Perdebatan mengenai format kompetisi sepak bola Indonesia kembali mengemuka, kali ini disuarakan oleh pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares. Usai pertandingan antara timnya melawan Persis Solo yang berakhir imbang pada Sabtu (9/5/2026), Tavares melontarkan pandangannya tentang perlunya sebuah kompetisi piala domestik untuk meredakan ketegangan yang kerap mewarnai perebutan gelar juara dan upaya menghindari jurang degradasi.
Tavares, yang dikenal sebagai pelatih dengan pemikiran taktis mendalam, mengamati bahwa ketiadaan turnamen piala di kancah domestik menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan intensitas dan drama dalam setiap musim liga. Ia berpendapat bahwa dengan hanya menyisakan satu tiket juara dan tiga jatah degradasi, persaingan menjadi begitu mencekam, memicu berbagai situasi yang kerap berakhir dengan ketegangan dan drama yang tak perlu.
"Seperti yang Anda ketahui, saya memegang kendali tim Persebaya," ujar Tavares dalam sesi konferensi pers pasca-pertandingan, yang juga dihadiri oleh awak media BolaSport.com. Ketika disinggung mengenai posisi Persis Solo yang semakin terancam degradasi akibat hasil imbang tersebut, Tavares menunjukkan sikap sportif. "Saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Persis Solo, bagi para pemain dan staf pelatih mereka, semoga sukses di sisa pertandingan," tuturnya.
Namun, ia kemudian mengalihkan fokus pada struktur kompetisi itu sendiri. Tavares menggarisbawahi bahwa minimnya kompetisi tambahan membuat seluruh perhatian tertuju pada dua ekstrem: meraih mahkota juara atau berjuang keras untuk bertahan di kasta tertinggi. Kondisi ini, menurutnya, secara inheren menciptakan tekanan yang luar biasa, baik bagi tim-tim papan atas maupun tim-tim yang berada di zona merah klasemen.
"Saat ini, Liga Indonesia memang diwarnai banyak drama. Ini terjadi karena hanya ada satu tim yang bisa merengkuh gelar juara, sementara tiga tim lainnya harus rela terdegradasi," jelas pelatih asal Portugal itu. Ia menambahkan bahwa dengan tidak adanya kompetisi piala, seperti yang umum diterapkan di banyak negara lain, seluruh energi dan fokus tim serta para pemangku kepentingan tercurah pada dua tujuan tersebut.
Tavares berargumen bahwa kehadiran piala domestik dapat menjadi alternatif kompetisi yang menarik, tidak hanya bagi para pemain dan pelatih, tetapi juga bagi para penggemar sepak bola. Turnamen semacam itu bisa memberikan kesempatan bagi tim-tim yang mungkin tidak memiliki kapasitas untuk bersaing di liga sepanjang musim, namun memiliki potensi untuk meraih trofi dalam format yang lebih singkat dan intens. Selain itu, piala domestik juga dapat membuka jalan bagi klub-klub yang bermain di divisi yang lebih rendah untuk berpartisipasi, menciptakan iklim kompetisi yang lebih merata dan inklusif.
Lebih lanjut, Tavares memaparkan bahwa kompetisi piala domestik berpotensi mengurangi beban mental dan fisik yang harus dihadapi oleh tim-tim dalam mengarungi liga. Dengan adanya target tambahan selain juara liga dan menghindari degradasi, tekanan dapat terdistribusi. Tim yang tidak lagi memiliki peluang juara liga, misalnya, masih bisa mengalihkan fokus untuk meraih gelar piala, yang tentunya akan memberikan suntikan moral dan motivasi tambahan.
"Jika kita memiliki kompetisi piala, itu akan memberikan dimensi lain pada musim ini. Tim-tim bisa memiliki tujuan yang berbeda, dan ini bisa mengurangi fokus tunggal pada juara liga dan degradasi," ujar Tavares. Ia menyarankan agar para pembuat kebijakan di sepak bola Indonesia dapat mempertimbangkan opsi ini sebagai langkah strategis untuk pengembangan kompetisi yang lebih sehat dan menarik.
Pendapat Tavares ini bukan tanpa dasar. Di banyak negara maju sepak bola, kompetisi piala domestik menjadi salah satu elemen penting yang menambah warna dan daya tarik liga. Piala FA di Inggris, Copa del Rey di Spanyol, atau DFB-Pokal di Jerman, misalnya, bukan hanya sekadar turnamen tambahan, tetapi juga memiliki sejarah dan gengsi tersendiri. Keterlibatan tim-tim dari berbagai kasta dalam turnamen ini seringkali melahirkan kejutan dan cerita-cerita heroik yang kemudian menjadi legenda tersendiri.
Implementasi piala domestik di Indonesia, menurut Tavares, dapat memfasilitasi persaingan yang lebih berjenjang dan memberikan pengalaman berharga bagi tim-tim yang belum memiliki kekuatan merata dengan tim-tim besar. Ini juga bisa menjadi ajang pembuktian bagi pemain muda atau pemain yang jarang mendapat kesempatan bermain di liga utama.
"Dengan adanya piala, kita bisa melihat bagaimana tim-tim yang mungkin tidak begitu menonjol di liga, bisa menunjukkan taringnya di kompetisi yang berbeda format. Ini akan sangat bagus untuk perkembangan sepak bola kita secara keseluruhan," tambah Tavares. Ia berharap agar PSSI dan operator liga dapat meninjau kembali struktur kompetisi yang ada dan mempertimbangkan usulan untuk menciptakan piala domestik yang dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi sepak bola Indonesia.
Lebih jauh lagi, Tavares menyiratkan bahwa drama yang terjadi di akhir musim, seperti perebutan poin yang sangat ketat antara tim-tim papan bawah untuk menghindari degradasi, bisa sedikit tereduksi jika ada alternatif kompetisi yang dapat menjadi pelampiasan ambisi. Ketika semua fokus tertuju pada satu atau dua tujuan utama, maka setiap poin yang didapat atau hilang akan terasa sangat krusial, memicu intensitas yang terkadang berujung pada kontroversi atau tindakan yang kurang sportif.
Dengan adanya piala domestik, tekanan untuk memenangkan setiap pertandingan liga dapat sedikit diredakan. Tim yang merasa aman dari degradasi namun tidak memiliki kans juara liga, misalnya, bisa saja mengalihkan fokus untuk meraih trofi piala. Hal ini dapat membuat pertandingan-pertandingan liga menjadi lebih menarik karena tim-tim memiliki motivasi yang beragam, tidak hanya terpaku pada dua tujuan ekstrem yang saat ini mendominasi.
Pada akhirnya, pandangan Bernardo Tavares adalah sebuah kritik konstruktif yang dilontarkan demi kemajuan sepak bola Indonesia. Ia melihat potensi besar dalam mengubah dinamika kompetisi liga agar tidak hanya dipenuhi dengan ketegangan perebutan gelar dan perjuangan menghindari degradasi, melainkan juga diwarnai oleh semangat kompetisi yang lebih luas melalui penyelenggaraan piala domestik.






