Marian Mihail, sosok pelatih yang kini membesut PSBS Biak, tak luput dari perhatian pada momen penting sepak bola Indonesia. Meski timnya saat ini tengah berjuang di kasta yang berbeda, Mihail menunjukkan sisi profesionalismenya dengan memberikan ucapan selamat yang tulus kepada PSS Sleman, mantan klub yang pernah diasuhnya. Momen ini terjadi di tengah situasi yang kontras bagi kedua tim, di mana PSBS Biak mengalami degradasi sementara PSS Sleman justru berhasil mengamankan tiket promosi ke kasta tertinggi.
Perjalanan Marian Mihail di persepakbolaan Indonesia memang memiliki jejak yang cukup menarik, khususnya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebelum menukangi PSBS Biak yang kini menjadikan Yogyakarta sebagai "rumah" sementara, Mihail sempat menjabat sebagai pelatih PSS Sleman. Kedatangannya ke tanah air pada tahun 2023 menandai babak baru karirnya di kancah sepak bola nasional. Bersama PSS Sleman, yang dijuluki "Elang Jawa", Mihail melakoni 15 pertandingan di Liga 1 musim 2023/2024. Namun, kebersamaannya dengan tim kebanggaan Sleman ini harus berakhir lebih cepat. Tekanan dari berbagai pihak, termasuk para pendukung, menjadi faktor yang memicu keputusannya untuk mengundurkan diri dari kursi kepelatihan.
Setelah meninggalkan Stadion Maguwoharjo, markas PSS Sleman, Mihail kembali ke lokasi yang sama namun dengan bendera tim yang berbeda. Sejak Februari lalu, pria asal Rumania yang kini berusia 68 tahun ini dipercaya untuk memimpin PSBS Biak. Keputusan ini diambil di tengah situasi klub yang sedang menghadapi krisis finansial yang cukup parah, sebuah kondisi yang berimbas pada performa tim di lapangan. Sejak mengambil alih kemudi, Mihail dihadapkan pada tantangan berat untuk mengangkat performa tim yang tercatat buruk.
Dalam sebelas pertandingan yang ia jalani bersama PSBS Biak, rekor yang dicatatkan terbilang memprihatinkan. Hanya satu kali tim asuhannya mampu meraih hasil imbang, sementara sisanya berakhir dengan kekalahan. Pukulan telak diterima PSBS Biak pada pekan ke-32 Super League 2025/26, ketika mereka harus mengakui keunggulan Dewa United dengan skor telak 0-5. Ironisnya, pertandingan tersebut digelar di Stadion Sultan Agung, Bantul, karena Stadion Maguwoharjo yang seharusnya menjadi kandang PSBS harus digunakan untuk partai final Championship. Kondisi tim yang bahkan tidak sempat melakukan latihan sebelum pertandingan menjadi salah satu faktor yang memperparah kekalahan tersebut.
Di tengah hiruk-pikuk degradasi dan situasi sulit yang dihadapi PSBS Biak, Marian Mihail tetap menjaga semangat sportivitasnya. Ia menyempatkan diri untuk menyampaikan apresiasi dan selamat kepada PSS Sleman yang berhasil meraih promosi ke Super League. Momen ini menjadi refleksi bagaimana sepak bola seringkali mempertemukan dua sisi yang berbeda, antara kesuksesan dan kegagalan, namun tetap ada ruang untuk saling menghargai.
"Saya ingin menyampaikan selamat yang sebesar-besarnya kepada PSS Sleman yang telah berhasil menembus Super League," ujar Mihail dalam sesi konferensi pers pasca-pertandingan. Pernyataannya ini dilontarkan dengan nada yang menunjukkan kebanggaan atas pencapaian mantan timnya, sekaligus sedikit rasa kecewa atas nasib PSBS Biak yang harus turun kasta. "Tentu saja, ada sedikit rasa kecewa karena kami tidak lagi berada di Super League," tambahnya, merefleksikan situasi timnya saat ini.
Mihail juga membuka kemungkinan untuk menjalin silaturahmi lebih lanjut melalui pertandingan uji coba di masa depan. "Ke depannya, kami mungkin akan mencoba menggelar laga uji coba," ungkapnya, menyiratkan harapan untuk menjaga hubungan baik dengan PSS Sleman, sebuah klub yang memiliki sejarah panjang dengannya.
Menariknya, dalam kurun waktu sekitar 24 jam setelah pertandingan PSBS Biak melawan Dewa United, Mihail berkesempatan untuk menyaksikan secara langsung partai final Championship yang mempertemukan PSS Sleman dengan Garudayaksa FC. Momen ini tentu memberikan perspektif yang unik baginya, melihat kembali klub yang pernah ia latih berjuang untuk gelar juara di momen yang sama ketika timnya mengalami masa sulit.
Kisah Marian Mihail ini menjadi pengingat bahwa di dunia sepak bola yang kompetitif, rasa hormat dan apresiasi terhadap pencapaian orang lain tetap menjadi nilai yang penting. Meskipun PSBS Biak tengah berjuang di bawah tekanan dan PSS Sleman merayakan keberhasilan promosi, semangat sportivitas yang ditunjukkan oleh Mihail patut diapresiasi. Perjalanan karirnya di Indonesia, yang melibatkan dua klub besar di Yogyakarta, menunjukkan bahwa ia memiliki ikatan emosional yang kuat dengan daerah tersebut dan perkembangan sepak bola di sana. Pengalamannya melatih di berbagai situasi, mulai dari klub papan atas yang tertekan hingga tim yang menghadapi krisis, memberikan perspektif yang kaya tentang tantangan dan dinamika dalam dunia kepelatihan sepak bola.
Promosi PSS Sleman sebagai juara Grup Timur Championship menjadi sebuah pencapaian luar biasa yang patut dibanggakan oleh seluruh elemen tim dan suporternya. Sementara itu, perjuangan PSBS Biak di Super League di bawah arahan Mihail akan menjadi kisah yang menarik untuk diikuti, bagaimana mereka akan bangkit dari keterpurukan dan kembali bersaing di level tertinggi. Hubungan antara pelatih dan klub seringkali bersifat dinamis, namun apresiasi yang tulus dari Mihail kepada PSS Sleman menunjukkan bahwa ikatan profesionalisme dan rasa hormat dapat tetap terjalin, bahkan di tengah perbedaan nasib di klasemen.






