Kemenangan bersejarah Persib Bandung yang sukses mengamankan gelar juara Super League musim 2025/26 menjadi penanda momen yang tak terlupakan bagi Teja Paku Alam. Bukan hanya trofi yang berhasil dibawa pulang, tetapi juga sebuah pencapaian personal yang fenomenal: rekor jumlah pertandingan tanpa kebobolan terbanyak sepanjang sejarah Liga Indonesia.
Pertandingan terakhir Persib musim itu melawan Persijap Jepara berakhir dengan skor kacamata, 0-0. Hasil imbang tersebut sudah cukup bagi ‘Maung Bandung’ untuk mengunci mahkota juara dengan total raihan 79 poin. Meskipun poin yang sama juga diraih oleh Borneo FC, Persib berhak atas gelar juara berkat keunggulan dalam rekor pertemuan (head-to-head). Gelar ketiga berturut-turut ini terasa semakin manis bagi Teja Paku Alam dengan hadirnya sebuah rekor pribadi yang membanggakan: catatan nirbobol yang belum pernah terjadi sebelumnya di era kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Dengan tambahan satu pertandingan tanpa kebobolan di laga penutup musim, Teja Paku Alam berhasil mencatatkan total 18 pertandingan tanpa pernah merasakan bola bersarang di gawangnya sepanjang musim. Angka ini melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh Yoo Jae-hoon, seorang kiper asal Korea Selatan yang pada musim 2013 saat memperkuat Persipura Jayapura di ajang Indonesia Super League (ISL) berhasil mencatatkan 17 pertandingan nirbobol.
Fakta yang menambah menariknya situasi ini adalah bahwa Teja Paku Alam berhasil memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang oleh Yoo Jae-hoon, justru di hadapan sang pemegang rekor lama itu sendiri. Saat pertandingan terakhir Persib melawan Persijap, Yoo Jae-hoon hadir di stadion dengan kapasitas sebagai pelatih kiper tim lawan. Sebuah ironi yang sarat makna, di mana sang pewaris takhta kiper legendaris secara langsung melampaui pencapaian pendahulunya.
Catatan impresif Teja Paku Alam ini secara tidak langsung juga menjadi cerminan kokohnya lini pertahanan yang dibangun oleh para pemain belakang Persib Bandung. Sepanjang musim, ‘Maung Bandung’ memang tercatat sebagai tim yang paling sedikit kebobolan, hanya kemasukan bola sebanyak 22 kali dari total pertandingan yang dilakoni. Ini menunjukkan adanya sinergi yang luar biasa antara lini depan, tengah, dan belakang, yang dipimpin oleh Teja di bawah mistar gawang.
Namun, di tengah kebahagiaan atas pencapaian individu dan tim, perlu dicatat bahwa penghargaan individu untuk kategori kiper terbaik di ajang I.League musim tersebut justru jatuh ke tangan Nadeo Argawinata, penjaga gawang dari Borneo FC Samarinda. Nadeo berhasil mengumpulkan total 135 penyelamatan sepanjang musim, sebuah angka yang menunjukkan performa individu yang gemilang dalam mengantisipasi serangan lawan.
Perbandingan performa antara Teja dan Nadeo terlihat dari jumlah penyelamatan yang dilakukan. Teja Paku Alam, yang fokus pada menjaga gawangnya agar tidak kebobolan, tercatat melakukan penyelamatan di kisaran 60-an kali saja. Jumlah ini memang tidak sebanyak Nadeo, yang mungkin lebih sering dihadapkan pada situasi tembakan ke arah gawang timnya. Akibatnya, Teja Paku Alam tidak masuk dalam daftar nominasi untuk penghargaan kiper terbaik, meskipun ia telah menorehkan sejarah dengan rekor nirbobolnya yang fantastis.
Meski demikian, pencapaian Teja Paku Alam tidak bisa dipandang sebelah mata. Rekor nirbobol yang ia catatkan adalah bukti nyata dari kemampuannya dalam membaca permainan, antisipasi yang jitu, dan kepercayaan diri yang tinggi. Ia berhasil memberikan kontribusi yang sangat besar bagi Persib Bandung dalam perjalanan mereka meraih gelar juara untuk ketiga kalinya secara beruntun. Sebuah momen yang akan terukir dalam sejarah sepak bola Indonesia, membuktikan bahwa ketenangan dan efektivitas di bawah mistar gawang bisa menghasilkan rekor yang tak terduga dan membanggakan. Performa Teja ini juga membuktikan bahwa kiper tidak hanya dinilai dari jumlah penyelamatan, tetapi juga dari kemampuannya menjaga gawang agar tetap steril.
Keberhasilan ini juga membuka diskusi menarik mengenai metrik penilaian performa seorang kiper. Apakah jumlah penyelamatan adalah satu-satunya tolok ukur, ataukah konsistensi dalam menjaga gawang tetap aman, seperti yang ditunjukkan oleh Teja Paku Alam, juga memiliki nilai yang sama, bahkan lebih? Pertanyaan ini akan terus relevan dalam analisis sepak bola, terutama ketika seorang pemain mampu menorehkan sejarah dengan cara yang unik dan membanggakan, seperti yang dilakukan oleh Teja di musim Super League 2025/26 ini. Pencapaiannya ini bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi juga sebuah warisan berharga bagi generasi kiper selanjutnya di kancah sepak bola Indonesia.






