Dari Lereng Guizhou ke Pasar Dunia: Matcha China Raup Jutaan Dolar

Niam Beryl

Saat mentari pagi menembus kabut tipis yang menyelimuti lereng-lereng di Jiangkou, sebuah wilayah pegunungan di barat daya Provinsi Guizhou, para petani teh mulai mengisi hari mereka dengan memetik pucuk teh muda yang masih berwarna hijau pucat.

Aktivitas ini menjadi rutinitas yang sarat makna di tengah hamparan kebun teh yang seakan tak berujung.

Daun-daun teh yang baru dipetik itu kemudian menjalani serangkaian transformasi kompleks mulai dari dikukus, dijemur, disterilisasi, hingga digiling halus.

Hasil akhirnya adalah matcha berkualitas tinggi yang dikemas untuk memenuhi permintaan konsumen dari berbagai penjuru dunia.

Berlokasi di kaki Gunung Fanjing salah satu situs yang dilindungi UNESCO Jiangkou memiliki area perkebunan teh seluas lebih dari 10.000 hektare.

Sekitar 20 persen dari lahan ini secara khusus ditujukan untuk memproduksi matcha, menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat penghasil matcha utama di skala global.

Sepanjang tahun 2024, wilayah Jiangkou berhasil memasarkan lebih dari 1.200 ton matcha. Volume ini menjadi yang tertinggi di seluruh Tiongkok, dengan nilai ekonomi mencapai lebih dari 300 juta yuan atau sekitar 41,7 juta dolar AS.

Produk mereka telah merambah pasar ekspor, termasuk ke negara-negara dengan budaya teh kuat seperti Jepang, serta pasar besar seperti Amerika Serikat dan Prancis.

Transformasi Jiangkou dari daerah tertinggal menjadi penggerak ekonomi dimulai pada 2007, ketika teh dijadikan komoditas utama.

Keputusan ini tidak diambil sembarangan, mengingat kondisi geografis yang ideal: tanah tinggi dengan iklim lembap, paparan matahari yang terbatas, dan seringnya kabut menggantung lingkungan yang sangat cocok untuk pertumbuhan teh berkualitas.

Tonggak penting dalam perkembangan ini tercapai pada tahun 2017, kala Jiangkou menjalin kemitraan strategis dengan Guizhou Gui Tea Group Co., Ltd.

Perusahaan ini membawa pendekatan modern melalui teknologi canggih dan membangun kawasan produksi matcha berstandar tinggi di wilayah tersebut.

Model industri terintegrasi kemudian terbentuk, melibatkan petani setempat sebagai penanam teh, mitra usaha yang bertugas memproses awal hasil panen, serta Gui Tea Group yang mengelola tahap produksi akhir.

Kerja sama lintas sektor ini secara signifikan mendongkrak kesejahteraan hampir 100.000 petani teh di Jiangkou.

Dalam laporan resmi yang dirilis pada 2023 oleh sebuah lembaga riset di bawah Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China, disebutkan bahwa Tiongkok telah menduduki posisi teratas baik sebagai produsen maupun konsumen matcha terbesar di dunia.

Bukti pertumbuhan pasar ini dapat dilihat dari toko Guiyang yang melaporkan pendapatan melebihi 4 juta yuan pada 2024, mencatatkan kenaikan 122,2 persen dibanding tahun sebelumnya.

Luo Qixian, seorang warga lokal yang kini bekerja di kebun teh, mengungkapkan dampak perubahan tersebut terhadap hidupnya.

“Dulu, saya hanya bisa mencari nafkah dengan bercocok tanam. Kini saya memiliki pekerjaan tetap sepanjang tahun, dan penghasilan saya jauh lebih stabil,” katanya.

Melihat tren global yang semakin mengapresiasi matcha, Gui Tea Group pun mulai menjalin hubungan dengan ahli teh internasional untuk meningkatkan kualitas manajemen dan pengolahan.

Mereka bahkan mengirim teknisi dan petani lokal ke Jepang guna memperdalam keahlian melalui pelatihan dan pertukaran pengalaman.

“Sejak 2018, matcha kami dengan warna hijau yang cerah dan aroma yang kaya telah mendapatkan pengakuan baik di dalam maupun di luar negeri,” tutur Chen Xiaoming, Wakil Manajer Umum Gui Tea Group. Pada 2019, mereka berhasil mengamankan kontrak ekspor pertamanya ke Amerika Utara.

Sebagai minuman yang berakar dari peradaban Tiongkok kuno, matcha kemudian berkembang pesat di Jepang. Kini, produk matcha dari Jiangkou telah diekspor sebanyak empat ton ke Negeri Sakura, dan enam ton lagi tengah dipersiapkan untuk pengiriman.

“Kedatangan matcha China telah memungkinkan budaya teh dari kedua negara untuk berkembang melalui pertukaran dan saling belajar,” jelas Chen.

Gaya Hidup dan Budaya Matcha Menarik Generasi Muda

Sabtu sore (17/5), sebuah toko tematik di Guiyang yang menghadirkan pengalaman kuliner berbasis matcha dipenuhi pengunjung.

Di dalamnya, berbagai produk berbahan dasar matcha dipajang dengan menggoda dari minuman, es krim, hingga kue-kue mungil.

“Cokelat matcha dan es krim matcha adalah favorit saya. Keduanya sangat cocok dengan selera saya,” ujar Zheng Jin, seorang pelancong dari Beijing yang sengaja menyempatkan waktu untuk mengunjungi tempat ini.

Popularitas matcha di kalangan anak muda tidak hanya dilihat dari meningkatnya konsumsi, tetapi juga dari ketertarikan mereka pada latar belakang budaya yang melekat di balik secangkir matcha.

Di Tongren, sebuah destinasi wisata di Guizhou, pusat edukasi budaya matcha memperkenalkan pengunjung pada berbagai produk unik seperti mi matcha dan pelembap bibir berbahan dasar matcha. Tempat ini juga mengajarkan seni Diancha, metode penyajian teh tradisional.

“Selama periode liburan, lebih dari 80 persen pengunjung kami adalah anak muda, banyak yang berasal dari luar daerah,” ungkap Lu Qian, seorang pakar teh yang memandu pengalaman ini sembari menyiapkan matcha dengan alat pengocok bambu.

“Kami tidak hanya menjual produk, yang lebih penting, kami membuat lebih banyak orang sadar akan matcha dan budaya matcha,” tambahnya.

Also Read

Tags