Paparan bahan kimia berbahaya dalam rokok ternyata tak hanya mengancam paru-paru, tapi juga membawa risiko serius terhadap kesehatan mulut. Salah satu pihak yang menyoroti hal ini adalah drg. Deasy Rosalina, M.MedSc, seorang dokter gigi dari Rumah Sakit Universitas Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa para perokok aktif cenderung mengalami gangguan serius pada gigi dan jaringan penyangganya akibat kandungan zat karsinogenik yang terdapat dalam rokok.
“Pada kasus-kasus rokok, bisa terjadi. Tiba-tiba giginya goyang, padahal tidak ada lubang. Karena sudah sampai pada periodontitis tingkat lanjut yang tidak diobati, sehingga pelekatan antara gigi dengan tulang itu menjadi sangat jauh,” kata Deasy dalam diskusi kesehatan yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa.
Masalah yang sering dijumpai pada pengguna rokok adalah radang gusi serta copotnya gigi, dua kondisi yang merupakan bagian dari gangguan periodontal. Gangguan ini berawal dari peradangan ringan bernama gingivitis, yang biasanya ditandai dengan pembengkakan pada gusi serta mudahnya gusi berdarah saat menyikat gigi.
Apabila kondisi awal ini tidak segera ditangani, maka bisa berkembang menjadi periodontitis. Pada tahap ini, peradangan merusak struktur yang menjadi penopang gigi, termasuk tulang alveolar, sehingga gigi bisa goyah dan terlepas, bahkan tanpa adanya lubang akibat karies terlebih dahulu.
Selain itu, zat dalam rokok memicu terbentuknya lapisan keras pada gigi yang dikenal dengan istilah karang gigi atau kalkulus. Karang ini merupakan sisa plak yang mengalami pengerasan akibat interaksi dengan air liur yang mengering, dan bisa memicu penyusutan gusi atau resesi gingiva. Akibatnya, bagian akar gigi yang seharusnya tersembunyi menjadi terbuka dan menyebabkan gigi menjadi lebih sensitif terhadap suhu atau makanan tertentu.
“Ini yang meningkatkan sensitivitas gigi. Jadi, kadang orang perokok itu akan merasa, kok giginya jadi lebih panjang ya? Padahal bukan memanjang sebetulnya, tapi memang akar giginya itu terekspos atau terbuka karena adanya resesi gingiva,” kata Deasy.
Tak hanya mempengaruhi jaringan gusi dan gigi, rokok juga dapat menimbulkan perubahan warna pada bagian mulut. Gigi bisa tampak lebih kuning, dan ini bahkan bisa dialami oleh perokok pasif. Sementara itu, jaringan lunak seperti lidah dan gusi bisa berubah warna menjadi kehitaman, sebuah kondisi yang dikenal dengan istilah smoker’s melanosis, sebagai dampak dari akumulasi pigmen melanin akibat iritasi kronis.
Bahkan dalam beberapa kasus, mulut para perokok bisa menunjukkan gejala awal yang mengarah ke penyakit serius seperti kanker. Salah satu indikasinya adalah munculnya bercak putih di dalam rongga mulut yang dikenal sebagai lesi pra-kanker. Area yang kerap terdampak antara lain bagian dalam pipi, langit-langit mulut, serta lidah.
Jenis kanker yang mungkin timbul akibat kebiasaan merokok di antaranya adalah kanker bibir, kanker lidah, kanker pada langit-langit mulut, dan kanker gusi. Gejalanya pun bisa cukup mengganggu aktivitas sehari-hari, misalnya berupa sariawan yang menetap di beberapa area mulut, rasa sakit yang terus-menerus, serta kesulitan saat menelan.
Melihat dampak luas yang bisa ditimbulkan, penting bagi masyarakat, khususnya perokok aktif, untuk lebih waspada dan memeriksakan kesehatan gigi dan mulut secara rutin. Pemeriksaan dini dan kebiasaan hidup sehat menjadi kunci untuk mencegah kerusakan permanen yang bisa saja datang tanpa peringatan.






