Keputusan untuk memindahkan duel akbar antara Persija Jakarta dan Persib Bandung dari tanah Betawi meninggalkan luka kekecewaan mendalam bagi panitia pelaksana. Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Persija Jakarta, Tauhid Indra Sjarief, yang akrab disapa Bung Ferry, menyuarakan penyesalannya atas kegagalan mewujudkan pertandingan kandang di ibu kota. Keputusan ini, selain merenggut kesempatan The Jakmania untuk menyaksikan tim kesayangan mereka bertanding di kandang sendiri, juga berpotensi menimbulkan kerugian finansial yang tidak sedikit.
Pertandingan krusial dalam lanjutan Super League musim 2025/2026 ini dijadwalkan akan mempertemukan dua rival abadi pada Minggu, 10 Mei 2026. Sejak awal, upaya keras telah dilancarkan oleh panitia demi memastikan laga bergengsi ini dapat terselenggara di Jakarta. Berbagai opsi stadion telah diajukan, mulai dari Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) yang legendaris hingga Jakarta International Stadium (JIS) yang modern, sebagai lokasi alternatif untuk menjamu Maung Bandung. Namun, semua ikhtiar tersebut menemui jalan buntu ketika izin keamanan yang diajukan tidak mendapatkan restu dari pihak berwenang.
Menurut keterangan yang disampaikan oleh Bung Ferry kepada awak media di Gedung Presisi Baintelkam Polri, Jakarta Selatan, pada Rabu (6/5/2026), alasan utama di balik penolakan izin keamanan tersebut adalah kekhawatiran akan potensi gangguan keamanan yang mungkin timbul pada periode bulan Mei. Periode ini bertepatan dengan peringatan Hari Buruh atau May Day, sebuah momen yang kerap diwarnai dengan aksi unjuk rasa dan potensi kericuhan. Aparat keamanan menilai bahwa penyelenggaraan pertandingan sepak bola dengan skala sebesar Persija melawan Persib, di tengah rentannya situasi keamanan tersebut, berisiko tinggi menimbulkan insiden yang tidak diinginkan. Kekhawatiran akan ancaman kerusuhan yang mengintai selama perayaan May Day menjadi pertimbangan utama yang membuat pihak kepolisian enggan memberikan izin keamanan yang dibutuhkan.
Bung Ferry mengungkapkan betapa kecewanya ia pribadi dan seluruh elemen panitia atas kondisi ini. Kegagalan ini, baginya, adalah sebuah pukulan telak yang merenggut mimpi para pendukung setia Persija, The Jakmania, untuk menyaksikan duel klasik ini berlangsung di stadion kebanggaan mereka di Jakarta. Ia menekankan bahwa timnya telah mengerahkan seluruh daya dan upaya, serta telah mempersiapkan segalanya dengan matang untuk memastikan pertandingan dapat berjalan lancar dan aman, bahkan dengan segala potensi risiko yang mungkin ada. Namun, keputusan akhir berada di tangan pihak berwenang, dan kali ini, pertimbangan keamanan menjadi prioritas utama.
Lebih lanjut, Bung Ferry menjelaskan bahwa keputusan ini tidak hanya berdampak pada aspek emosional dan kebanggaan suporter, tetapi juga secara signifikan memengaruhi aspek finansial. Pihak panitia telah mengantisipasi potensi pendapatan yang besar dari penjualan tiket, sponsor, dan berbagai komersial lainnya yang biasanya mengalir deras saat pertandingan besar seperti ini. Dengan perpindahan lokasi, potensi pendapatan tersebut dipastikan akan tergerus, bahkan bisa hilang sama sekali. Kerugian finansial ini menjadi ancaman nyata yang harus dihadapi oleh Persija Jakarta sebagai tuan rumah.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Berbagai opsi stadion sudah kami ajukan, tapi kendalanya di izin keamanan. Isu keamanan di bulan Mei, terkait May Day, menjadi kekhawatiran aparat," ujar Bung Ferry, dengan nada penyesalan yang jelas terdengar. Ia menambahkan bahwa keputusannya ini bukan berarti pihaknya tidak bertanggung jawab atau tidak berusaha. "Kami sudah berjuang keras agar The Jakmania bisa menyaksikan pertandingan ini di Jakarta. Tapi mau bagaimana lagi, izin keamanan tidak keluar," tambahnya.
Kekecewaan ini juga dirasakan oleh para pemain dan staf pelatih Persija. Bermain di hadapan pendukung sendiri selalu memberikan dorongan semangat ekstra. Nuansa pertandingan kandang yang penuh gairah, dukungan nyanyian dan teriakan dari tribun, serta atmosfer yang tercipta di stadion merupakan elemen penting yang dapat memengaruhi performa tim di lapangan. Kehilangan kesempatan untuk merasakan semua itu di kandang sendiri tentu menjadi kerugian tersendiri bagi Macan Kemayoran.
Bagi Persib Bandung, perpindahan lokasi ini mungkin tidak terlalu berdampak secara signifikan, namun bagi Persija, ini adalah sebuah kehilangan besar. Mereka harus rela bermain di tempat yang bukan menjadi basis pendukung utama mereka, yang berpotensi mengurangi keuntungan sebagai tuan rumah. Para pendukung Persib yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya mungkin akan lebih leluasa untuk datang mendukung tim kesayangan mereka, sementara bagi The Jakmania, akses dan kuota tiket mungkin akan menjadi lebih terbatas jika pertandingan dipindahkan ke stadion di luar Jakarta.
Situasi ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan infrastruktur dan koordinasi antara federasi sepak bola, klub, panitia pelaksana, dan aparat keamanan dalam mengantisipasi dan mengelola potensi risiko keamanan dalam penyelenggaraan pertandingan sepak bola besar. Penting bagi semua pihak untuk duduk bersama dan mencari solusi yang komprehensif agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa mendatang, sehingga sepak bola Indonesia dapat terus berkembang tanpa dibayangi oleh ancaman keamanan.
Perpindahan lokasi pertandingan Persija melawan Persib ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap sepak bola, terdapat kompleksitas regulasi, birokrasi, dan pertimbangan keamanan yang harus selalu diperhatikan. Harapannya, ke depannya, koordinasi yang lebih baik dapat terjalin agar duel-duel klasik seperti ini dapat tetap tersaji dengan megah di panggung yang semestinya, tanpa mengorbankan aspek keamanan maupun potensi ekonomi yang bisa didapatkan oleh klub dan industri sepak bola secara keseluruhan.






