BYD M6 DM: Mesin Canggih, Pertanyaan Bahan Bakar Terjawab

Ricky Bastian

PT BYD Motor Indonesia baru saja memperkenalkan sebuah terobosan dalam segmen kendaraan ramah lingkungan, yaitu BYD M6 DM, sebuah mobil yang mengintegrasikan teknologi plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). Kendaraan ini memadukan keunggulan mesin pembakaran dalam konvensional dengan daya dorong dari baterai dan motor listrik. Salah satu aspek teknis yang patut dicermati dari BYD M6 DM adalah tingkat rasio kompresi mesinnya yang sangat tinggi, mencapai 16:1. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan di benak konsumen mengenai jenis bahan bakar bensin dengan angka Research Octane Number (RON) berapa yang paling ideal untuk mendukung performa optimal mesin berteknologi canggih ini.

Menjawab rasa penasaran publik, Bobby Bharata, yang menjabat sebagai Head of Product di PT BYD Motor Indonesia, memberikan klarifikasi yang lugas. Menurutnya, BYD M6 DM secara umum masih dapat mengonsumsi bahan bakar bensin dengan RON 92. Ini berarti, para pemilik mobil hybrid ini tidak perlu khawatir dalam mencari bahan bakar khusus yang langka, melainkan dapat memanfaatkan opsi yang sudah umum tersedia di pasaran. Pertamina Pertamax, Vivo Revvo 92, maupun BP 92 merupakan beberapa contoh produk bahan bakar dengan oktan 92 yang dipastikan kompatibel dengan mesin BYD M6 DM. Bobby Bharata lebih lanjut menegaskan bahwa rekomendasi penggunaan RON 92 ini akan tertera secara default pada informasi yang tersemat di dalam kendaraan itu sendiri, sehingga memudahkan pengguna dalam melakukan pengecekan.

Teknologi yang diusung oleh BYD M6 DM adalah sistem DM, yang merupakan singkatan dari Dual Mode. Konsep ini bukan merupakan hal yang baru bagi BYD, karena teknologi DM pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan ini pada tahun 2008 melalui model BYD F3 DM. Konsep Dual Mode ini pada dasarnya adalah sebuah sistem hibrida yang mengombinasikan kemampuan kendaraan listrik murni (EV) dengan sistem hibrida konvensional. Tujuannya adalah untuk menciptakan sebuah solusi mobilitas yang komprehensif, mampu menjawab berbagai kebutuhan mobilitas sehari-hari tanpa menimbulkan kekhawatiran terkait keterbatasan jarak tempuh. Pendekatan utama dari teknologi DM ini adalah berbasis pada penggunaan tenaga listrik, namun tetap memiliki kapabilitas untuk beralih ke mode hibrida ketika dibutuhkan.

Berbeda dengan pendekatan pada kendaraan konvensional yang menjadikan mesin bensin sebagai tulang punggung utama dalam menghasilkan tenaga penggerak, sistem DM pada BYD M6 DM memiliki filosofi yang sedikit berbeda. Dalam sistem ini, penggerak listrik justru diprioritaskan sebagai sumber tenaga utama. Mesin pembakaran dalam yang tersemat di dalamnya berperan lebih sebagai komponen pendukung. Fungsinya tidak hanya sebatas memberikan tenaga tambahan saat diperlukan, tetapi yang lebih krusial adalah sebagai generator untuk menghasilkan energi listrik yang akan disimpan dalam baterai atau langsung disalurkan ke motor listrik. Peran ganda ini memungkinkan mesin untuk beroperasi pada titik efisiensi yang optimal, sekaligus menjaga suplai daya listrik yang dibutuhkan oleh motor penggerak. Pendekatan ini secara inheren meningkatkan efisiensi bahan bakar secara keseluruhan.

Lebih lanjut, untuk memberikan gambaran mengenai kapabilitas teknis BYD M6 DM, berdasarkan spesifikasi yang dirilis, mobil ini dibekali dengan mesin berkapasitas 1.5 liter. Mesin ini mampu menghasilkan tenaga puncak sebesar 72 kilowatt atau setara dengan 96,5 daya kuda (dk), dengan nilai torsi mencapai 125 Newton meter (Nm). Selain mesin bensin, terdapat pula motor EHS 5.0 yang memiliki kemampuan berputar hingga 15.000 rpm. Kombinasi kedua sumber tenaga ini menghasilkan performa yang impresif, bahkan diklaim mampu mencatatkan efisiensi konsumsi bahan bakar yang luar biasa, dengan angka rata-rata mencapai 65 kilometer per liter. Angka ini tentu sangat menarik bagi konsumen yang mencari kendaraan hemat energi tanpa mengorbankan performa dan kepraktisan.

Rasio kompresi mesin yang tinggi, seperti 16:1 pada BYD M6 DM, secara teoritis memang membutuhkan bahan bakar dengan oktan yang lebih tinggi untuk mencegah fenomena knocking atau detonasi dini yang dapat merusak mesin. Namun, dengan kemajuan teknologi mesin modern dan sistem manajemen mesin yang canggih, produsen dapat mengoptimalkan pembakaran bahkan pada mesin dengan rasio kompresi tinggi menggunakan bahan bakar yang relatif umum. Sistem kontrol mesin pada BYD M6 DM kemungkinan besar dirancang untuk menyesuaikan timing pengapian dan parameter lain secara dinamis berdasarkan kualitas bahan bakar yang terdeteksi, sehingga tetap menjaga performa dan keawetan mesin meskipun menggunakan RON 92. Oleh karena itu, rekomendasi resmi dari BYD Motor Indonesia untuk menggunakan RON 92 merupakan indikator kuat bahwa teknologi yang diterapkan pada M6 DM telah mampu mengakomodasi kebutuhan tersebut. Hal ini menjadi kabar baik bagi konsumen yang ingin beralih ke kendaraan PHEV tanpa dibebani oleh keharusan mencari bahan bakar dengan oktan super tinggi yang terkadang sulit ditemukan atau lebih mahal.

Also Read

Tags