Budapest – Kegagalan Arsenal meraih gelar juara Liga Champions musim 2026 justru disambut lega oleh mantan bintang sepak bola Prancis, Christophe Dugarry. Legenda yang turut membawa Prancis menjuarai Piala Dunia 1998 itu berpendapat bahwa The Gunners tidak pantas mengangkat trofi bergengsi tersebut mengingat gaya permainan yang mereka tunjukkan dalam partai puncak.
Dalam laga final yang digelar pada Minggu, 31 Mei 2026, Arsenal harus rela mengakui keunggulan Paris Saint-Germain (PSG) setelah kalah dalam drama adu penalti dengan skor 3-4. Pertandingan ini sendiri berakhir imbang 1-1 selama 120 menit waktu normal dan perpanjangan waktu. Arsenal sempat unggul lebih dulu berkat gol yang dicetak oleh Kai Havertz di awal babak pertama. Namun, setelah berhasil memimpin, tim asuhan Mikel Arteta memilih untuk bermain sangat defensif, mengutamakan pertahanan rapat dan taktik mengulur waktu demi menjaga keunggulan.
Nasib buruk menghampiri Arsenal di babak kedua ketika mereka harus menghadapi tendangan penalti setelah Cristhian Mosquera dinilai melakukan pelanggaran terhadap Khvicha Kvaratskhelia di dalam kotak terlarang. Kesempatan emas ini dimanfaatkan dengan baik oleh Ousmane Dembele yang berhasil mengeksekusi bola dari titik putih dan menyamakan kedudukan untuk PSG.
Data statistik pertandingan secara gamblang menunjukkan dominasi PSG. Selama 120 menit pertandingan, Arsenal hanya mampu melepaskan 5 tembakan dengan hanya satu yang mengarah tepat sasaran. Penguasaan bola mereka pun terbilang minim, hanya mencapai 28 persen. Angka-angka ini sangat kontras dengan performa PSG yang tampil lebih menyerang, mencatatkan 19 tembakan dengan 4 di antaranya tepat sasaran, serta mendominasi penguasaan bola hingga 72 persen. PSG kesulitan membongkar pertahanan Arsenal yang sangat dalam, karena tim asal London itu terlihat memarkir banyak pemain di area pertahanan mereka.
Permainan bertahan Arsenal dalam menghadapi PSG menuai kritik tajam dari Christophe Dugarry. Mantan pemain internasional Prancis ini secara tegas menyatakan bahwa Arsenal terlihat tidak memiliki niat untuk menciptakan peluang lebih banyak setelah berhasil unggul 1-0. Dugarry mengungkapkan pandangannya melalui media RMC Sports, bahwa sejak awal pertandingan, niat Arsenal sudah sangat jelas untuk tidak terlalu agresif. Ia menilai tim tersebut sama sekali tidak berupaya untuk menciptakan peluang baru setelah gol pembuka.
Menurut Dugarry, apa yang ditampilkan Arsenal adalah bola-bola yang disapu jauh keluar lapangan secara sistematis, serta upaya tim yang secara terencana mencoba mengulur-ulur waktu pertandingan. Ia menggambarkan permainan tersebut sebagai sesuatu yang sangat tidak enak ditonton, bahkan disebutnya "benar-benar memuakkan." Dugarry menambahkan bahwa skenario ini hampir saja memberikan persepsi yang keliru bagi dunia sepak bola, seolah-olah kemenangan di Liga Champions bisa diraih hanya dengan sedikit usaha dan permainan yang membosankan. Ia tidak ragu menyebut penampilan Arsenal "payah" dan menyatakan rasa syukurnya atas kegagalan mereka meraih gelar juara.
Lebih lanjut, Dugarry menekankan bahwa jika Arsenal bercita-cita untuk memenangkan Liga Champions di masa mendatang, mereka harus mulai memainkan sepak bola yang sesungguhnya. Ia mengingatkan bahwa ini bukanlah Arsenal yang dikenal dengan sejarah panjangnya di dunia sepak bola. Gaya permainan seperti itu, menurutnya, tidak sesuai dengan identitas klub dan tidak dapat diterima. Dugarry menutup komentarnya dengan tegas, menyatakan bahwa jika Arsenal berhasil menjadi juara dengan cara bermain seperti itu, itu akan menjadi sebuah skandal besar dalam sejarah sepak bola.
Kekalahan Arsenal di final Liga Champions, meskipun menyakitkan bagi para penggemar mereka, tampaknya telah memicu perdebatan mengenai filosofi permainan yang diusung oleh tim. Kritik dari tokoh sekaliber Dugarry menyoroti pentingnya keseimbangan antara soliditas pertahanan dan ambisi menyerang untuk meraih kesuksesan di level tertinggi kompetisi klub Eropa. Apakah Arsenal akan belajar dari kekalahan ini dan mengubah pendekatan mereka di masa depan, masih menjadi pertanyaan yang menarik untuk disimak oleh para pemerhati sepak bola.
This article was rewritten using AI technology based on information from sport.detik.com without altering the facts of the original article.






