Meskipun saat ini tengah menikmati kesuksesan gemilang di kancah sepak bola Inggris bersama Arsenal, bek muda Italia, Riccardo Calafiori, ternyata menyimpan kerinduan mendalam untuk kembali membela klub masa kecilnya, AS Roma. Pengakuan ini membuka tabir tentang perasaan sang pemain yang tampaknya belum sepenuhnya tuntas di ibu kota Italia.
Perjalanan karier Calafiori memang tidak bisa dilepaskan dari Roma. Sejak usia muda, ia telah mengasah kemampuannya di akademi Giallorossi sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan menembus tim utama pada tahun 2020. Namun, kesempatan bermain yang minim, hanya mencatatkan 18 penampilan dalam tiga musim gabungan, membuatnya terpaksa mencari peruntungan di tempat lain. Periode peminjaman ke Genoa menjadi batu loncatan sebelum akhirnya ia memutuskan untuk hijrah ke luar Italia, bergabung dengan FC Basel, lalu kembali ke Serie A bersama Bologna, sebelum akhirnya mendarat di London Utara pada musim panas 2024.
Kini, Calafiori telah menjelma menjadi sosok penting bagi Arsenal. Sejauh ini, ia telah mengukir 65 penampilan di berbagai kompetisi untuk The Gunners, bahkan baru saja berhasil meraih gelar Premier League. Asa Calafiori untuk menambah pundi-pundi prestasinya semakin terbuka lebar, mengingat Arsenal akan segera menghadapi Paris Saint-Germain dalam partai puncak Liga Champions akhir pekan ini. Sebuah pencapaian luar biasa bagi pemain yang sempat merasa "tersesat" di tanah kelahirannya.
Menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan kembalinya ke Serie A di masa mendatang, Calafiori memberikan jawaban yang cukup lugas. "Belum sekarang," ujarnya, menunjukkan bahwa fokus utamanya masih tertuju pada tantangan di Inggris. Namun, ia tidak menampik adanya dorongan kuat untuk kembali ke Italia, khususnya ke Roma. "Salah satu alasan saya memutuskan untuk bermain di Inggris adalah karena tidak banyak pemain Italia yang berhasil di sini. Namun, tinggal di Italia memiliki nuansa yang berbeda dengan tempat lain. Dan saya merasa masih memiliki urusan yang belum terselesaikan di sana: Roma," ungkapnya.
Lebih lanjut, Calafiori menceritakan penyesalannya atas minimnya waktu bermain yang ia dapatkan saat masih muda di Roma. "Saat itu saya masih sangat muda, kesempatan bermain saya sangat terbatas. Saya ingin sekali kembali ke tim kesayangan saya," tuturnya kepada La Repubblica dan Cronache di spogliatoio, yang kemudian dikutip oleh Calciomercato. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa ada luka lama yang belum terobati, sebuah keinginan untuk membuktikan diri di klub yang pernah memberinya kesempatan pertama.
Meski begitu, keinginan untuk kembali ke Roma bukan berarti Calafiori akan segera meninggalkan Arsenal. Saat ini, ia masih terikat kontrak dengan klub asal London tersebut hingga musim panas 2029. Hal ini menunjukkan bahwa sang pemain memiliki komitmen jangka panjang terhadap The Gunners dan akan berusaha memberikan yang terbaik selama masa baktinya. Namun, jauh di lubuk hatinya, bayangan Stadio Olimpico dan seragam Giallorossi seolah terus menghantuinya, menjadi impian yang mungkin akan ia wujudkan di masa depan yang tidak terlalu jauh.
Keputusan Calafiori untuk hijrah ke Inggris memang terbilang berani. Ia melihat liga Inggris sebagai medan pembuktian diri yang menantang bagi talenta-talenta muda Italia. Keberhasilannya sejauh ini menjadi bukti bahwa ia mampu beradaptasi dan bersinar di kompetisi yang terkenal ketat. Namun, tak dapat dipungkiri, panggilan darah dan ikatan emosional dengan klub asal bisa menjadi kekuatan dahsyat yang menarik seorang pemain kembali ke pangkuan.
Masa depan Riccardo Calafiori masih terbuka lebar. Ia memiliki potensi untuk menjadi salah satu bek terbaik di generasinya. Apakah ia akan berhasil menuntaskan "urusan yang belum selesai" di Roma, atau justru akan terus menorehkan sejarah gemilang di Inggris, hanya waktu yang dapat menjawab. Namun, satu hal yang pasti, kerinduan Calafiori terhadap AS Roma adalah sebuah kisah yang menarik untuk diikuti dalam perjalanan kariernya sebagai pesepakbola profesional. Ia adalah bukti bahwa cinta terhadap klub masa kecil bisa bertahan lama, bahkan di tengah gemerlap karier internasional.
This article was rewritten using AI technology based on information from sport.detik.com without altering the facts of the original article.






