Peluncuran mobil listrik pertama Ferrari, yang diberi nama Luce EV, telah memicu gelombang reaksi yang tak terduga. Alih-alih sambutan meriah yang diprediksi untuk sebuah mahakarya dari pabrikan legendaris, kendaraan ini justru menghadapi kritik pedas. Banyak pihak merasa desain Luce EV menyimpang drastis dari identitas visual ikonik yang selama ini melekat pada Ferrari, menimbulkan pertanyaan apakah mobil ini benar-benar mencerminkan semangat Maranello.
Salah satu suara paling kritis datang dari Luca Di Montezemolo, mantan orang nomor satu di Ferrari selama dua dekade. Ia menyuarakan kekecewaan mendalam atas arah desain yang diambil oleh Luce EV. Menurutnya, estetika mobil listrik ini begitu jauh dari ciri khas Ferrari, bahkan ia berani berujar bahwa produsen otomotif asal Tiongkok pun enggan meniru gayanya. Montezemolo secara tegas menyatakan bahwa ada risiko besar menghancurkan warisan legendaris Ferrari jika terus melangkah di jalur ini. Ia mengungkapkan kekhawatirannya bahwa mobil ini tidak akan pernah menjadi inspirasi bagi merek lain, khususnya dari Tiongkok yang dikenal giat meniru desain-desain sukses. Pernyataan ini menggarisbawahi betapa krusialnya menjaga orisinalitas dan identitas merek yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Dulu, desain mobil-mobil Ferrari seringkali menjadi tolok ukur dan sumber inspirasi bagi pabrikan otomotif lainnya di seluruh dunia. Namun, era Luce EV tampaknya menandai sebuah pergeseran fundamental. Montezemolo berpendapat bahwa logo ‘kuda jingkrak’ yang menjadi simbol kebanggaan Ferrari terasa tidak pantas disematkan pada Luce EV. Ia merasa bahwa jika ia mengungkapkan seluruh pikirannya secara terbuka, hal itu justru akan merugikan Ferrari. Namun, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menyuarakan penyesalannya melihat sebuah legenda berisiko terkikis. Montezemolo berharap, setidaknya, ada pertimbangan untuk melepaskan logo ikonik tersebut dari kendaraan ini sebagai pengakuan atas perbedaannya yang signifikan.
Ferrari Luce EV sendiri telah resmi diperkenalkan untuk pasar global. Pelanggan di Eropa dapat mulai melakukan pemesanan pada akhir tahun ini dengan banderol harga sekitar 520 ribu Euro, atau setara dengan Rp 12 miliar. Sementara itu, pasar di luar Eropa baru akan menerima unit mobil ini pada tahun depan.
Menariknya, desain Luce EV digarap oleh LoveFrom, sebuah studio desain ternama yang dipimpin oleh Jony Ive dan Marc Newson. Keduanya dikenal luas atas kontribusi mereka dalam menciptakan desain ikonik untuk produk-produk Apple, seperti iPhone dan Apple Watch. Hasil kolaborasi ini melahirkan sebuah mobil dengan konsep "glass house" yang sangat bersih dan minimalis. Terdapat sayap aerodinamis yang tampak melayang di bagian depan dan belakang, serta pintu baris kedua yang mengadopsi gaya "suicide doors" yang mengingatkan pada kemewahan Rolls-Royce.
Dari segi dimensi, Luce EV menampilkan proporsi yang kokoh. Penggunaan velg berukuran masif menjadi salah satu ciri khasnya; 23 inci di bagian depan dan 24 inci di bagian belakang. Ukuran ini menjadikannya velg terbesar yang pernah dipasang pada mobil produksi jalan raya Ferrari. Komitmen Ferrari untuk menjaga keunikan dan nilai jangka panjang kendaraan ini terlihat dari pernyataan mereka bahwa semua komponen dibuat secara mandiri atau "in-house". Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa mobil dapat diperbaiki oleh perusahaan sendiri di masa depan, sekaligus melindungi nilai jual kembali kendaraan tersebut.
Di balik tampilan futuristiknya, Luce EV dibekali dengan performa yang impresif layaknya supercar Ferrari pada umumnya. Motor listrik di bagian depan mampu menghasilkan tenaga sebesar 282 HP (210 kW), sementara motor listrik di bagian belakang menyumbangkan daya sebesar 831 HP (620 kW). Ketika diaktifkan dalam mode "Boost", kombinasi tenaga dari keempat motor listriknya mampu mencapai 1.035 HP. Dengan konfigurasi empat motor listrik ini, Ferrari Luce EV diklaim mampu berakselerasi dari 0 hingga 100 km/jam hanya dalam waktu 2,5 detik, sebuah catatan waktu yang sangat mengesankan untuk sebuah kendaraan listrik. Namun, di balik angka-angka performa yang fantastis tersebut, aspek desainlah yang menjadi sorotan utama dan memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar dan para ahli otomotif.






