Piala Dunia 2026 bukan hanya tentang pertarungan tim nasional dan bintang-bintang muda yang bersinar. Bagi sebagian pemain, turnamen akbar ini bisa menjadi panggung terakhir untuk mengukir sejarah pribadi. Salah satu nama yang santer diperbincangkan adalah striker veteran Timnas Qatar, Sebastian Soria. Jika namanya resmi masuk dalam daftar skuad final, ia berpotensi menorehkan sebuah rekor yang telah bertahan selama puluhan tahun, yaitu rekor pemain non-kiper tertua yang pernah berlaga di Piala Dunia.
Rekor impresif yang dipegang oleh legenda Kamerun, Roger Milla, saat ini berdiri kokoh. Milla mencatatkan dirinya sebagai pemain non-kiper tertua yang tampil di edisi 1994, pada usia yang tak tanggung-tanggung, 42 tahun 39 hari. Meskipun demikian, rekor pemain tertua secara keseluruhan masih dipegang oleh kiper legendaris Mesir, Essam El Hadary, yang tampil di Piala Dunia 2018 pada usia 45 tahun 161 hari. Kini, rekor Milla yang telah bertahan selama 32 tahun itu terancam oleh kehadiran Sebastian Soria.
Peluang Soria untuk menorehkan sejarah semakin terbuka lebar setelah namanya masuk dalam daftar 34 pemain provosional yang dipanggil oleh pelatih Timnas Qatar, Julen Lopetegui. Proses seleksi masih panjang, di mana Lopetegui akan memangkas jumlah tersebut menjadi 26 pemain untuk didaftarkan secara resmi ke ajang Piala Dunia 2026. Kehadiran Soria dalam skuad provosional ini bukanlah tanpa alasan. Pengalamannya yang matang dan kontribusinya yang tak terbantahkan bagi tim nasional Qatar menjadi pertimbangan utama.
Perlu dicatat bahwa Soria terakhir kali membela panji "Al Anabi" – julukan Timnas Qatar – pada bulan Oktober lalu. Kala itu, ia turut berkontribusi dalam kemenangan 2-1 atas Uni Emirat Arab, sebuah hasil krusial yang memastikan langkah Qatar ke putaran final Piala Dunia 2026. Momen tersebut tampaknya menjadi sumber motivasi tersendiri bagi Soria. Ia sempat mengungkapkan rasa bangga dan harunya melalui akun Instagram pribadinya, menyatakan betapa terhormatnya ia bisa kembali mengenakan seragam kebanggaan negaranya dan membela tanah air tercinta. Ungkapan tersebut mencerminkan dedikasi dan kecintaannya yang mendalam terhadap sepak bola dan negara yang telah memberinya kesempatan.
Perjalanan karier Sebastian Soria di kancah sepak bola internasional penuh warna dan lika-liku. Ia lahir di Paysandu, Uruguay, pada tanggal 8 November 1983. Sejak tahun 2004, Qatar telah menjadi rumah kedua bagi Soria, di mana ia memulai karier profesionalnya bersama klub Al Gharafa. Keputusannya untuk dinaturalisasi sebagai warga negara Qatar pada tahun yang sama membuka babak baru dalam perjalanan sepak bolanya. Ia sempat mengharumkan nama Qatar di ajang Asian Games 2006, sebelum akhirnya melakukan debutnya di tim senior pada tahun 2007.
Sejak debutnya di timnas senior, Soria telah mengukir sejarah panjang dengan mengenakan seragam kebesaran Qatar sebanyak 124 kali. Dalam kurun waktu tersebut, ia berhasil mencetak 34 gol, sebuah catatan yang mengesankan bagi seorang striker. Selama bertahun-tahun, Soria telah membela tujuh klub yang berbeda, menunjukkan loyalitas dan komitmennya terhadap dunia sepak bola. Saat ini, ia masih aktif bermain untuk klub Qatar SC, membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang baginya untuk terus berkontribusi di lapangan hijau.
Bagi Qatar, tampil di Piala Dunia 2026 akan menjadi kesempatan berharga untuk mengukur kekuatan mereka di kancah global. Timnas Qatar sendiri tergabung dalam Grup B bersama beberapa tim tangguh. Mereka akan menghadapi tuan rumah bersama, Kanada, tim Eropa yang kuat, Swiss, dan Bosnia Herzegovina. Persaingan di grup ini diprediksi akan sangat ketat, dan kehadiran pemain berpengalaman seperti Soria dapat memberikan suntikan moral dan stabilitas bagi tim.
Lebih dari sekadar upaya memecahkan rekor, kehadiran Soria di Piala Dunia 2026 akan menjadi simbol ketekunan, semangat juang, dan dedikasi yang tak kenal usia. Ia membuktikan bahwa dengan disiplin, kerja keras, dan kecintaan pada permainan, seorang atlet dapat terus bersaing di level tertinggi, bahkan ketika usianya telah melampaui usia pensiun kebanyakan pemain profesional. Kisah Sebastian Soria ini menjadi inspirasi bagi para pesepak bola muda di seluruh dunia, menunjukkan bahwa mimpi bisa diraih terlepas dari batasan usia.
Rekor Roger Milla memang legendaris, namun dalam dunia olahraga, rekor selalu terbuka untuk dipecahkan. Apakah Sebastian Soria akan menjadi orang yang mencatat namanya dalam sejarah sebagai pemain non-kiper tertua yang berlaga di Piala Dunia, ataukah rekor Milla akan tetap tak tergoyahkan? Jawabannya akan terungkap di lapangan hijau Piala Dunia 2026. Namun, terlepas dari hasil akhirnya, perjuangan Soria untuk mencapai titik ini patut mendapatkan apresiasi dan pengakuan. Ia telah mengukir jalannya sendiri dalam buku sejarah sepak bola Qatar, dan berpotensi menambahkan babak baru yang tak kalah menarik di panggung dunia. Kehadirannya di Qatar nanti akan menjadi saksi bisu bahwa semangat pantang menyerah adalah kunci untuk meraih prestasi tertinggi, bahkan di usia yang tidak lagi muda.






