Kala Ferrari memperkenalkan mobil listrik pertamanya, Luce EV, gelombang reaksi yang diterima justru lebih banyak mengarah pada kritik tajam ketimbang pujian. Desainnya yang dianggap menyimpang jauh dari pakem identitas pabrikan mobil sport legendaris Italia tersebut, menimbulkan pertanyaan besar: siapa dalang di balik perancangan estetika kendaraan senilai puluhan miliar rupiah ini?
Ternyata, sentuhan magis yang membentuk siluet Ferrari Luce EV bukan berasal dari tangan-tangan ahli internal Ferrari semata. Keunikan desain ini lahir dari kemitraan strategis dengan LoveFrom, sebuah studio desain ternama yang didirikan oleh duo visioner, Jony Ive dan Marc Newson. Nama mereka mungkin sudah tidak asing lagi di telinga para penikmat teknologi, sebab mereka adalah arsitek di balik mahakarya desain ikonik seperti iPhone dan Apple Watch. Kolaborasi ini menandai sebuah babak baru bagi Ferrari, sebuah langkah berani untuk merangkul perspektif eksternal dalam mendefinisikan masa depan desain mereka.
Hasil kolaborasi ini terwujud dalam sebuah karya seni otomotif yang memukau sekaligus memicu perdebatan. Ferrari Luce EV menampilkan konsep ‘glass house’ yang memberikan kesan lapang dan futuristik, dengan garis-garis bodi yang bersih dan minimalis. Aksen aerodinamis berupa sayap yang seolah melayang hadir di bagian depan dan belakang, menambah kesan dinamis sekaligus fungsional. Lebih mencolok lagi adalah penerapan pintu bergaya ‘suicide doors’ yang mengingatkan pada kemewahan Rolls-Royce, sebuah pilihan yang jarang ditemui pada mobil sport namun memberikan sentuhan dramatis pada akses masuk dan keluar.
Detail lain yang tak kalah impresif adalah pada bagian kaki-kaki mobil. Luce EV dibekali dengan velg berukuran raksasa, 23 inci di depan dan 24 inci di belakang. Ukuran ini memecahkan rekor sebagai velg terbesar yang pernah diaplikasikan pada mobil jalan raya produksi Ferrari, menegaskan postur yang kokoh dan dominan.
Meskipun desain eksterior dikerjakan oleh pihak eksternal, Ferrari menegaskan bahwa seluruh aspek teknis dan komponen kendaraan dirakit secara mandiri (in-house). Keputusan ini diambil demi menjaga kendali penuh atas kualitas dan teknologi yang disematkan, serta untuk memastikan bahwa Ferrari Luce EV dapat terus dikembangkan dan dipelihara oleh perusahaan hingga masa depan. Hal ini juga merupakan upaya strategis untuk melindungi nilai jual kembali kendaraan, sebuah aspek krusial bagi merek sekelas Ferrari.
Namun, antusiasme Ferrari dalam merilis Luce EV harus berhadapan dengan kenyataan pahit. Alih-alih sambutan meriah, kendaraan listrik perdana ini justru dibanjiri kritikan pedas. Banyak pihak merasa bahwa desainnya terlalu jauh meninggalkan DNA Ferrari yang selama ini identik dengan aura supercar eksotis Italia yang penuh gairah dan identitas kuat.
Kritik tidak hanya datang dari kalangan umum, namun juga dari tokoh-tokoh penting yang memiliki ikatan emosional mendalam dengan merek tersebut. Mantan bos Ferrari, Luca Di Montezemolo, dan bahkan Wakil Perdana Menteri Italia, Matteo Salvini, turut menyuarakan kekecewaan mereka. Mereka berpendapat bahwa Luce EV telah kehilangan ‘roh’ Ferrari yang selama ini erat kaitannya dengan raungan mesin buas dan estetika desain yang mampu membangkitkan emosi.
Dampak dari reaksi negatif ini ternyata cukup signifikan. Dalam perdagangan di bursa Milan, saham Ferrari dilaporkan mengalami penurunan nilai sekitar 8 persen pasca peluncuran resmi mobil listrik tersebut. Sejumlah analis pasar mengaitkan anjloknya saham ini dengan fenomena ‘design hate’ atau ketidaksukaan publik secara luas terhadap tampilan Luce EV, yang dianggap tidak sesuai dengan ekspektasi dan citra merek yang telah terbangun selama puluhan tahun.
Fenomena ini menjadi sebuah studi kasus menarik mengenai bagaimana sebuah merek ikonik menghadapi tantangan inovasi, terutama dalam merambah segmen baru seperti kendaraan listrik. Keputusan Ferrari untuk menggandeng desainer ternama seperti Jony Ive dan Marc Newson menunjukkan ambisi mereka untuk mendobrak batas-batas konvensional. Namun, penerimaan pasar yang cenderung konservatif terhadap perubahan drastis pada elemen fundamental sebuah merek, seperti desain, menjadi pengingat bahwa inovasi harus selalu berjalan seiring dengan pemahaman mendalam terhadap identitas merek dan ekspektasi para penggemarnya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah Ferrari akan tetap teguh pada visi desain revolusioner ini, ataukah akan melakukan penyesuaian untuk meredakan ‘ketidaksukaan publik’ dan mengembalikan kepercayaan pasar? Hanya waktu yang akan menjawab.






