Kepastian Arsenal menjuarai Liga Inggris musim ini, yang akhirnya terkonfirmasi menyusul hasil imbang Manchester City melawan Bournemouth, membuka sebuah diskusi menarik tentang performa The Gunners sepanjang musim. Di tengah euforia perayaan gelar, penting untuk menelisik lebih dalam catatan pertandingan mereka, terutama menghadapi tim-tim yang terbukti mampu meredam ambisi kemenangan anak asuh Mikel Arteta. Meskipun koleksi trofi liga sudah berada di tangan, ada tiga klub yang secara konsisten mampu merepotkan Arsenal, bahkan mencuri poin penuh dari mereka.
Musim 2025/2026 ini memang menjadi saksi bisu keberhasilan Arsenal mengakhiri dahaga gelar Liga Inggris. Perjalanan mereka di liga domestik, hingga pekan ke-37, mencatatkan 25 kemenangan, tujuh hasil imbang, dan lima kekalahan. Angka ini menunjukkan dominasi yang cukup signifikan, namun sorotan justru tertuju pada lima kekalahan tersebut, terutama kekalahan yang dialami dari tim-tim yang menjadi rival langsung dalam perburuan gelar atau tim yang memiliki rekam jejak kuat di liga. Manchester City, sebagai pesaing terdekat yang harus mengakui keunggulan Arsenal di akhir musim, ternyata mampu mengalahkan mereka di satu pertemuan. Begitu pula dengan Liverpool, tim lain yang selalu menjadi penantang kuat, juga berhasil menaklukkan Arsenal. Tak berhenti di situ, bahkan tim kuda hitam seperti Aston Villa dan Bournemouth pun mampu memberikan kekalahan kepada Arsenal, yang semakin memperkaya narasi tentang ketatnya persaingan di Premier League.
Kekalahan pertama Arsenal di musim ini datang dari tangan Manchester United. Meski tak secara spesifik disebutkan kapan dan di mana kekalahan tersebut terjadi, fakta ini menjadi catatan penting. Manchester United, yang mungkin mengalami pasang surut performa, terbukti mampu menemukan celah untuk mengungguli Arsenal. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada tim yang sepenuhnya superior di setiap pertandingan, dan setiap laga harus dihadapi dengan konsentrasi penuh.
Selanjutnya, Liverpool menjadi salah satu tim yang mampu memberikan kesulitan berarti bagi Arsenal. Dalam dua pertemuan di liga, The Reds berhasil merengkuh kemenangan di kandang mereka, Anfield, dengan skor tipis 1-0 pada akhir Agustus 2025. Namun, di pertemuan kedua yang digelar di Emirates Stadium pada awal Januari 2026, Arsenal hanya mampu bermain imbang tanpa gol melawan Liverpool. Hasil imbang ini, meski bukan kekalahan, tetap menjadi sinyal bahwa Liverpool mampu meredam daya serang Arsenal dan menjaga gawang mereka tetap perawan. Kualitas individu dan kolektif Liverpool, terutama dalam lini tengah dan pertahanan, terbukti mampu menahan gelombang serangan Arsenal.
Manchester City, sebagai tim yang secara matematis menjadi pesaing utama hingga akhir musim, juga mencatatkan kemenangan atas Arsenal. Dalam pertemuan pertama pada 21 September 2025 di Emirates Stadium, kedua tim harus puas dengan hasil imbang 1-1. Namun, di pertemuan kedua yang berlangsung di markas City, Etihad Stadium, pada 19 April 2026, The Citizens berhasil membalikkan keadaan dan menang 2-1. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Arsenal, mengingat status City sebagai pesaing langsung dalam perebutan gelar. Pertandingan tersebut menunjukkan kedalaman skuad dan strategi jitu yang diterapkan oleh Pep Guardiola, yang mampu memanfaatkan setiap peluang untuk mengamankan tiga poin krusial.
Selain ketiga tim tersebut, dua kekalahan lain yang dialami Arsenal berasal dari Aston Villa dan Bournemouth. Aston Villa, yang di bawah kendali Unai Emery menunjukkan peningkatan performa yang signifikan, berhasil mengalahkan Arsenal. Detail mengenai pertandingan ini tidak disebutkan secara rinci, namun fakta bahwa Villa mampu meraih kemenangan menegaskan bahwa tim-tim lain di Liga Inggris juga memiliki kapasitas untuk memberikan kejutan. Demikian pula dengan Bournemouth, yang berhasil mengalahkan Arsenal. Meskipun City hanya mampu bermain imbang melawan Bournemouth di laga yang menentukan gelar Arsenal, fakta bahwa Bournemouth mampu menaklukkan Arsenal di pertandingan sebelumnya menunjukkan bahwa mereka bukanlah lawan yang bisa dianggap remeh.
Perlu dicatat bahwa narasi tentang "dua tim yang tak bisa ditaklukkan" dalam judul artikel sumber tampaknya tidak sepenuhnya akurat jika merujuk pada catatan keseluruhan Arsenal di musim ini. Berdasarkan data yang tersedia, setidaknya ada tiga tim yang berhasil mengalahkan Arsenal: Manchester United, Liverpool, dan Manchester City. Ditambah lagi dengan Aston Villa dan Bournemouth yang juga mampu mencuri poin penuh. Hal ini justru memperkuat argumen bahwa Liga Inggris musim ini sangat kompetitif, dan gelar juara diraih bukan tanpa perjuangan keras dan juga catatan kekalahan yang perlu dievaluasi.
Pencapaian Arsenal sebagai juara Liga Inggris musim ini tentu patut diapresiasi setinggi-tingginya. Namun, analisis mendalam terhadap kekalahan-kekalahan yang mereka alami memberikan perspektif yang lebih luas. Kekalahan dari Liverpool dan Manchester City, khususnya, menyoroti bahwa meskipun menjadi tim terbaik di liga, masih ada ruang untuk perbaikan. Pertemuan-pertemuan tersebut menjadi pembelajaran berharga bagi Mikel Arteta dan timnya untuk mengidentifikasi kelemahan dan strategi yang perlu diperkuat di masa mendatang. Kemenangan di liga tidak selalu berarti kesempurnaan absolut, melainkan kemampuan untuk bangkit dari kekalahan dan terus menunjukkan performa konsisten di sebagian besar pertandingan.
Analisis kekalahan dari tim-tim seperti Manchester United, Aston Villa, dan Bournemouth juga memberikan gambaran tentang dinamika persaingan di Liga Inggris. Tim-tim yang mungkin dianggap sebagai underdog memiliki kapasitas untuk memberikan kejutan dan mengalahkan tim-tim besar. Hal ini menegaskan bahwa setiap pertandingan adalah final bagi setiap tim, dan tidak ada satu pun pertandingan yang bisa dianggap remeh.
Secara keseluruhan, meski mahkota juara Liga Inggris telah bertengger di Emirates Stadium, catatan kekalahan Arsenal dari beberapa tim menjadi pengingat penting. Ini bukan tentang meredupkan pencapaian mereka, melainkan untuk memberikan apresiasi yang lebih utuh terhadap perjalanan mereka yang penuh liku. Kemenangan Arsenal adalah bukti ketahanan, kedalaman skuad, dan kepemimpinan taktis yang brilian, namun kekalahan yang mereka alami menjadi bahan evaluasi yang konstruktif untuk memastikan dominasi mereka dapat berlanjut di musim-musim mendatang.






