Perusahaan teknologi papan atas asal Tiongkok, Huawei, resmi memperkenalkan dua produk laptop anyar pada Senin (18/5), yang ditenagai oleh sistem operasi buatan mereka sendiri, HarmonyOS. Peluncuran ini sekaligus menjadi langkah awal bagi sistem operasi tersebut memasuki ranah komputer pribadi (PC).
Perangkat yang dikenalkan dalam kesempatan itu adalah Huawei MateBook Pro serta MateBook Fold Ultimate Design. Keduanya menjadi simbol nyata dari ambisi Huawei untuk membawa HarmonyOS melampaui batasan perangkat genggam seperti ponsel pintar dan tablet, dan mulai menantang dominasi sistem operasi veteran seperti Windows milik Microsoft dan macOS dari Apple di pasar komputer.
Acara perkenalan produk digelar di Chengdu, kota metropolitan yang juga merupakan pusat administrasi Provinsi Sichuan di bagian barat daya negeri Tirai Bambu. Dalam pidatonya, Yu Chengdong, yang menjabat sebagai direktur eksekutif Huawei, menyampaikan bahwa komputer yang berjalan dengan HarmonyOS memberikan sebuah pengalaman komputasi yang menyatu, berkat integrasi antara piranti lunak, piranti keras, perangkat fisik, serta layanan berbasis awan.
“Komputer yang didukung HarmonyOS mengintegrasikan perangkat lunak, perangkat keras, peranti, dan layanan komputasi awan untuk memberikan pengalaman baru yang menyeluruh dalam penggunaan PC,” ujar Yu Chengdong.
HarmonyOS, yang dalam bahasa Mandarin dikenal sebagai Hongmeng, adalah sistem operasi dengan sifat sumber terbuka (open-source). Platform ini dirancang agar mampu beroperasi lintas perangkat dan sesuai dengan berbagai skenario penggunaan. Sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 2019, HarmonyOS telah menjejakkan kaki di beragam lini produk — mulai dari smartphone, tablet, gawai wearable seperti jam tangan pintar, peralatan rumah tangga berbasis teknologi pintar, hingga kendaraan berbasis energi baru.
Langkah Huawei ini dapat diibaratkan seperti menanam pohon baru di ladang yang selama ini didominasi dua raksasa besar. Dengan membawa HarmonyOS ke komputer pribadi, perusahaan ini berusaha menyemai benih kemandirian digital di lahan yang sebelumnya dikuasai pihak asing.






