Perlukah Mobil Jarang Dipakai Rutin Dinyalakan Mesinnya? Panduan Menjaga Aki Tetap Prima

Ricky Bastian

Banyak pemilik kendaraan beranggapan bahwa mobil yang jarang digunakan akan lebih awet, terutama pada komponen akinya. Namun, anggapan ini keliru. Justru sebaliknya, kendaraan yang terlalu lama terdiam di garasi justru lebih rentan mengalami penurunan performa, salah satunya adalah masalah aki yang cepat ‘soak’ atau kehilangan daya. Mohan Kurniawan, Kepala Bengkel Astra Peugeot Surabaya, menjelaskan bahwa usia pakai aki bukanlah satu-satunya penentu ketahanan, melainkan lebih dipengaruhi oleh pola penggunaan dan perawatan yang tidak tepat.

Aki, atau baterai, merupakan komponen krusial yang berfungsi sebagai sumber energi utama bagi seluruh sistem kelistrikan kendaraan. Mulai dari mengaktifkan mesin saat starter, menyuplai daya untuk sistem pengapian, hingga menggerakkan berbagai fitur elektronik modern yang semakin kompleks, semuanya bergantung pada performa aki yang prima. Oleh karena itu, perawatan aki bukanlah sekadar kewajiban tambahan, melainkan fondasi penting untuk memastikan kendaraan berfungsi optimal dan mencegah gangguan kelistrikan yang tidak diinginkan.

Secara umum, umur pakai aki mobil berkisar antara dua hingga tiga tahun. Namun, angka ini sangat bervariasi dan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk bagaimana kendaraan tersebut digunakan, kondisi keseluruhan mobil, serta seberapa cermat pemiliknya dalam melakukan perawatan. Aki tipe basah, misalnya, cenderung memiliki masa pakai yang lebih singkat dibandingkan aki jenis Maintenance Free (MF). Hal ini dikarenakan aki basah memerlukan perhatian ekstra, seperti pemeriksaan rutin terhadap ketinggian cairan elektrolit untuk menjaga efektivitas reaksinya.

Faktanya, sebagian besar kasus aki ‘soak’ ternyata tidak disebabkan oleh faktor usia semata. Akar permasalahannya justru seringkali terletak pada cara pemilik kendaraan memperlakukan dan merawat akinya. Aki bekerja dengan menyimpan energi listrik melalui serangkaian reaksi kimia. Energi ini kemudian akan diisi kembali oleh alternator saat mesin mobil menyala. Untuk memastikan suplai daya listrik tetap stabil dan optimal, langkah pemeriksaan paling mendasar yang dapat dilakukan adalah mengukur tegangan aki menggunakan alat khusus seperti voltmeter atau battery tester.

Ketika mesin dalam keadaan mati, sebuah aki yang sehat seharusnya memiliki tegangan antara 12,6 Volt hingga 12,8 Volt. Jika hasil pengukuran menunjukkan tegangan berada di kisaran 12,4 Volt, ini merupakan indikasi awal bahwa kemampuan aki dalam menyimpan daya mulai menurun. Namun, jika tegangan turun drastis hingga di bawah 12 Volt, ini adalah sinyal bahaya. Aki tersebut berisiko mengalami kondisi ‘soak’ dan tidak lagi mampu menyimpan daya secara optimal, sehingga perlu segera mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Sementara itu, saat mesin kendaraan dinyalakan, sistem pengisian daya oleh alternator idealnya menghasilkan tegangan antara 13,7 Volt hingga 14,7 Volt. Apabila tegangan pengisian berada di bawah angka tersebut, ada kemungkinan besar sistem pengisian atau alternator mengalami masalah dan tidak bekerja sebagaimana mestinya. Menurut Mohan Kurniawan, tegangan yang rendah secara teknis mengindikasikan penurunan kemampuan aki dalam menyimpan daya. Penurunan ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari usia pakai yang sudah tua, terbentuknya kristal sulfat pada pelat aki yang menghambat reaksi kimia, hingga masalah pada sistem pengisian daya kendaraan.

Selain pentingnya memeriksa tegangan aki, pola penggunaan kendaraan juga memiliki pengaruh signifikan terhadap keawetan aki. Mitos bahwa mobil yang jarang dipakai akan membuat akinya lebih awet ternyata sepenuhnya salah. Justru, kendaraan yang terlalu lama ‘nganggur’ di garasi lebih rentan mengalami penurunan performa jika dibandingkan dengan mobil yang rutin digunakan.

Untuk menjaga kondisi aki agar tetap prima, para ahli menyarankan agar kendaraan digunakan setidaknya selama 20 hingga 30 menit dalam satu kali perjalanan. Durasi waktu ini dianggap cukup untuk memungkinkan alternator mengisi daya aki secara optimal. Bagi pemilik kendaraan yang jarang menggunakan mobilnya, disarankan untuk menyalakan mesin setidaknya dua hingga tiga kali dalam seminggu. Tindakan sederhana ini sangat membantu menjaga kestabilan daya aki dan mencegah penurunan performanya.

Perawatan lain yang tak kalah penting adalah menjaga kebersihan area terminal aki. Terminal yang kotor, berkarat, atau teroksidasi dapat menjadi penghambat aliran listrik. Akibatnya, sistem starter mobil akan terasa berat, dan performa kelistrikan secara keseluruhan akan menurun drastis. Kebersihan terminal aki memastikan koneksi listrik yang lancar dan optimal.

Baik pada aki tipe basah maupun aki MF, posisi pemasangan dan pengikat aki juga memerlukan perhatian khusus. Guncangan yang berlebihan saat mobil melaju di jalan yang tidak rata dapat memengaruhi kondisi sel-sel di dalam aki dan mempercepat kerusakan. Oleh karena itu, sangat penting untuk memastikan pengikat aki selalu dalam kondisi baik dan terpasang kencang. Hal ini bertujuan agar posisi aki tetap stabil dan meminimalkan risiko kerusakan akibat getaran.

Aspek krusial lainnya yang tidak boleh terlewatkan adalah memastikan sistem pengisian daya atau alternator berfungsi dengan baik. Alternator yang bermasalah dapat menyebabkan aki terus-menerus kekurangan suplai daya, yang pada akhirnya akan merusak aki secara permanen. Beberapa gejala umum yang mengindikasikan adanya masalah pada alternator meliputi menyalanya lampu indikator aki di dashboard, starter mobil terasa berat saat dinyalakan, hingga aki yang baru saja diganti namun cepat kehilangan dayanya. Pemeriksaan rutin terhadap kondisi alternator akan membantu mencegah kerusakan aki yang lebih parah dan memastikan sistem kelistrikan kendaraan selalu dalam kondisi prima.

Also Read

Tags