Pemerintah Indonesia terus mendorong pemerataan konektivitas digital dengan menargetkan kecepatan internet mencapai 100 Mbps, tidak hanya di pusat-pusat kota, tetapi juga di wilayah pedesaan dan kawasan terpencil yang belum tersentuh jaringan serat optik. Inisiatif ini bertujuan agar masyarakat di seluruh pelosok nusantara memiliki kesempatan yang setara dalam menikmati akses internet berkualitas.
Langkah ini selaras dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang dalam pidato pelantikannya menegaskan bahwa digitalisasi merupakan landasan krusial dalam mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat. Konektivitas yang andal diibaratkan sebagai jalan tol digital yang menghubungkan setiap individu ke pusat informasi, edukasi, dan ekonomi.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menekankan bahwa pernyataan Presiden menjadi landasan kuat dalam pelaksanaan agenda digital nasional. “Sebagaimana kita ketahui bersama, dalam pidato pelantikannya, Presiden menyampaikan secara berulang pentingnya digitalisasi untuk meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat,” ujar Meutya saat mengadakan pertemuan dengan pimpinan operator seluler di kantor Kementerian Komdigi, Jakarta, Kamis lalu.
Untuk merealisasikan misi tersebut, pemerintah menawarkan sejumlah dukungan konkret bagi penyelenggara layanan telekomunikasi. Salah satunya adalah dengan menyediakan alokasi spektrum frekuensi baru serta sistem jaringan terbuka (open access), yang mendorong keterlibatan lebih banyak pelaku industri dan menjamin tarif layanan yang dapat dijangkau oleh semua kalangan.
Spektrum yang dimaksud adalah frekuensi 1,4 GHz yang rencananya akan dibuka melalui proses lelang untuk dimanfaatkan sebagai media transmisi layanan nirkabel berkecepatan tinggi atau Broadband Wireless Access (BWA). Kehadiran spektrum ini diproyeksikan menjadi jembatan yang menghubungkan daerah tanpa infrastruktur kabel serat optik dengan layanan digital yang stabil dan cepat.
Dengan pendekatan ini, akses internet cepat diharapkan dapat menjangkau berbagai fasilitas umum seperti sekolah, Puskesmas, kantor-kantor pemerintahan desa, serta rumah tangga di pelosok negeri. Realisasi kebijakan ini diibaratkan seperti menyalurkan aliran listrik ke desa-desa—sebuah langkah transformasional yang mempercepat kemajuan peradaban digital.
Namun, data dari Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi menunjukkan masih banyak tantangan yang harus diatasi. Saat ini, sekitar 86 persen sekolah atau sekitar 190 ribu unit belum memiliki sambungan internet tetap. Begitu pula dengan fasilitas layanan kesehatan, di mana 75 persen Puskesmas setara dengan 7.800 unit belum memiliki koneksi internet memadai.
Tak hanya itu, sekitar 32 ribu kantor desa masih berada di zona blank spot atau wilayah tanpa sinyal internet, dan hanya 21,31 persen rumah tangga yang telah menikmati layanan internet tetap (fixed broadband). Data ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan infrastruktur digital di luar kota besar masih sangat mendesak.
Sebagai bentuk keseriusan, pemerintah akan mendistribusikan spektrum baru secara terbuka dan dapat diakses oleh operator secara adil. Konsep open access memungkinkan infrastruktur jaringan yang dibangun oleh satu penyedia bisa dimanfaatkan juga oleh pihak lain, sehingga efisiensi dan kecepatan pembangunan bisa meningkat.
“Ini adalah langkah kami dalam memastikan bahwa setiap kebijakan spektrum tidak hanya mengutamakan aspek regulasi, tapi juga membuka ruang seluas-luasnya untuk keterlibatan dan kesiapan industri,” ungkap Meutya.
Sebagai fondasi hukum dari program internet murah ini, Peraturan Menteri terkait telah melewati proses diskusi dan konsultasi bersama pelaku industri selama lebih dari satu bulan. Ini menunjukkan bahwa kebijakan yang diambil tidak berjalan sepihak, melainkan mengakomodasi kebutuhan dan kesiapan teknis para pemangku kepentingan.
Proses seleksi operator yang akan mengelola spektrum tersebut akan dimulai tahun ini. Mekanismenya akan dirancang dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas, serta mempertimbangkan kesiapan teknologi dan kesanggupan penyedia untuk menawarkan layanan internet yang ramah di kantong masyarakat.






