Nasib Persis Solo di kasta tertinggi sepak bola Indonesia musim 2025-2026 kini berada di ujung tanduk, dan ironisnya, mereka tidak lagi sepenuhnya memegang kendali atas nasib mereka sendiri. Tim yang identik dengan julukan Laskar Sambernyawa ini tengah berjuang keras untuk menghindari jurang degradasi, sebuah perjuangan yang akan menemui puncaknya dalam tiga pertandingan sisa musim ini. Perjalanan mereka di liga elit tampaknya akan segera berakhir, sebuah kenyataan pahit bagi klub yang diakuisisi oleh Kevin Nugroho dan putra Presiden Republik Indonesia, Kaesang Pangarep, pada tahun 2021 ketika masih berkompetisi di Liga 2.
Keberhasilan promosi ke Liga 1 hanya dalam tempo satu musim pasca-akuisisi sempat membangkitkan optimisme besar. Namun, setelah empat tahun berlaga di level tertinggi, klub yang bermarkas di Stadion Manahan, Surakarta, ini kini menghadapi ancaman serius untuk kembali turun kasta. Saat ini, Persis Solo menduduki posisi krusial di puncak klasemen zona degradasi, menempati peringkat ke-16 dengan raihan 27 poin dari 31 pertandingan yang telah dilakoni.
Dengan hanya menyisakan tiga pertandingan, skuat asuhan Milomir Seslija ini harus memeras keringat dan mengerahkan seluruh kemampuan untuk bertahan. Jarak empat poin memisahkan mereka dari Persijap Jepara dan lima poin dari Madura United, dua tim yang saat ini berada di zona aman. Kegagalan untuk mengungguli kedua rival di papan bawah akan berarti Persis Solo harus menyusul langkah Semen Padang dan PSBS Biak menuju Championship, kompetisi kasta kedua.
Kemenangan dalam ketiga laga pamungkas ini saja tidak akan cukup untuk menjamin keselamatan. Muhammad Riyandi dan kawan-kawan juga sangat bergantung pada hasil pertandingan tim lain, berharap para pesaing mereka terpeleset. Sang pelatih, Milomir Seslija, menegaskan semangat juang timnya. Ia menyatakan bahwa Persis Solo tidak akan pernah menyerah dan memiliki keinginan kuat untuk bertahan di liga utama. Menurutnya, persaingan saat ini bersifat terbuka bagi semua tim, baik yang berada di papan atas maupun yang berjuang di zona degradasi. Setiap tim memiliki peluang, dan Persis akan memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
Upaya penyelamatan klub telah diinisiasi oleh manajemen sejak pertengahan musim, ditandai dengan pemecatan pelatih sebelumnya, Peter de Roo, pada bulan Oktober. Penunjukan Milomir Seslija sebagai nakhoda baru diharapkan membawa angin segar, yang kemudian diperkuat dengan kebijakan "cuci gudang" dengan melepas seluruh pemain asing pada bursa transfer Januari. Namun, melihat situasi terkini, berbagai upaya tersebut tampaknya belum membuahkan hasil yang diharapkan, dan ancaman degradasi tetap membayangi.
Skenario terburuk bagi para pendukung setia Persis Solo, atau yang dikenal sebagai Pasoepati, adalah jika klub kesayangan mereka dipastikan terdegradasi pada pekan ke-32 kompetisi. Hal ini bisa terjadi apabila Persijap dan Madura United berhasil meraih kemenangan dalam pertandingan mereka, sementara Persis Solo sendiri harus menelan kekalahan dari tim tangguh Persebaya Surabaya.
Jadwal padat di pengujung musim ini menuntut konsentrasi penuh dari setiap pemain. Tiga pertandingan tersisa yang akan menentukan nasib Persis Solo di Super League 2025-2026 adalah sebagai berikut:
Pertama, pada tanggal 9 Mei 2026, Persis Solo akan menjamu Persebaya Surabaya di kandang sendiri. Laga ini akan menjadi ujian berat pertama dalam upaya menghindari degradasi.
Selanjutnya, pada tanggal 16 Mei 2026, Persis Solo dijadwalkan bertandang melawan Dewa United. Pertandingan tandang ini akan menguji mental dan kemampuan tim untuk bermain di bawah tekanan.
Pekan terakhir musim ini, tepatnya pada tanggal 23 Mei 2026, Persis Solo akan menghadapi Persita Tangerang di kandang lawan. Pertandingan ini berpotensi menjadi penentu akhir nasib mereka di liga utama, di mana setiap poin akan sangat berharga.
Perjalanan Persis Solo di Super League musim ini memang penuh dengan liku-liku. Sejak diakuisisi oleh Kaesang Pangarep dan Kevin Nugroho, klub ini telah menunjukkan ambisi besar untuk bangkit dan bersaing di papan atas. Promosi kilat ke Liga 1 menjadi bukti nyata dari potensi tersebut. Namun, kompetisi di level tertinggi sepak bola Indonesia tidaklah mudah. Persaingan yang ketat, perubahan komposisi pemain, dan adaptasi taktik seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi tim-tim yang baru promosi atau sedang dalam fase transisi.
Kini, dengan hanya tiga laga tersisa, setiap pertandingan Persis Solo akan terasa seperti final. Fokus tidak hanya tertuju pada performa tim sendiri, tetapi juga pada hasil-hasil pertandingan rival langsung di zona degradasi. Pelatih Milomir Seslija sadar betul akan hal ini. Ia terus berupaya memotivasi para pemainnya agar tetap tenang, fokus pada setiap pertandingan, dan memberikan yang terbaik di lapangan.
Dukungan dari para suporter, meskipun mungkin tidak bisa hadir langsung di stadion karena berbagai kendala, tetap menjadi energi tambahan bagi para pemain. Semangat pantang menyerah yang ditanamkan oleh pelatih dan manajemen diharapkan dapat membakar semangat juang Laskar Sambernyawa untuk mengukir keajaiban di akhir musim. Apakah Persis Solo akan mampu bertahan di Super League, atau justru harus kembali berkompetisi di Championship? Jawabannya akan tersaji dalam beberapa pekan mendatang, dalam tiga pertandingan yang akan menentukan sejarah klub ini. Perjuangan ini bukan hanya tentang mempertahankan posisi di liga, tetapi juga tentang membuktikan ketangguhan dan semangat juang sebuah tim yang ingin terus berkiprah di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.






