telah membuka pintu kemungkinan yang menarik untuk masa depan sepak bola Italia. Ia mungkin merasa ada urusan yang belum selesai, sebuah dendam yang ingin dituntaskan di panggung terbesar sepak bola dunia. Dan jika kesempatan itu datang, Italia mungkin akan memiliki kembali sosok yang tepat untuk memimpin mereka dalam pertempuran menuju takhta juara dunia.






