Kampung Naga Pilih Tanpa Listrik di Tasikmalaya Jabar, Lebih Suka Ketenangan dari Kesenangan

Warga di Kampung Naga Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya memilih ketenangan dengan hidup tanpa listrik.

Apalah arti sebuah kesenangan jika tidak ada ketenangan. Sebab, senang belum tentu tenang. Itulah yang jadi pilihan warga. Tepatnya di Kampung Naga. Warga Pilih Tanpa Listrik di desa yang masuk kabupaten Tasikmalaya Jabar. Mereka pun lebih suka ketenangan dari kesenangan

Ya, Warga di Kampung Naga Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya memilih ketenangan ketimbang kesenangan dalam menjalani hidup. Supaya dapat merasakan ketenangan dari hiruk pikuk dunia. Warga menolak listrik masuk ke Kampung Naga.

Sebanyak 102 kepala keluarga dengan total 287 jiwa hidup tanpa listrik. Bisa membayangkan ya, hidup tanpa listrik di zaman semodern ini. Ketika dunia seolah dalam genggaman tangan dengan adanya kecanggihan gadget. Di Kampung Naga nihil peratalan elektronik. Keseharian warganya hidup tanpa teknologi kekinian.

Tanpa listrik, warga di Kampung Naga mengerjakan banyak hal secara tradisional. Ijad, warga setempat, mengajak ke kediamannya untuk melihat ketenangan hidup tanpa listrik di Kampung Naga.Rumah panggung sederhana terbuat dari bahan-bahan alam seperti kayu dan bambu. Rumah tidak seberapa luas hunian hanya satu kepala keluarga sesuai dengan aturan yang berlaku di Kampung Naga.

Di Kampung Naga untuk penerangan di malam hari menggunakan lampu minyak tanah. Kampung Naga merupakan penerima subsidi termurah minyak tanah dari pemerintah. Lantaran listrik tidak masuk ke Kampung Naga.Satu liter minyak tanah di Kampung Naga hanya Rp 5000. Satu lampu membutuhkan minyak tanah sekira setengah liter untuk menerangi gelap malam hingga pagi menjelang.

Warga Kampung Naga Pilih Ketenangan

Hidup tanpa listrik, warga di Kampung Naga menggunakan setrika kuno bahan bakar arang untuk menghaluskan pakaian kusut.Selanjutnya, di ruang dapur terdapat tungku kayu bakar untuk aktivitas memasak. Hidup tanpa listrik, warga menanak beras menjadi nasi secara manual. Sebelum menjadi beras, warga di Kampung Naga menumbuk gabah hasil panen dengan alat tradisional lesung dan alu. Terlihat seorang perempuan yang tidak muda lagi memukul-mukul gabah untuk memisahkan kulit dari beras. Keringat perempuan itu bercucuran diantara bunyi alu yang beradu dengan lesung.Listrik memang melenakan. Dari listrik bisa memperoleh banyak kesenangan dan kemudahan dalam hidup.

Namun, Ijad dan warga lainnya memiliki slogan bahwa apalah arti sebuah kesenangan jika tidak ada ketenangan. Sebab, senang belum tentu tenang.Warga di Kampung Naga telah merasakan ketenangan dalam kehidupan yang bersahaja tanpa listrik. Dari tanpa listrik itulah bahkan kesenjangan sosial terlibas. Antara kaya dan miskin tidak kentara. Contoh sederhana adalah di Kampung Naga tidak akan menemukan drama seorang warga pamer ponsel pintar keluaran terbaru dengan fitur paling unggul. (fij)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *