Sirkuit Catalunya baru saja menjadi saksi bisu insiden mengerikan yang mengguncang jagat balap motor. Di tengah panasnya persaingan MotoGP Catalunya 2026, insiden kecelakaan yang melibatkan beberapa pembalap memunculkan kekhawatiran serius mengenai keselamatan. Luca Marini, salah satu pebalap yang menjadi saksi mata sekaligus korban langsung dari situasi berbahaya ini, secara tegas menyerukan larangan segera terhadap perangkat pengatur tinggi motor atau yang kerap disebut height adjustment device.
Marini menceritakan pengalamannya yang nyaris celaka saat balapan harus dilanjutkan kembali. Ia menjelaskan bahwa perangkat yang berfungsi untuk menurunkan ketinggian motor tersebut mengalami malfungsi dan tetap aktif, membuatnya kesulitan bahkan nyaris mustahil untuk mengendalikan laju motornya saat memasuki tikungan. "Saat balapan dimulai kembali untuk ketiga kalinya, saya benar-benar tidak bisa mengendalikan motor karena alat itu tetap berfungsi. Situasinya jauh lebih membahayakan," ungkap Marini, mengutip pernyataan yang disampaikan kepada media Motosan.
Lebih lanjut, Marini memaparkan betapa berbahayanya situasi yang dialaminya. Ia terpaksa melewati dua tikungan pertama dalam kondisi perangkat yang masih aktif. Untuk mengatasinya, ia harus melakukan manuver ekstrem dengan menegakkan motornya dan kemudian sengaja menjatuhkannya agar alat tersebut terlepas. Pengalaman traumatis ini semakin memperkuat keinginannya untuk mengakhiri penggunaan teknologi tersebut. "Kami semua sangat berharap teknologi ini segera dihilangkan," tegasnya, menyuarakan aspirasi banyak pembalap yang merasakan hal serupa.
Meskipun regulasi MotoGP telah mengindikasikan pelarangan perangkat ini di masa mendatang, Marini menganggap penundaan hingga tahun 2027 sebagai sebuah kekeliruan besar. Ia berargumen bahwa masalah ini harus segera diatasi, sebelum ada korban lain yang berjatuhan, terutama di sirkuit-sirkuit yang memiliki karakteristik lintasan lurus panjang yang menuntut penggunaan perangkat tersebut secara maksimal. Sirkuit seperti Mugello, yang memiliki lintasan lurus yang sangat panjang, menjadi salah satu contoh yang dikhawatirkan Marini.
"Mugello memiliki karakteristik yang sangat mirip dengan sirkuit ini (Catalunya). Semua pembalap biasanya menurunkan perangkat mereka di lintasan lurus, dan ini sangat berisiko saat melakukan pengereman. Itulah mengapa ini harus diperbaiki secepatnya!" seru Marini, menekankan urgensi dari isu keselamatan ini. Ia menambahkan bahwa meskipun balap motor secara inheren memiliki risiko yang tinggi, height device saat ini justru menjadi faktor pemicu yang memperbesar potensi terjadinya kecelakaan massal.
Marini mengakui bahwa kecelakaan bukanlah fenomena baru dalam dunia balap motor, bahkan sudah ada jauh sebelum teknologi ini muncul. Namun, ia tidak menampik bahwa perangkat tersebut secara signifikan berkontribusi dalam memicu insiden yang lebih parah. "Memang bukan sepenuhnya salah perangkat tersebut, karena kecelakaan sudah ada sejak dulu sebelum alat itu eksis. Tetapi tidak bisa dipungkiri, alat itu sangat membantu memicu terjadinya kecelakaan," pungkasnya.
Kecelakaan hebat yang menimpa Johann Zarco dan Alex Marquez menjadi bukti nyata dari risiko brutal yang harus dihadapi para pembalap di lintasan. Situasi tersebut membuat Marini, yang merupakan adik tiri dari legenda MotoGP Valentino Rossi, menyadari betapa para pembalap MotoGP sedang mempertaruhkan nyawa mereka di setiap tikungan dan setiap lap. Insiden horor tersebut memaksa Zarco dan Marquez untuk segera menjalani operasi, dan meninggalkan trauma mendalam bagi Marini.
Ketegangan di paddock sempat memuncak ketika balapan diputuskan untuk dilanjutkan hanya berselang 10 menit setelah insiden mengerikan tersebut. Hal ini menambah beban psikologis para pembalap. "Ini adalah bagian dari tuntutan kami sebagai pembalap MotoGP. Kami sadar bahwa olahraga otomotif sangat berbahaya, dan sepeda motor itu sendiri memiliki tingkat bahaya yang tinggi," ungkap Marini, mencoba memahami tuntutan profesinya.
Ia melanjutkan dengan menggambarkan betapa nahasnya kecelakaan yang dialami Alex Marquez. "Kecelakaan yang dialami Alex benar-benar sebuah nasib sial. Bahkan dengan ruang pengaman seluas apa pun di dunia, hal brutal seperti itu tetap bisa terjadi. Motor itu berbahaya, kawan. Kami semua di sini siap mempertaruhkan nyawa kami di setiap tikungan, di setiap lap!" serunya dengan nada prihatin namun tegas.
Marini bahkan sempat menarik paralel antara insiden di Catalunya dengan kenangan pahit yang pernah dialaminya di Sirkuit Suzuka, Jepang, yang melibatkan insiden serupa. "Saya sangat menyesal atas apa yang menimpa Zarco. Sekarang, setelah ketegangan balapan mereda, saya merasa sangat terpukul dengan kejadian ini," tuturnya dengan nada sedih. Namun, ia merasa sedikit lega karena, berbeda dengan tragedi di Suzuka, penanganan medis di Catalunya dapat dilakukan dengan segera. "Tapi untungnya, berbeda dengan kejadian (tragedi) di Suzuka, operasi di sini bisa langsung dilakukan dengan segera," tambahnya, menunjukkan sedikit kelegaan di tengah kekhawatiran yang masih menyelimuti.






