Jordi Alba, bek kiri legendaris yang telah mengukir sejarah gemilang bersama Barcelona, ternyata pernah merasakan jurang keterpurukan terdalam dalam kariernya yang panjang. Momen pahit itu datang tujuh tahun lalu, saat tim Catalan tersebut bertandang ke markas Liverpool. Kekalahan dramatis di Anfield menjadi luka yang membekas, sebuah episode yang diakui Alba sebagai titik terendah emosionalnya di dunia sepak bola.
Setelah memutuskan gantung sepatu dari Inter Miami pada musim panas lalu, Alba menutup babak baru dalam kariernya yang membentang hampir dua dekade di level klub. Periode paling bersinar baginya tak diragukan lagi adalah masa baktinya di Barcelona, yang berlangsung dari tahun 2012 hingga 2023. Selama 11 musim membela Blaugrana, Alba berhasil mengoleksi total 17 trofi bergengsi. Koleksinya meliputi enam gelar LaLiga, lima Copa del Rey, dan satu trofi Liga Champions yang diraih pada musim 2014-2015.
Namun, di balik rentetan kesuksesan itu, terdapat sebuah kekalahan yang menghancurkan mimpi dan meninggalkan luka mendalam. Momen tersebut terjadi di semifinal Liga Champions empat musim setelah kemenangan bersejarahnya. Barcelona yang saat itu diunggulkan, berbekal kemenangan meyakinkan 3-0 di leg pertama yang digelar di Camp Nou, seolah sudah satu kaki di partai final. Namun, mimpi buruk justru datang di leg kedua di Anfield. Barcelona secara mengejutkan takluk dengan skor telak 4-0, yang berarti tersingkir secara agregat dengan skor 3-4.
Jordi Alba sendiri mengakui betapa beratnya pukulan tersebut. Kekalahan dramatis itu membuatnya merasa terpukul luar biasa hingga memilih untuk mengasingkan diri di rumah. Ia bahkan mengungkapkan keyakinannya bahwa jika saja Barcelona mampu melewati hadangan Liverpool, trofi Liga Champions musim itu akan menjadi milik mereka.
Dalam sebuah kesempatan bincang-bincang di podcast "El Camino de Mario", Alba secara terbuka menceritakan rasa sakitnya. Ia menyebut malam di Anfield sebagai malam terburuk dalam kariernya. Ia menepis anggapan bahwa ia menangis di jeda babak, namun mengakui dirinya merasa tidak enak badan saat itu. Alba juga merasa bertanggung jawab atas gol pertama Liverpool, yang menurutnya menjadi titik balik kekalahan timnya.
"Kami sudah unggul 3-0 di leg pertama. Pertandingan itu seharusnya tidak mungkin lepas dari genggaman kami. Saya yakin, seandainya kami bisa mencapai final, kami akan memenangi Liga Champions itu," ungkap Alba. Pengakuan ini menunjukkan betapa ia meresapi kegagalan tersebut dan bagaimana ia merasa punya andil besar dalam momen krusial tersebut.
Dampak kekalahan itu begitu besar hingga Alba membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk bisa kembali beraktivitas normal. Ia menggambarkan bahwa setelah tersingkir di Anfield, ia memerlukan waktu yang cukup lama untuk bisa keluar rumah. Momen tersebut menjadi periode yang sangat sulit, tidak hanya bagi dirinya secara pribadi, tetapi juga bagi seluruh klub.
Kisah Jordi Alba ini menjadi pengingat bahwa bahkan para atlet paling sukses sekalipun tidak kebal dari rasa kecewa dan keterpurukan. Kegagalan di Anfield menjadi bukti bahwa dalam sepak bola, segala sesuatu bisa terjadi, dan momen-momen pahit adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan karier seorang pesepak bola profesional. Pengalaman ini, meski menyakitkan, tentu telah membentuk karakter dan ketangguhan mental Alba dalam menghadapi tantangan-tantangan berikutnya. Ia telah membuktikan bahwa bangkit dari keterpurukan adalah sebuah kekuatan tersendiri.
This article was rewritten using AI technology based on information from sport.detik.com without altering the facts of the original article.






