Persija Jakarta menutup gelaran Super League 2025/26 dengan menempati posisi ketiga klasemen akhir. Prestasi ini, meski terbilang membanggakan, menyisakan catatan kontradiktif: performa impresif saat melakoni laga tandang berbanding terbalik dengan kesulitan yang dihadapi ketika bermain di hadapan publik sendiri. Kelemahan di kandang inilah yang disinyalir menjadi batu sandungan utama bagi tim berjuluk Macan Kemayoran untuk bersaing lebih ketat dengan para penghuni papan atas.
Di bawah komando pelatih Mauricio Souza, Persija berhasil mengumpulkan total 71 poin dari 38 pertandingan. Rinciannya, tim ibu kota mencatat 11 kemenangan, lima kali hasil imbang, dan tujuh kekalahan. Angka tersebut menempatkan mereka terpaut delapan poin dari sang juara, Persib Bandung, serta runner-up Borneo FC Samarinda, yang keduanya mengumpulkan 79 poin.
Analisis lebih mendalam terhadap perolehan poin Persija mengungkap sebuah pola yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Dari total 71 poin yang diraih, sebanyak 37 poin berhasil dikumpulkan saat bertanding di kandang lawan. Sementara itu, perolehan poin di kandang sendiri hanya menyentuh angka 34. Fakta ini menjadikan Persija sebagai tim dengan koleksi poin tandang terbanyak di liga, mengungguli Borneo FC Samarinda (33 poin) dan Persib Bandung (32 poin).
Namun, keunggulan di laga tandang ini tidak mampu menutupi defisit poin yang dialami di markas sendiri. Jika dibandingkan dengan dua tim teratas, Persija tertinggal jauh dalam perolehan poin kandang. Persib Bandung tercatat mengoleksi 47 poin dari laga kandang, sementara Borneo FC Samarinda mengumpulkan 46 poin. Kesenjangan inilah yang menjadi faktor krusial kegagalan Persija untuk merangsek ke posisi yang lebih tinggi dalam tabel klasemen.
Pelatih Mauricio Souza sendiri mengakui bahwa performa di kandang menjadi area yang perlu dibenahi secara serius. Ia berpendapat bahwa inkonsistensi di stadion sendiri merupakan penentu utama posisi akhir tim di klasemen. "Mengenai musim ini, saya rasa kami seharusnya bisa tampil lebih baik saat bermain di kandang. Saya rasa itulah yang menentukan posisi akhir di kompetisi," ungkap Souza, seperti dikutip dari laman resmi klub.
Souza lebih lanjut menyoroti keunikan timnya musim ini. Ia mengemukakan bahwa secara historis, tim yang mampu tampil solid saat menjalani laga tandang kerap kali mendapatkan keuntungan besar dalam persaingan gelar juara. "Secara historis, tim yang bermain bagus di luar kandang biasanya memiliki keuntungan besar di kompetisi, dan kami adalah tim terbaik saat bermain tandang," tambahnya. Pernyataan ini menggarisbawahi kekuatan Persija yang mampu beradaptasi dan meraih hasil maksimal di berbagai stadion, sebuah pencapaian yang tidak semua tim mampu lakukan.
Berbeda dengan Persija, tim-tim seperti Persib dan Borneo FC berhasil memaksimalkan faktor kandang sebagai kekuatan utama mereka. Bermain di hadapan ribuan pendukung setia yang memberikan dukungan moral tak henti-hentinya, terbukti menjadi modal berharga dalam mengamankan poin demi poin. Atmosfer stadion yang membakar semangat juang pemain di kandang sendiri menjadi pembeda signifikan.
Sebaliknya, Persija justru kerap kali tersandung di kandang. Catatan dua kekalahan dan empat kali hasil imbang di pertandingan kandang menjadi bukti nyata kesulitan yang dihadapi. Ironisnya, kesulitan ini diperparah dengan beberapa situasi di mana pemain Persija harus keluar lapangan lebih awal akibat kartu merah. Kondisi ini tentu sangat merugikan tim dalam upaya mengamankan poin penuh.
"Kami meraih poin terbanyak di laga tandang. Namun, di kandang sendiri, kami kehilangan sekitar 11 poin. Belum lagi beberapa pertandingan di mana ada pemain kami yang terkena kartu merah, yang akhirnya merugikan kami," jelas Mauricio Souza, merinci lebih lanjut kerugian yang dialami timnya. Kehilangan poin di kandang sendiri, ditambah dengan jumlah pemain yang berkurang akibat sanksi kartu, menjadi kombinasi mematikan yang menghambat laju Persija untuk menggapai mimpi juara.
Evaluasi menyeluruh terhadap performa Persija di Super League 2025/26 menunjukkan bahwa kekuatan mental dan kemampuan beradaptasi di luar kandang adalah aset berharga. Namun, untuk bisa bersaing di level tertinggi, kemampuan untuk mengamankan kemenangan dan meraih poin maksimal di kandang sendiri mutlak harus ditingkatkan. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi jajaran pelatih dan seluruh elemen tim Persija untuk musim mendatang, agar paradoks ini dapat diatasi dan Macan Kemayoran kembali menunjukkan taringnya di markas sendiri.
This article was rewritten using AI technology based on information from sport.detik.com without altering the facts of the original article.






