Musim perdana Liam Delap di Stamford Bridge tampaknya menjadi babak baru dalam rentetan kisah kurang beruntung yang menghantui para pemakai nomor punggung keramat, nomor sembilan, di Chelsea. Sang striker muda yang didatangkan dari Ipswich Town ini, sebagaimana banyak pendahulunya, harus menelan pil pahit kegagalan dalam upaya membuktikan diri di lini depan The Blues. Catatan tiga gol sepanjang musim jelas jauh dari ekspektasi, terlebih jika dibandingkan dengan performanya yang lebih gemilang di klub lamanya, di mana ia mampu mencetak dua belas gol di musim sebelumnya.
Alih-alih mencetak gol demi gol, Delap justru lebih sering menghiasi daftar per kartu. Lima kartu kuning dan satu kartu merah menjadi bukti nyata betapa sulitnya ia beradaptasi dan memberikan dampak signifikan bagi tim. Kondisi ini semakin mempertegas sebuah fenomena yang telah lama membayangi Chelsea: kutukan nomor sembilan. Seolah-olah, nomor punggung yang identik dengan predator di kotak penalti ini membawa beban tak kasat mata yang membuat para pemainnya kesulitan bersinar.
Sejarah kelam nomor sembilan Chelsea telah terukir sejak tahun 2016. Sebelum Delap, deretan penyerang kelas dunia pun tak luput dari nasib serupa. Pierre-Emerick Aubameyang, misalnya, hanya mampu mengemas tiga gol di musim pertamanya, sebuah catatan yang sangat ironis mengingat reputasinya sebagai mesin gol. Romelu Lukaku, meski mencetak lima belas gol, kerap dikritik karena inkonsistensi dan isu lainnya yang membuatnya harus angkat kaki dari klub. Begitu pula dengan Gonzalo Higuain, yang hanya bertahan sebentar dengan sumbangan lima gol, serta Alvaro Morata, yang meskipun mencetak lima belas gol, juga tak pernah benar-benar meyakinkan publik Stamford Bridge. Para pemain ini, dengan latar belakang dan kualitas yang berbeda-beda, semuanya mengalami masa-masa sulit saat mengenakan lambang nomor sembilan di punggung mereka.
Menariknya, beberapa penyerang yang justru tampil gemilang dan menjadi idola publik Chelsea justru enggan mengenakan nomor punggung yang dianggap legendaris ini. Diego Costa, salah satu penyerang paling ditakuti di era Premier League, memilih nomor punggung sembilan belas dan sukses mengukir rekor luar biasa dengan mencetak lima puluh sembilan gol selama membela The Blues. Lebih baru lagi, Joao Pedro, yang menunjukkan performa impresif di musim perdananya dengan mencetak dua puluh tiga gol, memilih nomor punggung dua puluh. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah nomor sembilan Chelsea memang membawa aura negatif, ataukah ada faktor lain yang menyebabkan para striker kesulitan beradaptasi?
Beberapa analisis menyebutkan bahwa tekanan media dan ekspektasi yang sangat tinggi di Chelsea menjadi salah satu penyebab utama. Klub sebesar Chelsea selalu dituntut untuk meraih gelar setiap musimnya, dan peran seorang striker nomor sembilan menjadi sangat krusial dalam upaya tersebut. Ketika seorang pemain gagal memenuhi ekspektasi tersebut, sorotan publik dan media bisa menjadi sangat intens, bahkan dapat memengaruhi mentalitas dan performa sang pemain di lapangan. Selain itu, gaya permainan tim yang mungkin tidak sepenuhnya cocok dengan karakter seorang striker nomor sembilan klasik juga bisa menjadi faktor penghambat. Adaptasi terhadap taktik, rekan satu tim, dan liga yang berbeda membutuhkan waktu dan dukungan yang memadai.
Kutukan nomor sembilan Chelsea ini bukan sekadar cerita usang, melainkan sebuah pola yang terus berulang dan menjadi topik perdebatan hangat di kalangan penggemar sepak bola. Liam Delap, dengan segala potensi yang dimilikinya, kini berada di persimpangan jalan. Akankah ia mampu mematahkan tren negatif ini dan mengukir namanya sebagai salah satu striker sukses di Stamford Bridge, ataukah ia akan menjadi korban selanjutnya dari misteri nomor punggung sembilan Chelsea yang belum terpecahkan? Waktu dan kerja keras akan menjadi jawaban bagi nasib sang striker muda di klub sebesar Chelsea.
This article was rewritten using AI technology based on information from sport.detik.com without altering the facts of the original article.






