Luka Mendalam Calafiori: Mengapa Piala Dunia 2026 Menjadi Tabu Baginya

Darus Sinatria

Riccardo Calafiori, bek muda yang kini membela Arsenal, mengungkapkan beban emosional yang masih menghantuinya akibat kegagalan tragis Timnas Italia melaju ke Piala Dunia 2026. Luka tersebut begitu dalam, membuatnya merasa tidak akan sanggup untuk menyaksikan perhelatan akbar sepak bola dunia itu.

Dua bulan sebelum turnamen dimulai, Calafiori masih dibayangi oleh pertandingan krusial yang menentukan nasib Gli Azzurri. Ia menjadi salah satu pemain yang diturunkan penuh saat Italia berhadapan dengan Bosnia dalam laga playoff Kualifikasi Piala Dunia 2026. Pertandingan yang seharusnya menjadi tiket menuju panggung dunia itu justru berubah menjadi mimpi buruk. Italia terpaksa bermain dengan sepuluh orang sejak akhir babak pertama menyusul kartu merah yang diterima Alessandro Bastoni. Ironisnya, kondisi timpang tersebut dimanfaatkan oleh Bosnia untuk menyamakan kedudukan.

Skor imbang 1-1 bertahan hingga akhir waktu normal, dan bahkan berlanjut tanpa gol tambahan di babak perpanjangan waktu. Ketegangan memuncak dalam drama adu penalti, di mana Italia akhirnya menyerah dengan skor telak 4-1. Hasil ini menandai sebuah pukulan telak: kegagalan Italia lolos ke putaran final Piala Dunia untuk kali ketiga berturut-turut, sebuah catatan yang tentu sangat menyakitkan bagi sejarah sepak bola Italia yang kaya prestasi.

Calafiori, yang kini berusia 24 tahun, secara terbuka menyampaikan bagaimana beratnya menerima kenyataan pahit tersebut. Ia menyatakan bahwa menonton jalannya Piala Dunia 2026 akan menjadi pengalaman yang sangat menyiksa baginya. "Saya rasa saya tidak akan bisa menonton pertandingannya, rasanya akan terlalu menyakitkan," tuturnya kepada media, mengutip pernyataan yang disiarkan oleh La Repubblica dan Cronache di spogliatoio. Baginya, kegagalan lolos kualifikasi ini merupakan sebuah pukulan yang sangat sulit untuk dicerna dan diterima.

Meskipun kesibukan bermain reguler bersama Arsenal sedikit membantunya mengalihkan pikiran dari kegagalan tersebut, Calafiori mengakui bahwa pada awalnya, proses adaptasi dan penerimaan kenyataan itu memang terasa sangat rumit. Ia masih mengingat detail pertandingan melawan Bosnia dengan jelas. Ada harapan besar yang tumbuh di awal laga, terutama mengingat mereka bermain di kandang yang sejatinya sulit bagi tim tamu. Italia bahkan sempat memimpin. Namun, gol balasan di menit ke-80 mengubah segalanya, dan momen tersebut menjadi salah satu pertandingan yang paling tidak ingin ia tonton ulang.

"Itu adalah pertandingan yang seharusnya kami menangkan, dan sayangnya, hasil akhirnya tidak seperti yang diharapkan," tambahnya. Meski begitu, Calafiori tetap memiliki harapan bahwa pengalaman pahit ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi timnas Italia di masa depan, meskipun ia sendiri belum yakin bagaimana pelajaran tersebut akan terwujud dalam bentuk perbaikan.

Kekecewaan yang dirasakan Calafiori mencerminkan rasa frustrasi yang meluas di kalangan pemain dan suporter Italia. Keputusan untuk tidak menyaksikan Piala Dunia 2026 bukanlah sekadar pilihan personal, melainkan sebuah manifestasi dari luka emosional yang mendalam akibat kegagalan yang berulang. Penundaan ini tentu memberikan waktu bagi federasi sepak bola Italia, para pelatih, dan pemain untuk melakukan evaluasi menyeluruh, merumuskan strategi baru, dan membangun kembali kekuatan tim agar tidak terulang kembali kesalahan serupa di masa mendatang. Harapan untuk melihat Italia kembali bersaing di panggung terbesar sepak bola dunia tetap ada, namun proses penyembuhan luka dan rekonsolidasi kekuatan akan menjadi tantangan tersendiri.

Disclaimer

This article was rewritten using AI technology based on information from sport.detik.com without altering the facts of the original article.

Also Read

Tags