Perubahan signifikan dalam format kompetisi I.League musim 2025/26 tampaknya mendapatkan sambutan hangat dari berbagai kalangan, termasuk para pelaku sepak bola yang berdedikasi. Salah satu figur yang secara terbuka menyuarakan apresiasinya adalah Bima Sakti, mantan pelatih tim nasional Indonesia yang kini menakhodai klub Persela Lamongan. Format baru yang membagi kompetisi menjadi tiga putaran ini dinilai memberikan dimensi baru dan tantangan yang lebih komprehensif bagi para kontestan.
Musim 2025/26 ini menandai era baru bagi I.League, kasta kedua dalam piramida sepak bola profesional Indonesia. Fase reguler kompetisi yang baru saja berakhir ini telah menempuh perjalanan panjang selama 27 pekan. Perbedaan mencolok dibandingkan dengan musim-musim sebelumnya terletak pada struktur kompetisinya. Berdasarkan keputusan PSSI dan operator I.League, format baru ini mengusung sistem kompetisi yang terbagi menjadi dua grup, di mana masing-masing grup dihuni oleh sepuluh tim. Pembagian ini secara efektif meningkatkan jumlah pertandingan yang harus dilakoni oleh setiap klub, mencapai angka 27 pertandingan di fase reguler.
Jumlah pertandingan yang lebih banyak ini merupakan lompatan signifikan jika dibandingkan dengan realitas yang dihadapi klub-klub di Liga 2 pada musim sebelumnya, yaitu Liga 2 2023/24. Pada musim tersebut, setiap tim hanya berkesempatan bertanding sebanyak 12 laga di fase reguler, dilanjutkan dengan 6 pertandingan di fase lanjutan, baik itu dalam perebutan gelar juara (championship) maupun upaya menghindari jurang degradasi (relegation). Bahkan, di Liga 1 musim 2024/25, total pertandingan yang dilakoni klub juga tidak sebanyak format baru I.League ini, yakni 16 laga di fase reguler dan 8 laga di fase lanjutan.
Dengan 27 pertandingan yang telah dilakoni di fase reguler musim 2025/26, kompetisi I.League kini terasa lebih mendekati intensitas pertandingan yang biasa ditemukan di kompetisi level tertinggi, seperti Super League, yang umumnya menggelar 34 pertandingan dalam satu musim. Pendekatan ini diklaim mampu menciptakan kompetisi yang lebih kompetitif, mendalam, dan memberikan jam terbang yang lebih banyak bagi para pemain muda maupun berpengalaman. Bima Sakti, sebagai salah satu nahkoda tim yang merasakan langsung dampak format ini, melihatnya sebagai sebuah langkah positif yang dapat mendorong peningkatan kualitas permainan secara keseluruhan.
Bima Sakti, yang memiliki rekam jejak sebagai pelatih tim nasional Indonesia, mengungkapkan pandangannya bahwa format tiga putaran ini sangat membantu timnya dalam membangun konsistensi permainan. Baginya, jumlah pertandingan yang lebih banyak memberikan kesempatan lebih besar bagi tim untuk mengeksplorasi berbagai strategi, menguji kedalaman skuad, serta memberikan kesempatan bagi pemain untuk beradaptasi dengan ritme kompetisi yang lebih padat. "Format ini memberikan kami lebih banyak waktu untuk menemukan ritme terbaik kami. Pemain mendapatkan pengalaman bertanding yang lebih banyak, dan ini sangat krusial untuk perkembangan mereka," ujar Bima Sakti, dilansir dari Bolasport.com. Ia menambahkan bahwa keseragaman jumlah pertandingan antar tim juga menciptakan keadilan kompetitif yang lebih baik.
Lebih lanjut, Bima Sakti memuji terobosan yang dilakukan oleh PSSI dan operator liga dalam merancang kompetisi yang lebih menantang. Ia percaya bahwa dengan semakin banyaknya pertandingan yang dilakoni, para pemain akan semakin terasah kemampuannya, baik dari segi fisik, mental, maupun taktik. Hal ini tentu saja akan berdampak positif pada kualitas individu pemain, yang pada gilirannya akan meningkatkan level kompetisi sepak bola Indonesia secara keseluruhan. "Saya pikir ini adalah langkah yang bagus. Dengan lebih banyak pertandingan, para pemain akan lebih terbiasa dengan tekanan dan tuntutan pertandingan. Ini akan membantu mereka berkembang menjadi pemain yang lebih baik," tegas Bima Sakti.
Potensi keberlanjutan format ini pun menjadi pertanyaan menarik. Mengingat respons positif yang ditunjukkan oleh figur-figur seperti Bima Sakti, serta bukti nyata peningkatan intensitas dan kompetisi, bukan tidak mungkin format tiga putaran ini akan dipertahankan dan bahkan menjadi standar baru bagi I.League di musim-musim mendatang. Pihak operator liga diharapkan dapat terus mengevaluasi efektivitas format ini, termasuk dampaknya terhadap aspek finansial klub dan kesejahteraan pemain, sebelum mengambil keputusan akhir mengenai kelanjutannya. Namun, secara umum, inisiatif untuk menciptakan kompetisi yang lebih panjang dan menantang ini patut diapresiasi sebagai upaya serius dalam memajukan sepak bola Indonesia dari level akar rumput. Perubahan ini menjadi bukti bahwa ada keinginan kuat untuk terus berinovasi dan mencari format terbaik demi kemajuan olahraga yang paling digemari di tanah air ini.






