Memiliki kendaraan pribadi, khususnya mobil, seringkali menjadi impian banyak orang. Namun, ketika pendapatan bulanan berada di kisaran Rp 5 juta, muncul pertanyaan besar: apakah impian tersebut realistis untuk dikejar melalui skema cicilan? Jawabannya ternyata tidak sesederhana "ya" atau "tidak", melainkan membutuhkan perhitungan finansial yang cermat dan pertimbangan matang. Memaksakan diri membeli mobil tanpa perencanaan yang solid dapat berujung pada kesulitan keuangan di kemudian hari, terutama bagi mereka yang pendapatannya relatif terbatas.
Menurut pandangan seorang ekonom senior dari Permata Bank, Josua Pardede, secara teori, memiliki gaji Rp 5 juta per bulan bukanlah halangan mutlak untuk bisa mencicil mobil. Namun, kunci utamanya terletak pada kemampuan mengendalikan besaran cicilan bulanan. Ia menekankan bahwa porsi cicilan kendaraan sebaiknya tidak melampaui batas aman, yang secara umum direkomendasikan berada di kisaran 20 hingga 25 persen dari total pendapatan bulanan. Dengan demikian, untuk individu dengan gaji Rp 5 juta, alokasi dana untuk cicilan mobil yang dianggap sehat hanya berkisar antara Rp 1 juta hingga Rp 1,25 juta setiap bulannya. Angka ini menjadi acuan penting agar keuangan pribadi tetap stabil dan tidak terbebani secara berlebihan oleh kewajiban kredit kendaraan.
Namun, membeli mobil bukan sekadar soal kemampuan membayar cicilan. Ada serangkaian biaya lain yang menyertainya dan seringkali terabaikan dalam perhitungan awal. Josua Pardede mengingatkan bahwa pemilik mobil harus siap menganggarkan dana untuk berbagai keperluan, mulai dari biaya bahan bakar yang fluktuatif, ongkos parkir di berbagai lokasi, biaya tol, perawatan rutin dan servis berkala, hingga pajak kendaraan tahunan yang nominalnya bisa cukup signifikan. Jika total pengeluaran yang berkaitan dengan mobil ini, termasuk cicilannya, sudah memakan lebih dari 30 hingga 35 persen dari total pendapatan bulanan, maka kondisi keuangan rumah tangga bisa tertekan dan menjadi sangat sempit. Ini berarti, akan ada sedikit ruang untuk pos pengeluaran lain yang tak terduga atau untuk menabung.
Dalam konteks ekonomi yang cenderung tidak pasti seperti saat ini, Josua Pardede memberikan saran yang cukup tegas. Bagi mereka yang berpenghasilan Rp 5 juta per bulan, ia menyarankan untuk mempertimbangkan kembali atau bahkan menunda niat membeli mobil melalui skema kredit. Situasi seperti ini menuntut kehati-hatian ekstra dalam mengambil keputusan finansial yang besar. Pengecualian bisa terjadi jika seseorang sudah memiliki tabungan yang memadai dan dapat digunakan untuk menutupi sebagian besar biaya cicilan mobil tanpa perlu terbebani utang baru. Yang terpenting, jangan pernah tergiur oleh tawaran uang muka (DP) yang rendah dengan iming-iming cicilan yang ringan, karena seringkali ini hanya menunda masalah dan justru meningkatkan beban bunga secara keseluruhan.
Lebih lanjut, Josua Pardede menguraikan bahwa untuk individu dengan penghasilan Rp 5 juta, pendekatan yang lebih bijak adalah fokus menabung terlebih dahulu hingga terkumpul dana uang muka yang cukup besar. Dengan uang muka yang lebih besar, jumlah pokok utang yang perlu dibiayai akan berkurang secara signifikan. Hal ini otomatis akan menurunkan nominal cicilan bulanan, sekaligus mengurangi total beban bunga yang harus dibayarkan selama masa kredit. Selain itu, uang muka yang besar juga akan memberikan "ruang napas" finansial yang lebih lapang. Ruang ini sangat krusial jika sewaktu-waktu terjadi kenaikan biaya hidup yang tak terduga atau jika ada gangguan pada sumber penghasilan. Fleksibilitas finansial menjadi sangat berharga dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Apabila membeli mobil menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak dan tidak bisa ditunda lagi, Josua Pardede merekomendasikan untuk mempertimbangkan opsi kendaraan bekas. Namun, ia memberikan catatan penting: proses seleksi mobil bekas harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan selektif. Tujuannya adalah untuk mendapatkan unit mobil yang kondisinya masih prima dan terawat dengan baik. Memilih mobil bekas yang tepat dapat meminimalkan biaya perawatan dan perbaikan di kemudian hari, sehingga tidak menambah beban pengeluaran bulanan yang sudah ada. Jangan sampai, karena tergiur oleh harga beli mobil bekas yang terlihat murah, justru di kemudian hari pemilik harus merogoh kocek lebih dalam untuk biaya servis dan perbaikan yang tak terduga. Pilihan cerdas adalah mobil bekas yang terawat baik dan tidak memerlukan banyak perbaikan tambahan agar tidak menggerus pendapatan bulanan secara signifikan. Intinya, keputusan membeli mobil, terutama dengan keterbatasan finansial, harus selalu didasari oleh perhitungan matang dan prioritas yang jelas.






