Liverpool, Inggris – Meski telah mengukir nama sebagai salah satu penyerang tersubur dalam sejarah Liverpool sejak kepindahannya pada tahun 2017, Mohamed Salah ternyata belum sepenuhnya memenuhi standar yang ditetapkan oleh buah hatinya sendiri. Keputusan sang bintang Mesir untuk mengakhiri petualangannya bersama The Reds di akhir musim 2025-2026, satu tahun lebih awal dari kontraknya, menandai momen perpisahan emosional. Laga pamungkas melawan Brentford pada Minggu, 24 Mei 2026, akan menjadi panggung terakhir Salah mengenakan seragam kebesaran merah-merah di Anfield.
Perpisahan ini tidak hanya mengakhiri era Salah di Liverpool, tetapi juga mengakhiri kiprahnya yang gemilang di kancah sepak bola Inggris selama hampir satu dekade. Sejak menginjakkan kaki di Merseyside, Salah telah menjelma menjadi figur ikonik, menasbihkan dirinya sebagai salah satu pesepakbola terbaik di dunia. Ribuan gol dan assist telah ia sumbangkan, memecahkan berbagai rekor prestisius dengan kaki kirinya yang mematikan. Koleksi 257 gol dalam 441 penampilan menempatkannya di posisi ketiga daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa Liverpool, sebuah pencapaian luar biasa yang jarang disamai.
Namun, di balik gemerlap prestasi dan statistik yang impresif, pandangan dari dua putra Salah, Makka dan Kayan, justru memberikan perspektif yang unik dan menggelitik. Dalam sebuah wawancara khusus yang diselenggarakan oleh tim media Liverpool sebagai bagian dari rangkaian perpisahan sang ayah, kedua anak Salah mengungkapkan penilaian mereka terhadap performa ayah mereka. Kayan, misalnya, dengan lugas memberikan nilai 7 dari 10 untuk keseluruhan karier ayahnya di Liverpool. Baginya, untuk mencapai skor yang lebih sempurna, sang ayah masih perlu meningkatkan produktivitas golnya. "Ayah harus mencetak lebih banyak gol," ujar Kayan, menyiratkan bahwa meskipun sudah banyak, jumlah gol tersebut belum mencapai titik optimal di matanya.
Pandangan Kayan ini turut diamini oleh kakaknya, Makka. Ia menambahkan bahwa selain urusan mencetak gol, Salah juga perlu lebih sering berperan sebagai pemberi assist bagi rekan-rekan setimnya. "Ya, dia harus mencetak gol lebih banyak dan lebih banyak mengumpan," tutur Makka, menunjukkan bahwa ia melihat peran ayahnya tidak hanya terbatas pada finishing, tetapi juga dalam menciptakan peluang bagi pemain lain. Pernyataan kedua anak Salah ini secara tidak langsung menggambarkan bahwa meskipun para penggemar dan kritikus sepak bola sepakat akan kehebatan Salah, di mata anak-anaknya, sang ayah masih memiliki ruang untuk berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih besar lagi.
Fenomena ini menarik untuk dicermati. Di dunia profesional, pencapaian individu seperti gol dan assist seringkali menjadi tolok ukur utama kesuksesan seorang pemain. Namun, bagi seorang anak, cinta dan pengabdian seorang ayah seringkali tercermin dalam hal-hal yang lebih fundamental, termasuk bagaimana ayah mereka bisa lebih banyak berinteraksi dan berbagi kesuksesan, baik secara personal maupun kolektif. Mungkin saja, dalam benak Makka dan Kayan, mereka berharap ayahnya bisa lebih sering merayakan gol bersama rekan-rekannya, atau menyaksikan ayahnya menjadi kreator serangan yang membuka pertahanan lawan.
Komentar anak-anak Salah ini juga bisa diartikan sebagai sebuah bentuk dukungan yang unik. Di tengah sorotan publik yang intens dan tekanan yang selalu mengiringi karier seorang pesepakbola bintang, ucapan dari keluarga, terutama anak-anak, memiliki nilai tersendiri. Ini menunjukkan bahwa di luar lapangan hijau, Mohamed Salah adalah seorang ayah yang dicintai dan terus dipantau perkembangannya oleh orang-orang terdekatnya. Penilaian mereka, meski mungkin terdengar sederhana bagi sebagian orang, mencerminkan harapan tulus seorang anak terhadap ayahnya.
Perpisahan Salah dari Liverpool ini tidak hanya menjadi momen kesedihan bagi para pendukung setia The Reds, tetapi juga menjadi titik refleksi bagi sang pemain sendiri. Mendengar komentar dari Makka dan Kayan, mungkin saja Salah akan tersenyum geli sekaligus merenungkan arti dari "lebih banyak gol" dan "lebih banyak mengumpan" dari sudut pandang yang berbeda. Ini adalah pengingat bahwa di balik label "pemain kelas dunia" dan "legenda klub", ada seorang individu yang juga memiliki peran penting sebagai ayah, yang senantiasa ingin memberikan yang terbaik bagi keluarganya, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Mohamed Salah telah memberikan segalanya untuk Liverpool, mengukir sejarah yang tak akan terlupakan. Ia telah menjadi inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia, termasuk bagi kedua putranya. Meskipun begitu, apresiasi dari Makka dan Kayan memberikan dimensi baru pada warisan Salah. Ini adalah pengingat bahwa bahkan seorang bintang sekalipun, di mata orang-orang terkasihnya, selalu memiliki potensi untuk menjadi lebih baik lagi, untuk terus berjuang dan memberikan lebih banyak kegembiraan, entah itu melalui gol-gol spektakuler maupun umpan-umpan matang yang berujung pada kemenangan tim. Ekspektasi anak-anak ini, meski terdengar sederhana, justru menunjukkan kedalaman hubungan keluarga dan harapan yang tulus dari hati seorang anak untuk ayahnya.






