Delegasi dari Parlemen Semua Partai India baru-baru ini melangsungkan kunjungan resmi ke Indonesia, menggalang dukungan moral dan politik dalam upaya menumpas terorisme, terutama setelah insiden serangan yang mengguncang kawasan Pahalgam di Jammu dan Kashmir. Serangan ini memperparah ketegangan yang telah membara antara India dan Pakistan.
Delegasi tersebut dipimpin oleh Sanjay Kumar Jha, seorang anggota legislatif dari majelis tinggi India atau Rajya Sabha. Rombongan ini berada di Indonesia sejak 28 hingga 31 Mei, dan selama kunjungannya, mereka bertatap muka dengan sejumlah pejabat penting, anggota dewan legislatif, pimpinan partai-partai politik, serta kalangan intelektual dan akademisi.
Dalam sebuah forum media yang digelar di Jakarta pada hari Jumat, Sanjay Jha menyampaikan penghargaan yang mendalam atas sikap tegas Indonesia.
“Saya menyampaikan apresiasi tulus kami kepada Pemerintah Indonesia, khususnya Presiden Prabowo, atas pernyataan yang jelas dalam mengecam serangan teror di Pahelgam, serta atas solidaritas yang ditunjukkan kepada rakyat India,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa pernyataan Presiden Prabowo menyampaikan pesan yang kuat.
Presiden Prabowo, lanjutnya, menyatakan bahwa kekejaman semacam itu tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun, baik dari segi motif, waktu, tempat, maupun pelakunya — sebuah dukungan yang merupakan sumber kekuatan yang sangat berarti bagi India.
Menurut Jha, Indonesia tidak hanya secara terbuka mengutuk serangan teror di wilayah Pahalgam, tetapi juga dalam berbagai pertemuan menyampaikan empati dan penghargaan atas kebijakan keras India dalam menghadapi radikalisme. Sejarah kelam Indonesia sebagai korban teror juga menjadi alasan mengapa dukungan ini terasa sangat relevan.
“Kami merasa sangat didukung oleh tanggapan positif dan kerja sama dari Indonesia dalam mengecam aksi terorisme serta berkomitmen bersama untuk memberantasnya di tingkat regional dan internasional,” ujarnya.
Jha kemudian menjelaskan bahwa insiden kekerasan bersenjata yang mengguncang wilayah Jammu dan Kashmir dilakukan dengan niat jahat—ibarat api dalam sekam—bertujuan mengobarkan konflik horizontal antar masyarakat di India. Menurutnya, India sempat menunggu selama dua minggu pasca serangan pada 22 April, memberikan waktu bagi Pakistan untuk bertindak.
“Ketika tidak ada tindakan pada 7 Mei, India memutuskan untuk menargetkan infrastruktur teroris di Pakistan dan Kashmir yang diduduki Pakistan. Kelompok-kelompok teroris ini telah dilarang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sudah masuk dalam daftar terlarang PBB,” tegas Jha.
Ia menegaskan bahwa respons India dirancang secara berimbang, tidak membesar-besarkan situasi, namun tetap mengandung unsur pertanggungjawaban. Negara itu, jelasnya, tidak akan lagi memisahkan antara pelaku aksi kekerasan dan negara-negara yang memberikan naungan terhadap para ekstremis tersebut.
“Kami tidak akan menerima ancaman nuklir. Mereka yang melindungi dan mendukung teroris tidak dapat bersembunyi di balik apa yang disebut payung nuklir. Setiap insiden teror lebih lanjut akan dihadapi oleh India dengan tindakan militer yang tegas dan menentukan,” tambahnya.
Ketegangan antara dua negara bertetangga yang telah lama berseteru ini kembali membara usai peluncuran operasi militer India bertajuk Operasi Sindoor pada 7 Mei. Serangan udara tersebut ditujukan ke sembilan lokasi yang diklaim sebagai sarang kelompok bersenjata di wilayah Pakistan dan Kashmir yang dikuasai Islamabad.
Menurut pihak New Delhi, operasi itu berhasil menetralisasi 70 orang teroris dan tidak menargetkan fasilitas militer milik Pakistan. Namun, versi berbeda datang dari Islamabad yang menyebut lebih dari 30 orang sipil tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Sebagai bentuk pembalasan, Pakistan meluncurkan serangan balasan dengan menghantam 26 lokasi penting militer India, termasuk basis udara di wilayah Jammu dan Kashmir, serta beberapa titik strategis lainnya di dalam negeri India.
Bahkan, militer Pakistan mengklaim telah berhasil menembak jatuh beberapa pesawat tempur milik India, termasuk tiga jet tempur Rafale, satu unit MiG 29, dan satu pesawat Sukhoi, dalam konflik udara terbaru yang memanas di atas langit Asia Selatan.






