Kegalauan Mohamed Salah di Liverpool mulai memicu gelombang kritik, mengingatkan pada drama yang pernah mewarnai kepergian Cristiano Ronaldo dari Manchester United di bawah asuhan Erik ten Hag. Pernyataan publik Salah melalui media sosial, yang menyerukan kembalinya Liverpool pada filosofi permainan menyerang agresif, diinterpretasikan oleh sebagian pihak sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap arah taktik yang diusung oleh pelatih baru, Arne Slot.
Komentar Salah yang menyiratkan kerinduan akan gaya permainan "heavy metal" yang ikonik bagi Liverpool, dan menyarankan bahwa semua yang bergabung dengan klub harus beradaptasi dengan identitas tersebut, menimbulkan pertanyaan tentang keselarasan visi antara pemain bintang dan staf kepelatihan. Frustrasinya tampaknya semakin memuncak seiring dengan frekuensi ia dicadangkan dalam beberapa pertandingan terakhir, sebuah pengalaman yang pernah diungkapkannya secara metaforis sebagai "dilempar ke kolong bus."
"Saya berkeinginan melihat Liverpool kembali menjadi kekuatan dominan yang menakutkan lawan dengan gaya menyerang ‘heavy metal’ yang telah membawa trofi. Ini adalah sepak bola yang saya kuasai, dan ini adalah identitas yang perlu dipulihkan dan dipertahankan selamanya. Prinsip ini tidak bisa ditawar, dan setiap individu yang bergabung dengan klub ini wajib menyesuaikan diri," demikian bunyi pernyataan tegas Salah di platform Instagram pribadinya.
Ungkapan ini sontak memicu reaksi keras dari legenda Liverpool, Jamie Carragher. Mantan bek tengah The Reds tersebut tidak ragu melontarkan kritik tajam, menyebut tindakan Salah sebagai bentuk egoisme. Carragher bahkan menyamakan situasi ini dengan apa yang dialami Cristiano Ronaldo selama periode keduanya di Manchester United. Ronaldo, yang kerapkali memulai pertandingan dari bangku cadangan di bawah Erik ten Hag, akhirnya melancarkan serangan verbal terhadap klub dan sang pelatih setelah ia diputus kontrak.
"Saya sudah menduga bahwa akan ada sesuatu yang terjadi menjelang akhir musim," ujar Carragher, seperti dikutip dari Sky Sports. Ia melanjutkan dengan perbandingan yang gamblang, "Salah baru saja menjatuhkan bom seperti yang dilakukan Ronaldo saat meninggalkan Manchester United. Saya pikir Salah akan pergi, tetapi ternyata tidak." Carragher menambahkan rasa kecewanya, mengingat Liverpool tengah berada dalam fase krusial dalam perebutan tiket Liga Champions musim depan, namun Salah tampaknya hanya memikirkan kepentingannya sendiri.
Kisah Cristiano Ronaldo di Manchester United memang menjadi preseden yang menarik untuk dicermati. Pada musim 2022/23, Ronaldo secara terbuka mengungkapkan rasa sakit hatinya terhadap Erik ten Hag, merasa kerapkali tidak diberi kesempatan bermain sebagai starter dan hanya mendapatkan peran sebagai pemain pengganti. Ketegangan memuncak hingga akhirnya Ronaldo memutuskan untuk hengkang pada awal tahun 2023 menuju Al Nassr. Setelah kepindahannya, Ronaldo tidak segan-segan melontarkan kritik pedas terhadap Manchester United, menyebut bahwa klub tersebut belum menunjukkan kemajuan signifikan sejak ia pertama kali bergabung pada tahun 2003. Lebih lanjut, ia juga meragukan pemahaman Erik ten Hag mengenai sepak bola.
Peristiwa ini menunjukkan pola yang berulang dalam dunia sepak bola, di mana ego pemain bintang dan dinamika kekuasaan dengan pelatih dapat menimbulkan konflik terbuka. Ketika seorang pemain kunci merasa tidak dihargai atau tidak sejalan dengan strategi tim, luapan emosi melalui media publik dapat menjadi cara untuk menyampaikan ketidakpuasan.
Dalam kasus Salah, keinginannya untuk melihat Liverpool kembali pada etos menyerang yang lebih agresif bisa jadi merupakan refleksi dari identitasnya sebagai pemain yang haus gol dan selalu ingin berkontribusi secara ofensif. Namun, di sisi lain, filosofi pelatih baru seperti Arne Slot mungkin memiliki pendekatan yang berbeda, yang menekankan pada keseimbangan tim, transisi cepat, atau penguasaan bola yang lebih terkontrol. Perbedaan gaya dan ekspektasi ini, jika tidak dikomunikasikan dan dikelola dengan baik, berpotensi menciptakan keretakan dalam tim.
Kritik dari seorang figur sekuat Jamie Carragher tidak bisa dianggap remeh. Sebagai mantan pemain yang sangat dihormati di Anfield, pandangannya seringkali memiliki bobot tersendiri bagi para penggemar dan bahkan para pemain. Sindirannya yang menyamakan Salah dengan Ronaldo menunjukkan bahwa gestur publik semacam ini dianggap sebagai tindakan yang merusak citra tim dan menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap proses yang sedang dijalani oleh klub dan pelatih.
Penting untuk dicatat bahwa situasi ini terjadi di tengah upaya Liverpool untuk membangun kembali kejayaan mereka di bawah kepemimpinan Arne Slot. Pergantian manajer setelah era Jürgen Klopp yang legendaris tentu saja membawa tantangan tersendiri. Penggemar dan pengamat sepak bola akan terus memantau bagaimana Salah dan Slot akan menavigasi fase transisi ini. Apakah Salah akan menemukan kembali peran sentralnya dalam skema permainan Slot, atau apakah retaknya hubungan ini akan berujung pada perpindahan pemain bintang tersebut di masa depan, masih menjadi pertanyaan yang menggantung.
Sejarah telah membuktikan bahwa konflik antara pemain bintang dan pelatih dapat menjadi titik balik yang signifikan bagi sebuah klub, baik positif maupun negatif. Pengalaman Cristiano Ronaldo di Manchester United menjadi pengingat akan potensi kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh perselisihan semacam itu. Dengan Mohamed Salah yang kini berada di pusaran kontroversi serupa, Liverpool di bawah Arne Slot akan menghadapi ujian besar dalam mengelola ego pemain kunci dan menjaga keharmonisan tim demi meraih kesuksesan di masa mendatang. Pertanyaan besarnya adalah, apakah Liverpool dapat belajar dari masa lalu, atau justru akan mengulang episode drama yang sama di era baru mereka?






