Pelatih Tim Nasional Indonesia, John Herdman, tampaknya tengah merancang sebuah strategi ambisius yang berpotensi memecah fokus timnya menjadi dua entitas berbeda, guna menghadapi dua gelaran penting dengan bobot tantangan yang tak sama. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap jadwal padat dan kalender kompetisi yang berbeda, di mana FIFA Matchday Juni dan Piala AFF 2026 menjadi dua ujian krusial yang menanti Skuad Garuda.
Agenda terdekat yang akan dihadapi adalah FIFA Matchday pada bulan Juni, di mana Timnas Indonesia dijadwalkan bertarung melawan Oman dan Mozambik. Pertandingan ini menjadi ajang pemanasan dan evaluasi yang sangat penting, terutama dalam upaya meningkatkan peringkat FIFA dan mengukur kekuatan tim melawan tim-tim yang memiliki level berbeda. Selepas itu, perhatian akan beralih ke Piala AFF 2026, sebuah turnamen regional yang melibatkan negara-negara se-Asia Tenggara. Indonesia akan bersaing dalam grup yang cukup menantang bersama Vietnam, Singapura, Kamboja, dan Brunei Darussalam, yang akan dimulai pada akhir Agustus mendatang.
Menyikapi perbedaan level dan kalender kedua ajang tersebut, Herdman mengindikasikan perlunya pendekatan yang berbeda dalam penyusunan komposisi tim. Salah satu faktor penentu utama adalah ketersediaan para pemain yang merumput di Eropa. Herdman menjelaskan bahwa untuk pertandingan FIFA Matchday di bulan Juni, ia berencana untuk menurunkan kekuatan terbaik yang dimiliki, termasuk mengandalkan para pemain diaspora yang saat ini bermain di kompetisi Eropa. Kesiapan ini terlihat dari pemanggilan 44 nama pemain yang diproyeksikan untuk memperkuat timnas pada periode tersebut, menunjukkan betapa seriusnya Herdman mempersiapkan tim untuk agenda yang lebih tinggi prestise-nya.
Namun, situasinya diprediksi akan berbanding terbalik ketika Timnas Indonesia memasuki fase Piala AFF. Dalam turnamen regional ini, Herdman kemungkinan besar akan lebih banyak mengandalkan amunisi dari liga domestik. Alasannya adalah karena Piala AFF tidak termasuk dalam kalender resmi FIFA. Konsekuensinya, klub-klub Eropa umumnya enggan melepas pemain mereka, terutama yang memiliki status sebagai pemain kunci, untuk bergabung dengan tim nasional dalam kompetisi yang tidak diakui oleh federasi sepak bola dunia. Herdman sendiri mengakui bahwa kesempatan bagi para pemain Eropa untuk bergabung dalam Piala AFF mungkin ada, namun ia pesimistis klub-klub mereka akan memberikan izin.
"Peluang bagi pemain yang bermain di Eropa untuk hadir dan menjadi bagian dari tim itu ada, tetapi penting untuk dipahami bahwa klub-klub mereka kemungkinan besar tidak akan mengizinkannya," ujar Herdman, sebagaimana ia sampaikan dalam sebuah kesempatan di Stadion Madya, Senayan. Ia melanjutkan penjelasannya dengan membandingkan pengalamannya sebelumnya di zona CONCACAF, di mana aturan FIFA tetap menjadi acuan utama. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa fokus utama dalam Piala AFF akan diarahkan pada pemanfaatan talenta-talenta lokal. Keputusan ini juga didasari oleh visi jangka panjangnya, yaitu mencapai kualifikasi Piala Dunia dan tampil maksimal di AFC Asian Cup 2027.
"Kami akan mengandalkan para pemain yang bermain di dalam negeri, dan ini sangat krusial bagi saya. Mengapa demikian? Karena tujuan utama kita adalah Piala Dunia, dan target berikutnya adalah tampil baik di AFC 2027," tegas Herdman. Ia menambahkan bahwa kedua ajang ini, baik FIFA Matchday maupun Piala AFF, memiliki peran yang sangat vital dalam memetakan dan menentukan formasi ideal bagi Timnas Indonesia di masa depan. Oleh karena itu, ia sangat berharap setiap pemain yang mendapatkan kesempatan untuk berseragam Merah Putih dapat menampilkan performa terbaik mereka, tanpa terkecuali.
"Oleh karena itu, sangat penting bagi saya untuk dapat mengidentifikasi siapa saja pemain domestik terbaik yang kita miliki, dan juga siapa pemain terbaik yang bermain di Eropa. Hal ini akan memudahkan saya dalam menyusun skuad yang solid dan kompetitif untuk menghadapi AFC Asian Cup. Penting untuk dicatat bahwa pada bulan November, kami tidak akan lagi berada dalam periode seleksi terbuka. Saat inilah, setiap pemain memiliki kesempatan emas untuk menunjukkan kapasitas mereka dan meyakinkan saya bahwa mereka layak masuk dalam rencana jangka panjang timnas," pungkas Herdman, menutup penjelasannya mengenai strategi seleksi dan persiapan timnas di hadapan media. Dengan demikian, dualisme pendekatan ini menunjukkan betapa cermatnya Herdman dalam mengelola sumber daya pemain demi mencapai tujuan besar sepak bola Indonesia.






