Menparekraf Luncurkan Gen Matic, Pelatihan Kreatif Digital untuk Talenta Muda

Niam Beryl

Langkah strategis kembali diambil oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk memperkuat daya saing anak muda di tengah arus deras transformasi digital. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, meresmikan program pelatihan bertajuk Generasi Melek Teknologi atau disingkat Gen Matic di Bali, yang ditujukan khusus bagi talenta muda.

Kegiatan ini menjadi perwujudan nyata komitmen pemerintah dalam mencetak individu-individu kreatif yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi serta memiliki keahlian di bidang ekonomi kreatif. Melalui pelatihan ini, generasi muda didorong agar tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, namun juga pencipta konten yang bernilai secara ekonomi.

“Program ini hadir untuk mengakselerasi kapasitas para pelaku muda agar bisa mengembangkan potensi sesuai minatnya terutama kreator konten serta menghasilkan karya bernilai ekonomi,” kata Menteri Riefky dalam keterangan pers yang diterima, Minggu.

Gen Matic merupakan evolusi dari inisiatif terdahulu bernama Emak-Emak Matic, yang menyasar kaum ibu sebagai peserta utama dalam pelatihan literasi digital. Kini, dengan mengusung semangat inklusi dan perluasan cakupan, Kemenparekraf menyasar kalangan muda berusia 17 hingga 35 tahun—usia emas yang kerap diidentikkan dengan fase produktif dan penuh ide segar.

Dalam pelatihan ini, peserta tidak hanya dibekali keterampilan teknis seperti cara produksi konten digital atau penggunaan platform teknologi terkini, tetapi juga dimatangkan secara mental dan sosial sebagai pelaku wirausaha. Seperti halnya tukang kayu yang tidak hanya membutuhkan palu, tetapi juga rencana bangunan, peserta juga dipandu membangun jejaring, memahami dinamika pasar, hingga memiliki semangat inovasi yang kuat.

Tidak hanya itu, pendekatan pelatihan dilakukan secara menyeluruh, melibatkan pakar-pakar terkemuka dari industri digital tanah air. Beberapa di antaranya ialah Agusleo Halim dari Lynk.ID, Muri Handayani dari SBO, dan Nurdin dari NRHOUSE. Kehadiran para praktisi ini menjadi nilai tambah karena ilmu yang disampaikan langsung berasal dari pengalaman nyata di lapangan.

Riefky menaruh harapan besar pada keberlanjutan program ini. Ia ingin agar lulusan Gen Matic mampu bersaing tidak hanya dalam popularitas, tetapi juga dalam menghasilkan manfaat ekonomi, khususnya dengan menjadikan kearifan lokal Bali sebagai inspirasi utama dalam proses kreatif mereka.

“Kami mengharapkan para peserta dapat menjadi kreator yang bukan hanya populer tetapi dapat memiliki nilai tambah ekonomi membawa manfaat dengan menggunakan keunikan dan kreativitas Bali sebagai inspirasi konten yang telah relevan dengan pasar,” kata Riefky.

Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang tangguh dan inklusif. Gen Matic diharapkan menjadi mesin penggerak baru dalam menciptakan peluang kerja yang tidak hanya bersifat sementara, tetapi berkelanjutan dan berkualitas.

Dukungan terhadap pelatihan ini juga datang dari Bank Indonesia. Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Butet Linda Pandjaitan, memberikan apresiasi terhadap Gen Matic dan menyampaikan pandangannya terkait perkembangan signifikan sektor ekonomi kreatif di daerah tersebut.

“Subsektor kuliner, kriya, dan fesyen menjadi penyumbang utama perkembangan ini,” kata Butet Linda.

Pada tahun 2024, Bali mencatat adanya 7.927 unit usaha ekonomi kreatif, sebuah lonjakan 59 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa ekonomi berbasis ide dan inovasi tengah tumbuh subur di Pulau Dewata.

Dengan kombinasi dukungan kebijakan, pelatihan berbasis praktik, dan partisipasi aktif masyarakat, Gen Matic diyakini akan menjadi jembatan bagi generasi muda untuk menyeberang dari dunia konsumsi digital ke arah produksi kreatif yang menghasilkan nilai tambah.

Also Read

Tags